Di Angkringan, Demokrasi Tumbuh Subur

Saya adalah seorang mahasiswa program studi Jurnalistik, Unpad yang tertarik pada bidang kepenulisan.
Konten dari Pengguna
29 April 2022 10:16
·
waktu baca 4 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Rama Paramahamsa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di Angkringan, Demokrasi Tumbuh Subur (154531)
zoom-in-whitePerbesar
Angkringan di Pesta Rakyat Istimewa Foto: Deanda Dewindaru/kumparan
ADVERTISEMENT

Aku lebih senang pemuda yang merokok dan minum kopi sambil diskusi tentang bangsa ini, daripada pemuda kutu buku yang memikirkan diri sendiri

-Soekarno

ADVERTISEMENT
Pisau Guillotine itu mengkilap dan berdiri gagah di tengah gerombolan masyarakat Prancis. Louis XVI berjalan di tengah hiruk-pikuk masyarakat Prancis dengan segala kata caci maki mereka. Ia berjalan perlahan menaiki anak tangga terakhir dalam hidupnya. Di panggung besar, ia disoraki oleh masyarakatnya sendiri, yang dahulu mencintainya.
Beberapa saat kemudian, kepala Louis XVI telah berada tepat di bawah pisau Guillotine, pada kayu yang menyangga lehernya, ia terdiam. Masyarakat Prancis tetap sorak ramai mencaci rajanya. Beberapa detik kemudian, Pisau Guillotine menyelesaikan tugasnya. Pisau yang disangga oleh kayu tinggi tersebut telah berhasil menyelesaikan tugasnya dengan sempurna. Salah seorang petugas mengambil kepala Louis XVI sembari menunjukkannya kepada para kerumunan. Sekejap, masyarakat berteriak dengan lantang “Vive la Nation! Vive la République!"
ADVERTISEMENT
Tidak ada bukti yang akurat yang dapat menjelaskan apakah hal tersebut benar adanya. Namun, kisah pemenggalan Raja Louis XVI telah menyebar luas, salah satunya dimuat dalam buku Holy Blood, Holy Grail karya Michael Baigent, Richard Leigh, dan Henry Lincoln.
Revolusi Prancis yang terjadi dan pemenggalan Raja Louis XVI dan Ratu Antoinette tidak dapat dilepaskan dari gerakan-gerakan yang dilakukan oleh masyarakat yang menghendaki revolusi terjadi. Kedai kopi-kedai kopi di Prancis menjadi saksinya.
Beberapa waktu sebelumnya, kedai kopi di Kota Prancis riuh sesak dengan semangat masyarakat Prancis. Kopi hitam pekat dengan uap yang mengembara keluar menjadi saksi bisu semangat masyarakat yang mengatakan bahwa "Revolusi Prancis" harus segera dilaksanakan.
Beberapa tokoh penting Prancis memang kerap melakukan diskusi-diskusi mereka di kedai kopi, seperti Voltaire yang dapat menghabiskan 40 gelas kopi dalam sehari sembari melakukan diskusi. Bahkan, di Inggris atau sebagian besar Eropa, kedai kopi disebut sebagai Penny University karena hanya membutuhkan 5 penny untuk dapat berdiskusi di berbagai kedai kopi.
ADVERTISEMENT

Angkringan dan Demokrasi di Indonesia

Di Angkringan, Demokrasi Tumbuh Subur (154532)
zoom-in-whitePerbesar
Suasana Angkringan Budaya, Jatinangor pada Jumat, (01/04). Foto: rama paramahamsa
Hujan baru saja pergi beberapa menit yang lalu. Jalanan dan trotoar masih basah akibat dicumbu hujan yang tidak terlalu deras. Tetapi di tengah itu semua pada malam-malam itu, di sebelah kiri Jalan Caringin menuju Jalan Raya Jatinangor, warung dengan tenda seadanya berdiri hangat.
Angkringan Budaya, namanya. Begitu setidaknya tulisan yang tercetak pada banner angkringan tersebut. Lampunya kuning menerangi segala hal di bawahnya. Berbagai macam gorengan dan sate disimpan dengan apik di dalam bungkus plastik bening, lengkap dengan 3 teko yang siap menerima panas arang di bawahnya. Meja sebesar 1 x 3 meter tersebut segera memeluk seluruh pelanggan untuk bercengkrama. Hanya enam orang, kami segera berbicara akrab tentang apa pun.
ADVERTISEMENT
Teh manis hangat menjadi hidangan utama. Wajar, hujan baru saja berlalu. Udara dingin masih saja menelisik masuk ke tengkuk kami.
“(Kalau) Saya jadi Jokowi kenapa UMKM angkringan nggak di support, ya? Daripada bisnis pisang coklat yang berapa miliar itu?” ucap Mang Cepak, pria yang lebih memilih dipanggil begitu karena rambutnya mirip potongan tentara, kepada empat mata yang berjarak 1 meter di hadapannya, pada Rabu (30/03).
Sontak, dua orang di hadapannya tertawa lepas. Selepas itu, mereka kembali menghisap rokok sambil tersenyum mengingat lelucon yang Mang Cepak lemparkan ke mereka.
“Jokowi mikirin angkringan (terus), negara bangkrut lah!” ucap pria yang memilih dipanggil Mang Gondrong karena rambutnya yang panjang namun ditutupi topi kupluk hangat.
ADVERTISEMENT
“Pernah ngga berpikir gini: Oke, saya (Jokowi) pinjam anggaran negara 1 Triliun, kirim TKI 2000 orang, suruh bikin angkringan di Belanda. Nanti bayarnya tetep pake rupiah,” ucap Mang Cepak.
Lagi-lagi, ucapan Mang Cepak berhasil membuat tertawa seluruh orang di angkringan. Bagi mereka, tidak pernah terbayangkan hal-hal seperti itu untuk diucapkan bahkan dilakukan.
“Siapa yang bayar dong, mas? Kalau pakai rupiah?” jawab April, seorang mahasiswa yang turut menikmati hangatnya angkringan malam itu.
Hampir setiap hari Angkringan Budaya selalu didatangi oleh berbagai kalangan masyarakat. Mulai dari mereka yang menjadi mahasiswa sampai tenaga pendidik dari Universitas Padjadjaran sempat hadir ke angkringan tersebut untuk berdiskusi politik dan mengenyangkan perut mereka.
“Bahkan debat politik-pun biasa di sini. Makanya saya bilang, Dosen Unpad pun sering debat politik di sini dan nggak ada masalah,” ujar Mang Cepak yang telah terbiasa duduk di Angkringan Budaya sejak 2014.
ADVERTISEMENT
Bagi Mang Cepak, duduk di kursi panjang angkringan, ditemani susu putih hangat adalah hal yang tepat untuk menjalani hidup. Ia menekankan bahwa ketika setiap orang masuk ke angkringan, mereka telah secara sadar melepas segala jabatan mereka. Di angkringan lebih nyaman dan aman untuk berdiskusi. Berbeda dengan di klub atau pub yang berpotensi membuat akhir dari diskusi menjadi adu jotos. Di angkringan, mereka berdiskusi tentang apa saja. Di angkringan, demokrasi tumbuh subur.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020