Otomotif
·
13 Oktober 2020 17:25

Bumper Jangan Membuat Baper

Konten ini diproduksi oleh Renan Hafsar
Bumper Jangan Membuat Baper (78881)
Ilustrasi mobil menabrak pejalan kaki
Bumper merupakan komponen eksternal kendaraan otomotif beroda tiga atau lebih. Mulai dari bajaj, mobet, mobil, pick up, jeep, mobil boks, dump truck, trailer, bus, dan sejenisnya memasang bumper di bagian depan dan belakang sebagai pengaman.
ADVERTISEMENT
Jika diperhatikan, model bumper telah berubah banyak. Di masa awal kemunculan mobil, bumper terlihat seperti benjolan melintang di depan dan belakang. Pada masa itu, bumper terbuat dari bahan logam. Kondisi ini sangat berbahaya bagi pejalan kaki. Meski hanya tabrakan pada kecepatan rendah, pejalan kaki bisa langsung meninggal di lokasi. Saat ini, desain bumper terlihat seakan menyatu dengan bodi mobil dan kebanyakan dibuat dari polimer plastik. Konsekuensinya, bumper mudah tergores. Apabila tergores akan mudah menimbulkan cacat estetika yang mengganggu penampilan.
Bumper Jangan Membuat Baper (78882)
Perbandingan model bumper pada mobil klasik (kiri) dan modern (kanan)
Penggunaan bumper memiliki banyak fungsi, baik fungsi utama maupun tambahan. Fungsi utama adalah untuk mengurangi dampak benturan di bagian depan dan belakang kendaraan pada kecepatan rendah. Dari data tabrakan mobil, lebih dari separuh adalah benturan bagian depan mobil dengan objek di luar mobil (Thomas dan Frampton 1999). Ketika bumper terbentur, bumper akan rusak dengan cara menyerap gaya tumbukan. Dengan demikian, bumper diharapkan dapat melindungi komponen mesin dan bodi mobil.
ADVERTISEMENT
Karena fungsi utamanya sebagai pelindung, maka bumper selalu dibuat dari material yang mudah rusak. Beberapa pilihan material yang cocok untuk bumper antara lain besi, aluminium, karet, atau plastik. Bumper yang dibuat campuran lebih dari satu material sangat dihindari karena bagian persambungan justru menjadi penyebab bumper terlalu ringkih.
Belakangan ini penggunaan bumper kian tidak terkendali. Kerap ditemukan bumper dilindungi oleh bumper tambahan. Dalam istilah sehari-hari disebut bumper tanduk (bull bar) atau pelindung bumper (bumper guard). Komponen yang dijual bebas ini tidak memiliki standar tertentu dari pemerintah dalam hal dimensi, lokasi pemasangan, kekuatan. Padahal, ketinggian bumper sangat mempengaruhi dampak kecelakaan (Crashstats dari Department of Transportation 2008).
Bumper Jangan Membuat Baper (78883)
Beberapa contoh pelindung bumper di Indonesia
Beragam motif dilakukan masyarakat untuk memasang pelindung bumper. Motif paling umum adalah untuk melindungi bumper asli agar terlihat tetap utuh. Umpamanya, tergores sepeda motor ketika macet atau tergores dinding di jalan sempit. Motif berikutnya adalah agar mobil terlihat "macho" layaknya mobil-mobil off road.
ADVERTISEMENT
Untuk dapat memasang pelindung bumper cukup mudah dan relatif murah. Untuk jenis mobil murah (low cost, green car/LCGC), harga berkisar setengah jutaan sudah termasuk ongkos pasang. Harga pelindung bumper yang terbuat dari logam atau plastik tidak berbeda secara signifikan.

