Otomotif
·
19 Oktober 2020 7:52

Kecepatan di Jalan Percuma Dibatasi

Konten ini diproduksi oleh Renan Hafsar
Mungkin di antara kita pernah berpikir, mengapa ada rambu batas kecepatan. Di jalan tol, di jalan raya, bahkan di jalan lingkungan sering ditemukan batas kecepatan. Yang paling umum ditemui adalah batas kecepatan maksimum. Tapi di jalan tol, juga ada batas kecepatan minimum. Pembatasan kecepatan sebenarnya bukan hal yang asing, tapi bisa jadi hal paling sering dilanggar.
ADVERTISEMENT
Percuma pada judul ini bukan berarti gratis sebagaimana pada bahasa Melayu/Malaysia. Pembatasan kecepatan di jalan percuma artinya sia-sia. Tidak salah jika banyak orang menilai bahwa pembatasan kecepatan di jalan tidak berdampak apapun karena hingga hari ini rambu tersebut hanya sebatas simbol di papan berbentuk lingkaran. Tidak ada hukuman apapun bagi pelanggar. Bahkan, dalam beberapa video yang menjadi populer (viral), terlihat mobil pribadi melenggang dengan kecepatan tinggi bak film Fast & Furious.
Kecepatan di Jalan Percuma Dibatasi (71249)
Ilustrasi kecelakaan di jalan tol. Foto: Pikiran Rakyat
Pada kondisi di mana jalanan menjadi ajang balap liar belakangan ini, perlu dilakukan suatu tinjauan mengenai apa yang salah. Biasanya, ketika saling tunjuk mengenai apa yang salah, selalu muncul dua kandidat besar, yaitu orang dan sistem. “Jika orangnya jujur, tidak mungkin dia korupsi. Sistem kan dibentuk dan dijalankan oleh orang.” Demikian argumen penganut konsep orang dulu, baru sistem. Sepintas memang benar, tapi hal ini justru menyesatkan.
ADVERTISEMENT
Untuk menjawab pertanyaan antara sistem atau orang yang harus dibenahi terlebih dahulu dalam menegakkan aturan batas kecepatan di jalan, sangat mudah. Hal ini tidak serumit pertanyaan, “Mana yang lebih dahulu diciptakan, ayam atau telur?” atau “Lebih baik makan bubur diaduk atau tidak diaduk?”
Cara mudah untuk menjawabnya adalah dengan berjalan-jalan virtual ke kota yang banyak didatangi pelancong asing. Batam dan Kuta adalah dua lokasi paling representatif. Batam setiap akhir pekan selalu dibanjiri turis Singapura. Begitu tiba di Singapura, perilaku mereka otomatis berubah semrawut seperti orang Indonesia pada umumnya. Di negara asalnya, mereka sudah pasti orang-orang yang taat pada aturan. Singapura pun terkenal dengan slogan “Singapore is a fine city.” Kata “fine” di situ artinya denda, bukan kondisi baik-baik saja.
ADVERTISEMENT
Di Kuta, Bali akan ditemukan lebih banyak lagi wisatawan mancanegara. Jika di Batam kebanyakan berparas Cina-Singapura, di Kuta didominasi oleh orang berparas kaukasia atau biasa kita sebut bule. Orang barat seperti itu pun tidak kalah dengan di Batam. Betapa banyaknya dari mereka yang mengendarai sepeda motor tanpa helm, membuang sampah sembarangan, menyeberang jalan seenaknya, dan berbagai perilaku lain yang tidak mungkin mereka lakukan di negara asal mereka masing-masing.

Sistem yang Lemah

Jika kita ingin menjawab teka-teki mengapa orang asing menjadi rusak begitu tiba di Indonesia, dari ilustrasi dua kota tersebut sudah terjawab, yaitu karena sistem yang lemah. Di negara asal para turis asing, setiap kesalahan harus dibayar dengan hukuman, baik pengurangan poin izin mengemudi, denda uang, ganti rugi fasilitas publik, hukuman sosial, dipermalukan di hadapan publik, hukuman pidana, atau kombinasi lebih dari satu hukuman. Dan yang terpenting, sistem di negara-negara asal turis tersebut berjalan dengan baik.
ADVERTISEMENT
Bicara soal sistem, Indonesia sebenarnya sudah memiliki aturan yang cukup lengkap tentang berkendara di jalan. Tapi kemudian muncul pertanyaan apakah jika aturan sudah ada, otomatis sistem akan berjalan. Kalaupun ada kekurangan, hanya dalam jumlah kecil saja.
Jangan salah mengartikan antara sistem dan pelaksana aturan. Pelaksana aturan di jalan terdiri dari penegak aturan (Kepolisian dan Dinas Perhubungan) dan pengguna jalan (masyarakat). ketiga komponen tersebut saling berkait dan mutlak ada. Ketiadaan salah satu komponen dalam sistem keselamatan, maka sistem akan menjadi pincang. Dan kesemrawutan ini berlaku tidak hanya di moda jalan raya, tapi sangat mungkin terjadi di moda pelayaran.

