kumparan
28 Jan 2019 11:35 WIB

Wisata Edukasi Bencana ke Sesar Lembang

Bandung, 26 Januari 2019, Geotour Indonesia dan Wanderlust Indonesia bekerja sama dengan U-Inspire Indonesia dan Pusat Penelitian Mitigasi Bencana Institut Teknologi Bandung (PPMB ITB) melaksanakan #SesarLembangTrip atau aktivitas Geowisata ke Sesar Lembang yang dipandu oleh ahli Geologi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Mudrik Daryono dan ahli Geowisata dari Geotour, Reza Permadi.
ADVERTISEMENT
Kegiatan ini mengunjungi beberapa destinasi yang memiliki kaitannya dengan Sesar Lembang, yaitu Gunung Batu di Lembang dan Kampung Seni Cilanguk. Sesar Lembang adalah salah satu dari 295 sesar aktif yang berada di Indonesia.
Menurut Mudrik Daryono (2016), yang melakukan penelitian di Sesar Lembang, Sesar Lembang memanjang sejauh 29 kilometer mengarah Barat ke Timur dari Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, hingga daerah Batu Lonceng di Kabupaten Bandung dan memiliki pergeseran 3-5,5 milimeter/tahun.
Kegiatan diawali dengan safety briefing dan diskusi singkat dari ahli geologi terkait Sesar Lembang di ROXO Café--adalah sebuah café yang tepat berada di bawah Gunung Batu. Usai briefing, peserta diajak trekking ke atas Gunung Batu dan belajar di alam terbuka, di kelas yang memiliki dinding Sesar Lembang dengan beratapkan langit biru.
ADVERTISEMENT
Di salah satu titik jalur trekking, terdapat papan ber-QR code yang apabila dipindai atau di-scan akan membawa kita ke website Geotour yang berisi segala sesuatu mengenai Sesar Lembang yang disarikan dari disertasi Mudrik Daryono.
Selain informasi geologi, Sejarah Kegempaan Sesar Lembang juga ada di dalam Legenda Sangkuriang dan beberapa kearifan lokal yang ada, dari hasil diskusi di lapangan terdapat fakta-fakta baru yang berkaitan dengan fenomena Sesar Lembang:
  • Sangkuriang menebang pohon raksasa yang roboh ke arah barat dengan suara keras. Cerita ini boleh jadi merupakan jalur sesar aktif dan kejadian gempa bumi yang mirip dengan kejadian pohon tumbang. Pernyataan raksasa dan suara keras menunjukkan bahwa kejadian getarannya besar, lebih besar dari pohon tumbang pada umumnya.
  • Kemudian arah roboh ke barat, menunjukkan seakan-akan pohon raksasa khayalan tersebut berada melintang ke arah barat-timur.
  • Posisi rebahnya pohon raksasa khayalan ini juga diceritakan rinci pada cerita kedua dan ketiga bahwa bagian tunggul/batang utama bawah berada di Bukit Tunggul dan bagian atasnya daun-ranting berada di Gunung Burangrang. Lokasi pohon yang roboh ini sesuai dengan hasil pemetaan jalur sesar aktif yang melintang barat-timur, bagian timur berupa jalur sesar tunggal dan bagian barat adalah cabang-cabang sesar akibat pembelokan jalur Sesar Lembang.
  • Terbentuknya danau dalam satu malam, boleh jadi terkait dengan mekanisme kinematika Sesar Lembang bahwa terbentuknya danau-danau akibat pergerakan sesar yang menyebabkan juga pergeseran vertikal. Pergeseran vertikal ini yang menyebabkan terbendungnya sungai sehingga membentuk lima danau yang menyebar di sepanjang sisi atas/utara Sesar Lembang. Terbendungnya sungai-sungai sehingga menjadi beberapa danau dalam waktu satu malam sangat besar terjadi akibat retakan permukaan akibat gempa bumi.
  • Di daerah Batu Lonceng terdapat sebuah lonceng yang mana lonceng itu berbunyi menandakan Sesar Lembang sedang bergerak.
Selain belajar mengenai Sesar Lembang, rute #SesarLembangTrip juga mengunjungi Kampung Seni Cilanguk yang merupakan Kampung studio sekaligus tempat tinggal 12 orang seniman terkenal di Bandung.
ADVERTISEMENT
Upaya Mitigasi atau Hidup Harmoni dengan Sesar Lembang
Sesar Lembang adalah faktor peristiwa alam yang seharusnya bisa di pelajari untuk Tata Ruang Wilayah di Jawa Barat. Di Amerika, jarak 15 meter dari jalur sesar aktif yang berarti 30 meter lebar tidak boleh dibangun (California, 1990). Sedangkan di New Zealand adalah 20 meter dari jalur sesar aktif yang berarti 40 meter lebar tidak boleh dibangun (McClymont, 2001).
Untuk di Sesar Lembang, perlu dilakukan pemetaan jalur sesar aktif rinci, tetapi melihat dari karakteristiknya, jarak 30 meter dari jalur sesar Lembang yang berarti 60 meter lebar tidak boleh dibangun. Kalau pun sudah terlanjur dibangun, baiknya bangunan tersebut tahan gempa.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan