Food & Travel
·
29 Oktober 2020 20:54

Budaya Indonesia Bernavigasi: Lucu, Menyebalkan

Konten ini diproduksi oleh Renan Hafsar
Kebanyakan orang Indonesia memiliki budaya yang unik dalam bernavigasi. Keunikan itu kadang membuat jengkel bagi yang membutuhkan informasi untuk menuju ke suatu alamat yang diinginkan. Betapa tidak, informasi yang diharapkan memudahkan untuk menemukan alamat, justru menambah kebingungan.
Budaya Indonesia Bernavigasi: Lucu, Menyebalkan (80328)
Ilustrasi kepusingan akibat bertanya arah.
Sebenarnya tidak sulit untuk mengubah budaya seperti itu. Tinggal masing-masing dari diri kita memiliki komitmen yang serius untuk mulai membiasakan diri menggunakan istilah yang baku dan tidak bermakna ganda.
ADVERTISEMENT
Berikut beberapa budaya orang Indonesia dalam bernavigasi.

Lurus

Jika suatu saat bertanya kepada warga, lalu ditunjukkan jalan untuk “Lurus saja, pak!”, jangan mudah percaya. Biasanya, istilah lurus ini bukan arti bentuk jalan yang lurus, tapi berarti “ikuti jalan utama/raya”.
Kebanyakan jalan di Indonesia bukanlah jalan yang direncanakan, tapi jalan yang sudah demikian adanya dari dulu. Ada yang awalnya hanya jalan di tegalan sawah, tepian tebing, pinggir sungai, jalan yang sering dilewati binatang, dan lain sebagainya. Jadi, bentuknya pun sangat jarang yang lurus, tapi cenderung berbelok-belok.
Ketika jalan utama/raya berbelok, tapi petunjuknya mengatakan lurus, malah tersasar masuk ke gang kecil yang memang posisinya relatif lurus terhadap jalan utama/raya. Dari sini, istilah lurus itu memang bisa bermakna ganda.
ADVERTISEMENT

Kanan, kiri

Kebanyakan orang terbiasa untuk menunjukkan lokasi dengan istilah kanan atau kiri. Masalahnya, kanan dan kiri adalah istilah yang sangat relatif. Sebagai contoh, Museum Gajah ada di sisi kiri, artinya orang tersebut sedang menghadap ke arah Harmoni. Orang lain yang menghadap ke arah Sudirman pun bisa mengatakan sebaliknya. Petunjuk jalan kanan dan kiri ini paling sering menyesatkan karena cara pandang yang berbeda.
Satu cara ampuh untuk mengatasi masalah ini adalah penyebutan arah mata angin. Hindari penyebutan kanan-kiri dan ganti dengan utara, selatan, barat, timur. Arah mata angin bersifat tetap, tidak relatif seperti kanan-kiri, sehingga tidak akan membingungkan orang lain yang diberikan petunjuk arah.
Di Yogyakarta, penyebutan arah dan wilayah sebenarnya sudah cukup terbiasa menggunakan sebutan mata angin. Mereka terbiasa menyebutkan lor, kidul, kulon dan wetan yang berarti arah utara, selatan, barat dan timur.
ADVERTISEMENT

Dekat

Istilah “dekat” ini sangat relatif. Bagi orang Jawa, jarak di bawah 5 km masih termasuk kategori dekat. Hal ini akan menjadi masalah jika seseorang bertanya tentang arah, lalu diberikan petunjuk, “Bapak terus saja, sudah dekat lokasinya.”
Untuk memudahkan orang lain yang kebingungan mencari alamat, sebaiknya gunakan ukuran jarak yang baku, misalnya meter atau kilometer. Jika tidak tahu pasti jarak, gunakan perkiraan, misalnya per satuan.

Peta Kondangan Khas Indonesia

Peta kondangan memiliki ciri khas tanpa skala, arah ngawur, dan suka-suka. Tanpa skala, peta bisa dibuat seolah-olah jarak suatu lokasi terhadap titik acuan cukup dekat, padahal jauh. Sebaliknya, lokasi bisa terlihat jauh, padahal dekat.
Arah yang ditunjukkan dalam peta kondangan tidak bisa langsung diterima begitu saja. Kadang, di peta tergambar bahwa lokasi pesta pernikahan mengarah ke timur, tapi realitanya mengarah ke tenggara. Situasi ini bisa bahaya kalau di timur justru ada acara pernikahan lain. Bisa salah tempat.
Budaya Indonesia Bernavigasi: Lucu, Menyebalkan (80329)
Contoh peta kondangan. Gambar: Tokopedia
Peta kondangan yang dibuat suka-suka artinya patokan (check point) terserah si pembuat. Gedung kantor ukuran besar bisa saja tidak ditampakkan di dalam peta tersebut. Malah, rumah Pak RW yang ukurannya jauh lebih kecil dari gedung tadi justru digambar di peta.
ADVERTISEMENT
Hal kacau lainnya di peta kondangan adalah penyederhanaan bentuk jalan yang juga suka-suka. Sering ditemui, bentuk jalan berbentuk kurva dipaksa menjadi lurus. Jala utama digambar kecil, tapi gang kecil lokasi hajatan digambar besar. Jika dicocokkan ke peta Google Maps, peta tadi pun tidak cocok. Semakin memusingkan pendatang yang belum kenal daerah tersebut.

