News
·
3 Agustus 2021 21:52
·
waktu baca 4 menit

Kebebasan Berpendapat Akan Selalu Ada

Konten ini diproduksi oleh Reynaldo Dion
Pembahasan mengenai kebebasan pendapat memang tidak akan ada habisnya. Kata bebas pun punya arti dan batas bagi setiap orang. Misalnya membicarakan isu sara, pembahasan itu sangat sensitif sekali di Indonesia. Padahal jika ada pembahasan secara terbuka maka ada sesuatu yang harus diperbaiki bukan malah dibiarkan begitu saja. Tetapi kebebasan berpendapat tidak akan pernah hilang dan akan ada dalam bentuk apa pun. Bisingnya sosial media sekaligus informasi yang begitu cepat bersirkulasi nyatanya tak cuma berdampak pada bentuk perhatian warganet di sosial media dan keingintahuan mengeksplor suatu topik, tetapi juga menajamkan rentang perhatian dan meningkatkan kualitas diri. Acap kali menemukan caption atau tweet yang berisi sindiran terhadap sesuatu tetapi dalam bentuk satir. “Memang aneh pemerintah mesir kuno, dikala pandemi seperti sekarang malah mengucurkan Rp 72 miliar untuk promosi pariwisata”. Begitulah salah satu contoh bentuk satir yang sering bermunculin di sosial media Indonesia. Kebijakan atau statement apa yang sering dilontarkan oleh pejabat, dan untuk tidak menyinggung secara terang-terangan tinggal mengganti nama negara atau pemerintahannya dalam bentuk lain.
Kebebasan Berpendapat Akan Selalu Ada (141818)
searchPerbesar
Aksi demo Omnibus Law di Malang Pada 23 September 2019. Sumber : Foto Pribadi ketika ikut demo
Satire standarnya memuat seni dalam berbahasa, seperti ironi, parodi, hiperbola dan anthropomorfisme (mengatribusikan karakteristik manusia ke karakter bukan manusia). Karakteristik satire sebenarnya membantu kita memahami atau peduli akan suatu karena sifatnya yang mendorong pada perubahan positif. Sebab satire pasti mempunyai objek untuk dikritis. Target satire ini lazim disamarkan atau disimbolisasi sedemikian rupa, sehingga objek acap kali tidak terasa bahwa dirinyalah yang sedang dikritik. Terkadang satire dikemas dan disampaikan lewat humor untuk mengobati kedunguan saja. Intensi baik penciptaan satire inilah yang menjadi perbedaan utama dengan hoaks atau berita bohong di dalam konteks kebebasan berpendapat yang kental dengan misi menjatuhkan.
ADVERTISEMENT
Namun hal itu sering disalahartikan dan digunakan oleh penyebar hoaks selalu menggunakan dalih kebebasan berpendapat. Ironisnya, kebebasan berpendapat kian lemah di tengah menjamurnya hoaks. Padahal penggunaan hak kebebasan berpendapat merupakan turunan dalam upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Sedangkan pendapat atau opini sering kali berujung hoaks jika tak dilengkapi data pendukung yang kuat. Tudingan-tudingan yang sifatnya opini kadang dilandasi asumsi, ilusi, atau kepentingan penguasa. Tidak jarang, tuduhan-tuduhan itu merujuk pada satu berita yang tak bisa dipastikan kebenarannya. Padahal dengan adanya kritik sosial merupakan sebuah inovasi sosial yang dapat menjadi sarana komunikasi gagasan baru sekaligus mengevaluasi gagasan lama untuk perubahan sosial. Hal ini juga upaya membandingan dengan cermat tentang perkembangan kualitas masyarakat, tujuannya untuk mewujudkan perubahan sosial dan pencerahan.
Kebebasan Berpendapat Akan Selalu Ada (141819)
searchPerbesar
Pemasangan spanduk di depan gedung DPRD Kota Malang. Sumber : Foto Pribadi ketika ikut demo
UU ITE yang semestinya digunakan untuk mengawasi hoaks dan kebebasan berpendapat di internet malah jadi alat penguasa untuk mengamankan citranya. Pemerintah berdalih bahwa UU ITE ini dibutuhkan, dalam upaya pengendalian dan pengawasan hoaks di masyarakat. Hoaks memang masih banyak, tapi bukan berarti sama dengan tingginya kebebasan berpendapat. Karena sering kali apa yang dilakukan pemerintah memberantas hoaks tidak efektif dan justru membungkam kebebasan tersebut.
ADVERTISEMENT
Perlindungan terhadap kebebasan berpendapat termasuk hal yang penting. Pengabaian terhadap perlindungan hak kebebasan berpendapat bisa menyebabkan menurunnya tingkat partisipasi dan kreativitas dari warga negara. Kreativitas dan partisipasi merupakan bagian dari iklim demokrasi. Kedua aspek ini muncul dengan berbagai macam cara untuk bertahan dalam menyampaikan pendapat. Apalagi di masa sulit seperti saat ini menyikapi segala hal informasi yang begitu cepat di dunia maya adalah cara yang sulit tetapi bisa dicoba. Keadaan seperti ini yang membuat masyarakat Indonesia malah berpikir makin kritis dalam semakin peduli dengan segala kebijakan dan pendapat yang dikeluarkan oleh pemerintah. Cara berpikir kritis sangat diperlukan untuk menyelesaikan masalah. Dengan berpikir kritis, mampu mencari solusi yang tepat dan efektif untuk dapat menyelesaikan permasalahan yang terjadi. Untuk dapat melihat suatu permasalahan yang terjadi, tidak boleh hanya menggunakan satu sudut pandang saja. Dibutuhkan berbagai sudut pandang untuk dapat melihat permasalahan tersebut, dengan lihat permasalahan dari berbagai sudut pandang maka dapat memahami masalah tersebut. Tidak hanya itu tetapi juga dapat menilai bagaimana cara menyikapi permasalahan tersebut.
ADVERTISEMENT
Cara untuk menyampaikan pendapat juga aspek yang tidak boleh dilupakan sebagai upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Kecerdasan tidak hanya diukur dengan seberapa banyak warga negara bisa menikmati sistem pendidikan konvensional, melainkan tingginya atensi partisipasi publik merupakan hal yang harus diperhatikan. Berbagai bentuk satire nantinya akan terus bermunculan, UU ITE yang sekarang dirasa begitu kejam dalam memberangus kebebasan berpendapat akan menjadi “lunak” dan berubah menjadi kejam kembali. Nantinya ini akan menjadi siklus yang tidak ada hentinya
Sesuatu yang dipaksa untuk diam nyatanya dia tidak hilang tetapi tetap ada akan ada dan bangkit kembali. Kebebasan berpendapat pada era pemerintahan orde lama dan orde baru memiliki sejarah kelam. Seseorang yang mengkritik pemerintah akan dipidanakan dan dicekal dari lingkungan sosial. Ternyata perilaku pemerintah sama seperti halnya pop culture yang selalu berputar dan terjadi kembali.
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-whitesosmed-facebook-whitesosmed-twitter-whitesosmed-line-white