Ancaman Pidana Terhadap Tersangka Tragedi Kanjuruhan

Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Universitas Islam 45 Bekasi
Konten dari Pengguna
18 November 2022 15:03
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Ramadhan Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
(Gambar: Dokumen Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
(Gambar: Dokumen Pribadi)
ADVERTISEMENT
Sebuah insiden yang terjadi di Stadion Kanjuruhan Malang pada Sabtu, 1 Oktober 2022 telah memakan ratusan korban jiwa dan luka-luka pasca laga yang mempertemukan dua tim yang sarat akan rivalitas antara Arema Malang menghadapi Persebaya Surabaya. Selama 90 menit pertandingan tersebut berjalan sangat sengit dan berakhir dengan kedudukan 2-3 yang dimenangkan oleh tim tamu Persebaya Surabaya.
ADVERTISEMENT
Usai pertandingan, suporter tim tuan rumah masuk ke lapangan. Awalnya untuk memberikan semangat kepada tim kebanggaannya yang menelan kekalahan dari tim rival abadinya. Sehingga aparat keamanan melakukan upaya pencegahan agar para suporter tidak semakin membludak ditengah lapangan. Namun, semakin banyak suporter yang turun ke lapangan sehingga pihak aparat mengerahkan pengamanan dengan perlengkapan penuh. Salah satunya penembakan gas air mata yang ditujukan ke arah tribun suporter oleh beberapa oknum kepolisian. Hal inilah yang memicu terjadinya kepanikan dari suporter.
Karena hal tersebut suporter kemudian berbondong-bondong meninggalkan stadion untuk menyelamatkan diri. Akan tetapi akses pintu keluar stadion tertutup yang seharusnya dibuka lima menit sebelum pertandingan selesai, belum terbuka sepenuhnya. Dari situlah banyak suporter tertahan di area tribune yang ditembaki gas air mata sehingga menimbulkan banyak korban yang meninggal akibat kekurangan oksigen. selain itu, peristiwa penembakan gas air mata diwarnai bentrokan antara pihak keamanan dan para suporter di area lapangan dan di luar stadion.
ADVERTISEMENT
Tercatat sebanyak 132 orang meninggal dunia, 596 orang luka ringan, dan 26 orang mengalami luka berat. Tragedi tersebut membuat kompetisi liga Indonesia untuk sementara dihentikan dalam waktu yang belum ditentukan. Banyak yang berduka atas tragedi tersebut bukan hanya di Indonesia, namun juga diluar negeri sehingga tragedi ini tercatat menjadi sejarah kelam sepak bola nomor dua di dunia.
Berdasarkan olah TKP dan pendalaman kasus, mengutip dari temuan Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) bahwasanya PT Liga Indonesia Baru (LIB) yang bertanggung jawab sebagai operator kompetisi dianggap tidak mempertimbangkan status pertandingan berisiko tinggi ketika menentukan jadwal pertandingan. Padahal dari pihak kepolisian sudah melakukan permohonan agar laga tersebut diselenggarakan pada sore hari. selain itu, pihak Panitia pelaksana juga terlibat dalam kasus ini. Adapun kelalaian atau kesalahan yang dilakukan Panitia pelaksana adalah tidak memenuhi permintaan pihak keamanan dimana kondisi serta kapasitas Stadion Kanjuruhan yang kurang memadai, namun pihak Panitia pelaksana melakukan penjualan tiket melebihi kapasitas yang seharusnya 38 ribu tiket, namun dijual 42 ribu tiket. Pihak Panitia pelaksana juga dianggap tidak mempersiapkan rencana ketika terjadi kegentingan. Selain pihak PT. LIB dan Panitia pelaksana, Kepolisian menjadi pihak yang paling disorot dalam Tragedi Kanjuruhan ini, bertanggung jawab sebagai pihak keamanan namun melakukan tindakan represif terhadap para suporter. Salah satunya adalah penembakan gas air mata. Penggunaan gas air mata untuk menangani pengamanan menjadi permasalahan karena melanggar ketentuan yang sudah ditetapkan oleh FIFA. Dalam Regulasinya, FIFA melarang aparat untuk melakukan pengamanan di dalam Stadion dengan menggunakan senjata api ataupun gas air mata (Regulasi FIFA Pasal 19 b).
ADVERTISEMENT
Berdasarkan penyidikan yang dilakukan oleh pihak kepolisian, para tersangka dikenakan Pasal 359 dan Pasal 360 KUHP terkait kesalahan yang menyebabkan kematian. Serta juga dijerat Pasal 103 dan Pasal 52 UU RI Nomor 11 Tahun 2022 tentang keolahragaan.
Berikut isi pasal dan ancaman pidana terhadap Tersangka Tragedi Kanjuruhan.
Pasal 359 KUHP
“Barang siapa karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan orang lain mati, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana kurungan paling lama satu tahun.”
Pasal 360 KUHP
(1) “Barang siapa karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan orang lain mendapat luka-luka berat, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana kurungan paling lama satu tahun.”
(2) “Barang siapa karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan orang lain luka-luka sedemikian rupa sehingga timbul penyakit atau halangan menjalankan pekerjaan jabatan atau pencarian selama waktu tertentu, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana kurungan paling lama enam bulan atau pidana denda paling tinggi empat ribu lima ratus rupiah.”
ADVERTISEMENT
Pasal 52 UU Nomor 11 Tahun 2022 tentang Keolahragaan
“Penyelenggara kejuaraan Olahraga wajib memenuhi persyaratan teknis kecabangan, kesehatan, keselamatan, ketentuan daerah setempat, keamanan, ketertiban umum, dan kepentingan publik.”
Pasal 103 UU Nomor 11 Tahun 2022 tentang Keolahragaan
(1) “Penyelenggara kejuaraan Olahraga yang tidak memenuhi persyaratan teknis kecabangan, kesehatan, keselamatan, ketentuan daerah setempat, keamanan, ketertiban umum, dan kepentingan publik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).”
(2) “Penyelenggara kejuaraan Olahraga yang mendatangkan langsung massa penonton yang tidak mendapatkan rekomendasi dari Induk Organisasi Cabang Olahraga yang bersangkutan dan tidak memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).”
ADVERTISEMENT
(3) "Setiap orang yang meniadakan dan/atau mengalihfungsikan prasarana olahraga yang telah menjadi aset/milik Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah tanpa rekomendasi Menteri dan tanpa izin atau tanpa persetujuan dari yang berwenang sebagaimana diatur dalam Pasal 73 ayat (8) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 20.000. 000.000,00 (dua puluh miliar rupiah)."
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) melalui Choirul Anam menyatakan bahwa peristiwa yang terjadi di Stadion Kanjuruhan Malang, 1 Oktober 2022 merupakan pelanggaran HAM karena tidak memperhatikan dan menjalankan tata kelola keselamatan dan keamanan dalam menyelenggarakan pertandingan sepak bola.
Tragedi Kanjuruhan ini harusnya dijadikan sebagai bentuk koreksi dan mawas diri bagi semuan insan sepak bola di Indonesia. Sebagai negara yang memilki antusiasme sepak bola yang tinggi, peristiwa semacam ini tidak boleh lagi terjadi. Dengan kecintaan masyarakat terhadap sepak bola seharusnya bisa membawa kebahagiaan bagi para penikmatnya, dan harapannya agar semua pihak membuka mata dan saling bekerja sama demi majunya prestasi Timnas Indonesia di level dunia.
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020