Perempatan

Persimpangan sebenarnya tidak hanya simpang empat. Ada juga simpang tiga, simpang lima, dan simpang enam. Tapi, bagi orang Indonesia semua disebut perempatan. Kadang disebut perapatan.
Budaya Indonesia Bernavigasi: Lucu, Menyebalkan (80330)
Jenis persimpangan jalan. Gambar: Billy Penn
Istilah ini juga kadang berpotensi menyesatkan kalau di rute yang dilalui ada perempatan lain. Warga setempat memberikan petunjuk untuk belok kiri di perempatan, maksud sebenarnya pertigaan. Orang yang tidak kenal daerah tersebut akan jalan terus hingga menemukan simpang empat. Hasilnya, dijamin nyasar.
ADVERTISEMENT

Menghilangkan Nama Jalan

Ketika orang Indonesia ditanya tentang arah ke suatu lokasi, biasanya penunjukan arah tanpa menyebutkan nama jalan. Ini bukan karena jalan tersebut belum memiliki nama, tapi karena kebiasaan semata. Contohnya, “Bapak keluar dari sini ke kanan, ikut aja jalan itu, nanti ada masjid besar.”
Situasi ini menyulitkan bagi orang yang tidak tahu daerah lokal. Saat ini, hampir tidak ada jalan yang belum ada nama. Pemerintah sudah menetapkan nama jalan, jadi sudah sepatutnya nama jalan disebutkan dalam bernavigasi.
Jika dipikir lebih jauh, kebiasaan menyebutkan arah jalan tanpa menyebutkan nama kemungkinan adalah warisan dari para leluhur jaman dahulu. Pada zaman itu, jalan yang sudah dinamai baru sedikit, sehingga wajar orang-orang tidak tahu harus menyebut apa namanya. Sampai saat ini, banyak orang lebih suka menyebut jalan dengan ciri khas, ketimbang nama formalnya. Misalnya, Jl. Flamboyan disebut “jalan yang ada tukang bakso Wonogiri”.
ADVERTISEMENT

Mentok

Satu lagi istilah navigasi yang menyebalkan adalah mentok. Kadang disebut notok. Artinya kira-kira jalan yang sudah berakhir, tapi bukan buntu. Akhir jalan dapat berupa persimpangan. Jadi, kalau ada yang memberitahu, “Lurus saja, pak. Sampai mentok, baru belok kiri.”, artinya ikuti sampai jalan tidak bisa lurus lagi, bisa terpentok persimpangan, bundaran, atau ujung jalan aspal.
Istilah mentok ini lagi-lagi relatif. Kadang ada simpang tiga yang jika diperhatikan ternyata simpang empat. Masih bisa lurus, tapi masuk ke gang yang lebih kecil tepat di persimpangan. Kalau begini kondisinya, tidak bisa kita bilang mentok. Orang lain masih menganggap bukan mentok.
.
Jika dirangkum semua budaya di atas, kira-kira akan berbentuk seperti cerita pendek guyon berikut ini.
ADVERTISEMENT
Supri: "Permisi Pak, mau tanya, jalan Kemanggisan 5 kearah mana ya?"
Sarman: "Oh, dari sini lurus aja, ada kali kamu belok kanan, terus jalan sekitar 500 meter ada perempatan, kamu belok kiri, terus jalan lurus sampai ketemu rumah sakit kasih kamu kekanan lagi, mentok lalu jalan ke kanan lagi, lurus ketemu lampu merah kamu ke kiri, jalan lagi ga berapa lama kamu ketemu patung gajah, na...h kamu jangan ke kiri, tapi kamu lurus aja, nah sampai situ kamu jalan lagi belok ke kiri, nah jika sudah, disana ada pertigaan kamu ambil jalur ke bawah, lalu ke arah kiri... naah disana....."
Supri: "Di sana jalan kemanggisan 5?"
Sarman: "Bukan dari sana kamu lurus lagi sampai ketemu stasiun kereta api, yang dikanannya ada pos polisi nah di sanaa..."
ADVERTISEMENT
Supri: "Di sana Kemanggisan 5??"
Sarman: "Di sana kamu tanya polisi yang bertugas, kemana arah jalan Kemanggisan 5 itu, saya kurang tahu."
sosmed-whatsapp-whitesosmed-facebook-whitesosmed-twitter-whitesosmed-line-white