Impian Jalan Tanpa Batas Kecepatan

Pernahkah pembaca berangan-angan mengendarai mobil di jalan bebas hambatan tanpa ada batas kecepatan secara legal? Jalannya mulus, tidak sekedar beton tapi serasa naik speedboat di sungai. Tidak ada mobil patroli yang akan mengejar sekalipun mobil dipacu hingga 300 km/jam. Tidak ada mobil lambat di lajur paling kanan. Semua itu bukan sekedar impian, tapi kenyataan.
ADVERTISEMENT
Jerman memiliki jalan raya federal yang disebut Autobahn atau dalam bahasa resminya disebut Bundesautobahn (disingkat BAB). BAB ini memiliki banyak lajur sebagaimana jalan tol di Indonesia. Kesamaan lainnya, semua BAB berbayar seperti di negara kita.
Berkendara di BAB Jerman adalah tempat paling tepat untuk mewujudkan impian seperti di film balapan mobil. Tidak ada pembatasan hingga 100 km/jam. Begitu rambu akhir batas kecepatan terlihat, pengendara bebas memacu kecepatan yang diinginkannya. Tentunya, tergantung kondisi cuaca dan tingkat keramaian di dalam BAB.
Namun demikian, kita tidak bisa seenaknya meniru hal tersebut di Indonesia. Ada banyak hal yang berbeda antara jalan tol di Indonesia dan BAB. Jika salah menilai variabel, yang terjadi malah kuburan massal di jalan tol sebagaimana Tol Cipali dan Cipularang.
ADVERTISEMENT

Mengapa Kecepatan Harus Dibatasi

Kementerian Pekerjaaan Umum telah menerbitkan serangkaian regulasi tentang aturan pembuatan jalan raya, jalan tol, dan jalan lainnya untuk kendaraan darat. Regulasi tersebut sebenarnya sama dengan yang dibuat di negara-negara lainnya. Setiap butir aturan didasari oleh kajian teknis menyangkut kendaraan yang lewat, struktur jalan, dan kondisi lingkungan di sekitar jalan tersebut.
Ketika duduk di bangku Sekolah Dasar, setiap siswa pasti diajarkan tentang teori gesekan. Ada gesekan yang menguntungkan, yaitu gesekan antara kampas rem dan piringan cakram rem serta gesekan antara roda dan jalan. Tanpa ada gesekan tersebut, kendaraan tidak bisa dihentikan. Meskipun sebagian besar kecelakaan di jalan adalah kecelakaan tunggal, namun dampaknya terhadap korban luka dan jiwa tidak dapat dikesampingkan begitu saja.
ADVERTISEMENT
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kemampuan suatu kendaraan untuk berhenti. Faktor pertama adalah kecepatan. Ada aksioma yang disepakati secara umum bersama bahwa semakin tinggi kecepatan, semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk melakukan pengereman hingga suatu kendaraan berhenti. Sebuah penelitian yang dilakukan Quddus, Wang, dan Zhou (2018) menegaskan hal tersebut bahwa peningkatan 1% kecepatan berbanding lurus dengan peningkatan 0,7% kecelakaan di jalan raya. Penelitian tersebut mendukung hasil penelitian Poppof dan Liu (1997) yang menemukan bahwa penurunan kecepatan 1 km/jam akan menurunkan kecelakaan sebesar 7% di jalan raya Amerika.
Faktor kedua, semakin berat massa suatu kendaraan beserta muatannya, semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk menghentikan kendaraan tersebut. Kerja rem suatu kendaraan selalu dibuat berdasarkan skenario ketika kendaraan tidak sedang digunakan kelebihan muatan. Jika kendaraan kelebihan muatan, kerja rem menjadi lebih berat dan bisa menyebabkan tidak efektif apabila piringan dan cakram rem sudah memerah. Ketika suatu truk kelebihan muatan (overload) melaju di jalan tol, maka truk tersebut pada dasarnya sedang memperpendek usia pakai jalan tol. Dengan kualitas jalan yang menurun, Wang dan Tao (2018) menegaskan bahwa kualitas jalan akan menurun dan menyebabkan kemacetan.
ADVERTISEMENT
Faktor ketiga, gradien jalan. Fu et.al (2011) menemukan hubungan antara kemiringan suatu jalan dan kecelakaan. Kecelakaan pada jalanan di pegunungan ketika kendaraan bergerak menurun terlihat lebih sering daripada yang menanjak. Yang menarik adalah bahwa kemiringan yang curam tidak berkontribusi besar pada kecelakaan. Justru, kecelakaan paling banyak terjadi pada jalan menurun yang panjang (lebih dari 2 km) seperti yang ada di Tol Cipularang.
Faktor keempat, kecepatan pengendara untuk melakukan pengereman. Jika kendaraan di depannya melambat, tapi pengendara lambat merespons, maka waktu yang diperlukan untuk melakukan pengereman menjadi semakin terbatas. Terlambatnya waktu merespons ini bisa karena kelelahan atau gangguan. Kelelahan dalam bahasa internasional adalah fatigue adalah kelelahan di mana konsentrasi pengemudi menurun dan tidak dapat memberikan respons tepat pada suatu situasi darurat. Sementara itu, gangguan dapat berasal dari ponsel, berbicara dengan seseorang di dalam kendaraan, melihat/membaca suatu gambar/iklan, atau gangguan visual karena cuaca.
ADVERTISEMENT
Dari serangkaian faktor di atas, alangkah tidak eloknya jika kita merasa pintar sendiri dengan enggan mematuhi peraturan keselamatan. Pembuat aturan di jalan raya luar negeri yang sering dijadikan rujukan peraturan di Indonesia sudah melakukan penelitian yang tidak perlu lagi diragukan kualitasnya. Memang, sistem keselamatan belum berjalan dengan baik. Batas kecepatan tidak ada artinya. Akan tetapi, jika tidak ada yang memulai, siapa lagi? Keselamatan sama seperti kesehatan yang mana baru terasa nikmatnya jika kita kehilangan mereka.
sosmed-whatsapp-whitesosmed-facebook-whitesosmed-twitter-whitesosmed-line-white