Woman
·
12 Juli 2021 14:43

Kelakar yang Membentuk Insecurity

Konten ini diproduksi oleh Rana Maheswari
Kelakar yang Membentuk Insecurity (159986)
searchPerbesar
Ilustrasi seorang wanita yang terjebak dalam insecurity. Photo by: Pixabay
Bercanda dengan teman adalah hal yang lumrah untuk dilakukan. Selain menjadi hiburan semata, terkadang candaan juga menjadi obat dalam menutupi kesedihan yang tengah melanda. Lalu apa jadinya jika bentuk candaan yang diberikan justru memberikan dampak yang negatif?
ADVERTISEMENT
Saat SMK dulu aku berteman dengan sekelompok anak yang gemar bersenda gurau di setiap kesempatan. Terkadang bahan yang mereka tertawakan membutuhkan korban, salah satunya aku. Aku dikenal dengan beberapa tingkah memalukan seperti tidak cakap dalam mengenakan makeup hingga kulitku yang tampak sangat kusam.
Kali pertama kekuranganku dijadikan bahan untuk ditertawakan, aku sama sekali tak menganggapnya sebagai beban. Sebaliknya, aku juga ikut mengolok-olok diriku sendiri. Hitam, jelek, kusam, dekil, dan kata-kata lainnya yang berkaitan dengan penampilan tak pernah henti diucapkan barang sehari.
Kebiasaan itu rupanya perlahan memengaruhi diriku. Ketika aku berkaca, aku mulai meyakini apa yang orang lain tertawakan. Aku mulai menganggap bahwa diriku memang tidak enak untuk dipandang. Aku menjadi gusar untuk berfoto bersama teman karena penampilanku yang tak pernah sebanding dengan mereka. Pelan namun pasti, insecurity mulai memakanku.
ADVERTISEMENT
Ketika teman yang lainnnya memiliki tambatan hati, aku memilih untuk sendiri. Bukan semata-mata karena aku tak didekati oleh lelaki mana pun, namun karena aku yang tak yakin dengan diri sendiri. Setiap kali ada lelaki yang menyukaiku, rasa tak pantas selalu meliputi. Takut mereka akan menyesal dengan diriku di kemudian hari.
Dulu pujian kudapatkan ketika meng-upload foto ke sosial media. Akan tetapi, pujian sesama perempuan di sosial media selalu kuanggap sebagai angin lalu karena pada kenyataannya tak pernah ada yang memujiku secara langsung. Seiring berjalannya waktu, kepercayaan diriku untuk sekadar menatap cermin pun menghilang.
Masa SMK akhirnya berakhir dan aku memasuki dunia perkuliahan. Setelah beberapa waktu terlewati, tak ada perubahan signifikan yang terjadi pada diriku. Benakku masih memberikan keyakinan bahwa penampilanku tak pernah membaik.
ADVERTISEMENT
Suatu waktu aku mengadakan pertemuan dengan salah satu temanku semasa SMK. Saat itu ia membantuku dalam mengenakan makeup dan memberikan saran tentang penampilanku. Dia juga memberikan saran tentang bagaimana mengambil foto yang baik sehingga hasilnya memuaskan. Tanpa kusadari, kepercayaan diriku terbit perlahan.
Aku mulai memikirkan setiap outfit dengan matang, mendengarkan saran teman-teman dengan baik, dan mulai keluar dari rasa tidak nyamanku. Aku kembali membuka diri untuk menyukai seorang lelaki dan memberanikan diri untuk memulai sebuah hubungan.
Sejak saat itu aku mengerti bahwa tak semua hal bisa dijadikan bahan berkelakar. Aku tak pernah ingin melakukan hal yang sama, mengolok kekurangan teman dengan dalih candaan. Pada akhirnya, kata-kata saat berkelakar itu akan mengatur mindset hingga membentuk insecurity. Sebuah candaan tak seharusnya merugikan pihak mana pun, bukan?
ADVERTISEMENT
(Rana Maheswari/Politeknik Negeri Jakarta)