Bahaya Pelindung Bumper

Penggunaan komponen tambahan pada bumper bawaan mobil membahayakan mobil dan jiwa manusia. Pada umumnya, kebanyakan pelindung bumper memiliki konstruksi rigid karena memang tujuannya menjaga agar bumper bawaan dari mobil tidak rusak. Inilah bahaya yang harus diwaspadai.
Pelindung bumper tidak dapat ditempatkan pada dudukan yang sama sebagaimana bumper asli. Selain karena tidak ada tempat untuk sekrup, juga berat pelindung bumper yang tidak memungkinkan dikaitkan pada bodi atau spakbor mobil. Tentunya, cara satu-satunya adalah dengan dilekatkan pada rangka struktur mobil.
ADVERTISEMENT
Pemasangan pelindung bumper pada rangka menjadi masalah berikutnya. Karena pelindung bumper tersebut dipasang melekat pada rangka/tulang di bagian bawah mobil, pelindung bumper akan menihilkan fungsi bumper asli. Dengan bahasa sederhana, fungsi bumper asli sepenuhnya diambil alih oleh pelindung bumper. Ketika bumper asli tidak berperan pada waktu terjadi benturan, energi kinetik yang ada pada mobil tidak terserap. Sifat pelindung bumper adalah rigid, sedangkan bumper yang ada pada mobil sejak dibeli bersifat mudah rusak.
Desain bumper asli memang harus mudah rusak untuk menyerap tekanan ketika terjadi benturan. Sifat mudah rusak ini sebenarnya yang menjadi keunggulan bumper asli. Bukan malah dianggap kekurangan yang harus ditambal dengan pelindung bumper.
Sebaliknya, pelindung bumper dibuat secara sengaja agar kokoh. Harapannya, ketika terjadi benturan, bumper asli aman. Model kerangka yang paling umum terbuat dari kerangka berbentuk bulat atau kotak. Mereka dirangkai sedemikian rupa agar tahan benturan.
ADVERTISEMENT
Namun demikian, ketika bumper gagal meredam benturan, yang terjadi justru fatal. Energi kinetik dari mobil tidak terserap oleh bumper. Pelindung bumper yang menempel ke rangka akan langsung menyalurkan energi tumbukan ke badan mobil. Akibatnya, pengemudi dan penumpang akan terdorong ke arah depan secara hebat, jauh lebih parah dibandingkan dengan tanpa pelindung bumper.
Penggunaan pelindung bumper ini seharusnya mendapatkan perhatian serius. Sebagai ilustrasi, sedikitnya terjadi 1.000 kasus tabrak depan (bahasa nonformal: “adu banteng”) di Kansas, Amerika selama kurun waktu tahun 2017. Meski demikian, Indonesia belum memiliki data seperti itu. Jika kasarnya diumpamakan jumlah yang sama terjadi di satu provinsi di Indonesia, situasi ini akan membantu menjelaskan dampak buruk pelindung bumper.
ADVERTISEMENT
Bahaya berikutnya dari pelindung bumper adalah pada orang-orang di luar mobil. Pejalan kaki yang tertabrak mobil dengan pelindung bumper kemungkinan besar akan mengalami cedera lebih serius. Pada kecepatan 20 sampai 30 km/jam, biasanya luka dialami pada bagian lutut; sedangkan jika kecepatan mencapai 50 km/jam, patah tulang area di bawah pinggang (lower leg injury) akan sangat mungkin terjadi (Matsui 2005). Jika kecepatan semakin tinggi, selain patah tulang kaki dan tangan, pejalan kaki juga akan terlempar kaca depan mobil. Hal yang sama juga akan terjadi pada pengendara roda dua. Jika kecepatan cukup tinggi, mereka sangat mungkin terbunuh di lokasi kejadian. Kerusakan pada organ tubuh manusia yang tertabrak mobil sebenarnya tidak perlu terjadi jika bumper sanggup meredam dampak benturan yang terjadi.
ADVERTISEMENT
Dampak negatif lainnya pelindung bumper adalah pada mobil itu sendiri. Tanpa adanya peredam benturan seperti bumper, termasuk tata letak permesinan, mobil akan menerima benturan yang lebih keras. Jelas, semakin keras benturan diterima, semakin banyak komponen yang mengalami hentakan keras dan mendadak ketika terjadi suatu kecelakaan, misalnya tabrakan. Alhasil, semakin banyak komponen yang rusak dan biaya perbaikannya semakin mahal (Sonawane dan Shelar 2018).

Uji Tabrak pada Bumper

Bumper merupakan suatu kebutuhan berdasarkan penelitian. Serangkaian uji tabrak telah dilakukan oleh pemerintah dan berbagai perusahaan otomotif untuk bisa lolos persyaratan crashworthiness. Pengujian ini terbilang mahal karena setiap kali dilakukan artinya merusak mobil.
Tidak hanya mobil, uji merusak juga melibatkan boneka mahal bernama dummy. Sebagai contoh, harga dummy bisa antara AS$100—500 ribu per dummy, tergantung banyak sensor, kecepatan transfer data, ukuran sensor, jenis tes, dan sejumlah variabel lainnya. General Motor sendiri pernah menggunakan set dummy seharga AS$500 ribu dengan kecepatan transfer data sekitar 10 ribu data per detik. Data ini kemudian diolah oleh komputer untuk menghasilkan analisis kualitas desain kendaraan yang akan diluncurkan ke pasar. Jelas, dummy ini bukan semata manekin yang dipakai di toko-toko pakaian.
ADVERTISEMENT
Di Amerika, ada dua lembaga yang rajin melakukan uji tabrak, yaitu National Highway Traffic Safety Association (NHTSA) dan Insurance Institute for Highway Safety (IIHS). Masing-masing memiliki kriteria dan metode penilaian tersendiri dalam memberikan skor pada suatu produk otomotif. Meskipun masing-masing memiliki perbedaan, penilaian tersebut pada dasarnya sama, yaitu semakin kecil kerusakan pada dummy, semakin tinggi skor suatu kendaraan. Hal ini kemudian memberikan suatu persaingan yang sehat antarprodusen kendaraan dalam hal keselamatan. Konsumen akan lebih memilih kendaraan dengan peringkat keselamatan yang paling tinggi sesuai dengan kemampuan finansial mereka masing-masing.
Sayangnya, aturan tentang uji tabrak ini belum dikembangkan secara serius di Indonesia. Hal ini membuat Indonesia “menyerah” terhadap desain yang sudah jadi dari pabrikan pembuat, termasuk masalah bumper. Kita sudah terlanjur mempercayai bahwa desain yang sudah jadi tersebut aman bagi orang yang berada di dalam dan di luar mobil. Parahnya lagi, pemilik mobil beramai-ramai memasang pelindung bumper. Bahkan, ada guyonan satir yang mengatakan bahwa dummy di Indonesia menggunakan manusia asli.
ADVERTISEMENT
Sampai di sini jelas bahwa penggunaan pelindung bumper adalah keliru. Jika mobil sudah dilengkapi bumper, lalu rusak karena goresan atau benturan, memang demikian fungsi bumper. Semakin banyak energi yang diserap ketika tabrakan, semakin tinggi kualitas bumper (Ma et al. 2015). Jangan menjadikan bumper seolah benda kesayangan yang tidak boleh kotor atau cacat. Jadi, jika bumper rusak, jangan jadi baper (bawa perasaan).
sosmed-whatsapp-whitesosmed-facebook-whitesosmed-twitter-whitesosmed-line-white