kumparan
8 November 2019 8:50

Ibu-ibu Lebay

Kakak dan adik. Foto: Dok: Fia Helmi.
Oleh: Fia Helmi, Manajer Kemitraan Keluarga Kita
Suatu hari saat pulang kuliah, saya duduk berdua dengan ibu di meja makan sambil ngemil santai. Tiba-tiba ibu bilang, “Kamu tau nggak, saat terberat aku menjadi seorang ibu itu, ya, waktu kamu SMP-SMA dulu. Sekarang, alhamdulillah, deh, udah mulai mereda, udah bisa ngobrol lebih enak.”
ADVERTISEMENT
Untung nggak tersedak pisang goreng, saya hanya tertawa, “Ah, masa iya, sih?” jawab saya waktu itu.
Walau jujur enggak mengerti bagaimana maksudnya, tapi saya tidak bertanya lebih lanjut. Sepanjang ingatan, saya adalah remaja yang lurus-lurus saja. Enggak neko-neko. Mungkin ibu hanya berlebihan menilai saya, namanya juga ibu-ibu.
Mengabadikan foto bersama si sulung. Foto: Dok: Fia Helmi.
Tujuh belas tahun berlalu. Tiba-tiba ingatan saya kembali ke percakapan itu. Bagaimana tidak? Rasanya saya ingin memeluk ibu untuk meminta maaf. Saya habis dibuat kesal oleh si sulung yang sekarang beranjak remaja. Kata-katanya mirip sekali dengan remaja yang saya kenal tujuh belas tahun lalu. Iya, mirip dengan kelakuan saya! Ternyata, ini, toh, yang ibu saya maksud, mood swing remaja, sangat sok tahunya, juteknya. Gemaaasssss rasanyaaaa….
ADVERTISEMENT
Apakah ini hukuman dari Tuhan untuk anak yang durhaka kepada orang tua? Apakah anak-anak orang lain juga ada yang begini? Apakah hanya saya seorang yang bernasib malang? Apakah saya sudah resmi menjadi bagian dari grup ibu-ibu lebay?
Hampir setiap hari ada saja kebaperan saya dari drama si abege. Saya merasa lelah juga dibuatnya. Sampai suatu hari, saya bertemu dengan Bu Najelaa Shihab, yang saya tahu saat itu mendirikan Keluarga Kita, banyak poster pengasuhan yang saya repost dari Keluarga Kita karena di saya rasanya tidak seperti digurui, apalagi dihakimi.
Iseng saja, sih, saat itu saya bertanya kepada beliau, “Kapan, dong, Keluarga Kita bikin pelatihan? Sepertinya, saya perlu wadah curhat sekaligus belajar pengasuhan anak remaja.” Bak gayung bersambut, ternyata memang akan diadakan pelatihan pertama dalam waktu dekat. Langsunglah, saya mendaftarkan diri.
Berjalan-jalan sore. Foto: Dok: Fia Helmi.
Pulang dari hari pelatihan pertama, banyak pertanyaan yang selama ini selalu muncul mulai terjawab satu per satu. Ternyata, saya bukan satu-satunya ibu yang anaknya ngeselin dan sok tahu. Ternyata, rata-rata remaja, sesuai tahap perkembangan usia belasan tahun ini, ya, memang emosinya sedang naik-turun sehingga sering menimbulkan drama. “Remaja itu memang drama. Kita, ibunya, jangan lebih drama!” Rasanya, tawa saya paling lebar seruangan saat Bu Elaa menyampaikan kalimat pamungkas ini, seperti tertampar bolak-balik, tapi lega. Ternyata, saya nggak lebay-lebay amat.
ADVERTISEMENT
Merasa mendapatkan banyak manfaat, saya ingin berbagi ilmu yang saya dapatkan di Keluarga Kita ini ke lebih banyak orang di sekitar saya. Senang sekali, ternyata Keluarga Kita memang menginisiasi Program Rangkul (Relawan Keluarga Kita) yang tugasnya menyebarkan kembali ilmu-ilmu ini. Tanpa repot! Dengan sistem dan panduan yang sudah disiapkan, tugas kita sebagai Rangkul tinggal berbagi pengalaman karena yang Keluarga Kita percaya, orang tua belajar pengasuhan paling efektif, ya, dari orang tua lain. Senang rasanya, kita nggak sendirian menghadapi hiruk-pikuknya pengasuhan anak. Yuk, saling me-Rangkul!
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan