kumplus- Cover story fiksi Ratri Ninditya
27 Februari 2021 14:02

setengah

Perjalanan Giwang ke tempat kerja selalu menguras energi; energi yang setengah mati ia kumpulkan dari nonton drama Korea persis habis bangun tidur, berdoa, mandi dengan sabun wangi spa, dan minum satu sachet kopi dengan banyak gula. Dorongan untuk menjalankan satu hari memang begitu langka, tak peduli berapa uang yang dia keluarkan untuk kesenangan-kesenangan instannya. Begitu sampai, ia sudah kehabisan dopamin dan butuh tembakan kafein lagi. Itulah mengapa perut Giwang sering bermasalah.
Kata dokter ruang gawat darurat, kemungkinan besar maag. Giwang harus berhenti minum kopi, merokok, dan mulai makan dengan teratur. Kata ibunya, ini mungkin karena stres. Ibunya bilang, Giwang harus pulang ke rumah supaya mereka bisa bersama-sama konsultasi ke Koh Agun mengusir jin-jin jahat yang hinggap di pundak Giwang. Atasannya beda lagi. Katanya, itu mungkin sebuah sindrom pegawai malas dan solusinya adalah tidak menaikkan gaji Giwang selama empat tahun terakhir walaupun Giwang adalah karyawati yang hampir tidak pernah ambil cuti dan cepat menyesuaikan diri dengan tata tertib perusahaan yang selalu diperbaharui agar tidak ada celah-celah yang mungkin mengurangi perolehan keuntungan.
Tempat Giwang bekerja adalah sebuah restoran cepat saji di dekat kebun raya. Sebagai pelayan di balik mesin kasir, ia butuh konsentrasi tinggi selama 4 jam nonstop untuk setiap kali tamu datang: menyapa dengan senyum, merekomendasi menu promosi dengan senyum, mencatat pesanan dengan senyum, menerima uang dengan senyum, memberikan kembalian dengan senyum, menuang minuman ke gelas kertas (sambil balik badan, tak perlu ramah-tamah), menata makanan di atas baki dengan senyum, memberi nomor bila perlu, memberi salam terima kasih sampai jumpa lagi dengan senyum seolah ini senyum terakhir dalam hidupnya.

Hanya 20 ribu sebulan,
dapatkan ratusan konten premium kumparan+
Langganan Sekarang