Pencarian populer
USER STORY
13 Februari 2018 1:47 WIB
0
0
Uang panai; antara keseriusan dan status sosial.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa suku Bugis merupakan salah satu suku yang kerap kali menjadi bahan perbincangan ketika membahas tentang pernikahan, bagaimana tidak orang (terutama laki-laki) akan mengerutkan kening jika sudah berurusan dengan mahar apalagi mahar dalam suku Bugis yang nilainya sangat fantastis atau biasa disebut Uang Panai.
Uang panai sendiri adalah uang yang diberikan pihak laki-laki kepada perempuan untuk membiayai belanja pengantin perempuan, hal inilah yang mengakibatkan mahalnya uang panai karena tradisi suku Bugis sendiri dalam perihal perkawinan cukup banyak sebelum sampai pada hari pernikahan.
Dalam tradisi suku Bugis uang panai dihubungkan dengan seberapa besar keseriusan lelaki meminang perempuan, nilai yang diberikan pun tak tanggung-tanggung karena disitulah letak indikator keseriusan lelaki menghalalkan perempuan yang dicintainya, ada juga semacam kepercayaan yang berkembang pada masyarakat suku Bugis bahwa sulitnya mendapatkan perempuan suku Bugis akan berhubungan langsung dengan susahnya melepaskan/menceraikan perempuan tersebut.
dikemudian hari uang panai menjadi momok tersendiri bagi lelaki yang ingin mempersunting perempuan yang dicintainya, selain karena tingginya besaran uang panai juga ternyata uang panai memiliki faktor-faktor penentu lain yang memutuskan besarannya, misalnya faktor pendidikan, keturunan, dan pekerjaan.
tulisan ini dibuat bukan untuk menentang tradisi yang sudah memasyarakat di masyarakat Bugis, sedikit pertanyaan nakal harus diungkapkan misalnya seberapa besar jaminan besarnya uang panai dapat berbanding lurus dengan kesungguhan lelaki menikahi perempuan yang dicintainya?
Seorang lelaki yang sudah terlanjur kaya turunan tidak bisa disamakan begitu saja dengan lelaki yang mencari rezeki dari hasil keringatnya sendiri, lalu bagaimana bisa besaran uang panai digunakan sebagai standar menguji keseriusan lelaki?
yang terjadi kemudian adalah uang panai menjadi pembeda status sosial seseorang dan menempatkan pasangan suami istri pada posisi-posisi tertentu di mata masyarakat, semakin tinggi uang panai semakin terpandang di masyarakat, lalu orang tua berlomba-lomba mematok harga yang cenderung mendiskriminasi lelaki yang akan memperistri anaknya untuk dapat pengakuan di mata masyarakat, hal ini telah jauh dari spirit budaya uang panai generasi pendahulu yang ingin melihat keseriusan lelaki mempersunting perempuan.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2018 © PT Dynamo Media Network
Version: web: