kumplus- Opini AS Laksana

Bestie Kebetulan

Mahasiswa S1 Ilmu Hubungan Internasional Universitas Indonesia dan Kontributor Reguler Tirto.ID. Sosialis Demokrat. Pengagum Mahbub Djunaidi, Pramoedya Ananta Toer, Yap Thiam Hien, dan P.K. Ojong.
3 Mei 2022 9:12
·
waktu baca 5 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Seandainya Tuhan memberi saya pilihan tempat tinggal sebelum ibu saya masuk kamar bersalin, tentu perumahan yang saya tinggali sejak orok akan jadi pilihan nomor buncit. Bukan apa-apa, sebagai bekas rumah BTN yang boleh beli dari paman sendiri, orang tua saya adalah keluarga termuda saat mulai mukim di awal 2000-an. Mereka, pasangan berusia awal 30-an, bertetangga dengan pegawai dan pengusaha mapan yang rata-rata sudah kepala lima. Bapak-bapak PNS biasanya sudah jenjang madya. Yang pengusaha rata-rata sudah memiliki cabang di luar kota. Sekarang, ketika orang tua saya melewati ambang kepala lima, tetangga-tetangga kami sudah semerbak tubuhnya dengan wangi tujuh merek minyak angin dan beberapa malah sudah menjadi pemakai gigi palsu yang telaten dan istikamah.
Tumbuh besar di lingkungan begitu membuat masa kecil saya nano-nano: manis, kecut, sedikit gurih, dan sedikit getir. Saya ingat, waktu saya mulai bisa bicara, hampir semua tetangga saya panggil “Opa” atau “Oma”. Tentu, saya belum mampu mengingat semua nama mereka. Jadi, saya memanggil dengan sesuatu yang saya ingat pada sosok itu. Seorang pensiunan tentara yang menanam pohon mangga di depan rumahnya saya panggil “Opa Mangga”. Seorang mantan polisi wanita yang punya kolam ikan di teras rumah saya panggil “Oma Ikan”. Seorang mantan komposer yang suka menyanyi saya panggil “Opa Musik” dan lain-lain. Karena penyebutan ini, sampai sekarang saya sering tertawa sendiri kalau ingat seorang tetangga kami, mantan guru besar di sebuah PTN di Jakarta, yang saya panggil “Oma Linglung”. Apa sebabnya, saya sendiri sudah lupa. Yang jelas, ada satu konsekuensi bagi saya karena memanggil “Opa-Oma” pada tetangga-tetangga itu.
Ya, saya jadi “cucu kolektif” yang punya nyaris dua lusin kakek-nenek di luar kakek dan nenek kandung. Opa-oma yang sudah menikahkan anak mereka dan akan menimang cucu kandung menjadikan saya semacam simulator cucu mereka. Untuk menggunakan cucu kolektif ini, ada kesepakatan tidak tertulis yang membuat saya digilir dari tetangga ke tetangga untuk sekadar dipangku dan didongengi macam-macam cerita. Kadang-kadang, saat jalan-jalan mengitari blok rumah dengan pengasuh, ada saja oma atau opa yang mengajak saya mampir ke rumah mereka untuk menemani sarapan, karena anak-anak mereka yang dewasa sering kali sudah ngibrit ke kampus atau ke kantor sebelum orang tuanya bangun. Sehabis sarapan itulah, saya dipangku dan didongengi. Sesudah sesi pertama selesai, saya pindah ke rumah oma atau opa lain untuk latihan yang sama: dipangku-pangku dan didongengi. Yang paling saya ingat, Oma Linglung menceritakan dongeng “Kerudung Merah” dan “Hansel-Gretel” dengan bersemangat, kadang disertai hadiah sepercik-dua percik ludah—khas gaya profesor senior.
Lanjut membaca konten eksklusif ini dengan berlangganan
Keuntungan berlangganan kumparanPLUS
check
Ribuan konten eksklusif dari kreator terbaik
check
Bebas iklan mengganggu
check
Berlangganan ke newsletters kumparanPLUS
check
Gratis akses ke event spesial kumparan
check
Bebas akses di web dan aplikasi
Kendala berlangganan hubungi [email protected] atau whatsapp +6281295655814
Konten Premium kumparanPLUS
Seandainya Chris Wibisana yang jadi rektor Untirta, semua yang terlibat di kepanitiaan saya bekukan status kemahasiswaan mereka selama satu semester. Kolom Koh Asbun, Chris Wibisana, di @kumparanplus.
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten