kumplus- Cover story fiksi Ratri Ninditya
3 April 2021 13:52

Cari Jodoh

Selama lima tahun belakangan, Onti Tiara tidak pernah lapar lagi. Paling tidak, rasa lapar itu sudah bukan miliknya sendiri. Kadang ia bertanya-tanya, bagaimana hasrat yang begitu primer dan egosentris dapat menyelinap lewat celah-celah hatinya dan menjelma jadi rasa kasih kepada makhluk lain. Padahal, rasa lapar itulah yang dulu mendasari semua pilihan yang salah dalam hidupnya.
Pagi ini pun Onti Tiara terbangun dari tidur karena kucing-kucing singgah sudah lapar. Hari ini tidak ada jadwal vaksin ataupun steril. Rumahnya terasa lengang. Ia membuka kandang-kandang yang dijejer bertumpuk tiga di ruang tengah. Onti Tiara mengusap kepala-kepala yang menjulur dari kandang sambil berpikir seharusnya seluruh kebahagiaan di dunia bisa dipertukarkan lewat cara sederhana seperti ini. Ia mengambil piring-piring yang kosong lalu mencucinya satu demi satu sampai mengkilap, mengeringkannya hingga kesat, membuka sekaleng makanan rasa tuna-ayam, dan menuangnya ke piring bersih.
Ketika ia berjalan membuka pintu depan dan belakang rumah, beberapa pasang kaki berjingkat-jingkat mengikutinya, kemudian berhamburan ke luar. Dengan sendok yang baru dicuci ia mencampur makanan basah dengan kibbles kering. Mengikuti aroma ayam dan tuna, kaki-kaki melompat-lompat kembali masuk rumah dan berkerumun dekat piring masing-masing. Onti Tiara mengeluarkan tiga bak pasir ke teras untuk dijemur, meniriskan bekas-bekas tahi semalam, kemudian membuangnya ke kantong plastik hitam. Ia ikat rapat kantong tersebut lalu memasukkannya ke tong sampah besar di depan rumah. Para pemulung sudah hafal kantong plastik yang diikat simpul tiga kali isinya tahi, jadi mereka tidak akan buka-buka untuk sortir. Ia kemudian membilas mangkuk-mangkuk air dan menggantinya dengan air segar. Seluruh ritual pagi Onti Tiara lakukan dengan sungguh-sungguh karena kebersamaan mereka tinggal beberapa hari saja. Sampai sini ia baru ingat bahwa ia juga lapar, jadi ia mulai memanaskan minyak untuk menggoreng telur ceplok.

Hanya 20 ribu sebulan,
dapatkan ratusan konten premium kumparan+
Langganan Sekarang