kumparan
18 Mei 2019 11:24 WIB

Deep Learning dan AlphaGo

Oleh: Ricky Suwarno
18 Mei 2019
Sense Time adalah perusahaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence = AI) atau Unicorn AI terbesar di dunia yang didirikan di Hong Kong pada tahun 2014. Mereka punya kantor tambahan di Singapura, Jepang, dan AS. Sense Time memiliki total pembiayaan atau valuasi terbesar dalam industri AI.
ADVERTISEMENT
Sense Time telah menjadi platform inovasi terbuka nasional China untuk AI generasi selanjutnya dalam Visi Cerdas. Contohnya seperti computer vision, deep learning, pengenalan wajah, deteksi objek, mobil otonom, kota cerdas, dan sebagainya.
Mengapa deep learning atau pembelajaran mendalam begitu penting dalam bidang AI?
Bicara soal AI, saat ini, Google jadi salah satu perusahaan yang begitu aktif berinovasi. Lihat saja produk mereka, mulai dari AlphaGo hingga mobil otonom Waymo. Diketahui, investasi R&D tahunan Google yang 'dibakar' untuk riset melebihi USD 12 miliar.
Sekali lagi, dana sebesar itu digunakan khusus untuk riset, bukannya biaya operasi tahunan perusahaan. Itulah sebabnya, muncul produk-produk teknologi mutakhir macam AlphaGo, Waymo, dan lainnya.
Pada tahun 2014, Google bersedia membayar USD 660 juta untuk membeli sebuah perusahaan startup kecil, Deep Mind. Perusahaan ini hanya terdiri dari 12 orang dan tanpa ada produk nyata apa pun. Namun, Deep Mind menggunakan deep learning untuk bermain game dan catur. Itulah yang membuat Google tertarik dan bersedia berinvestasi sedemikian besar, karena mereka menghormati teknologi asli dan talenta di dalamnya.
ADVERTISEMENT
Pada tahun 2016, AlphaGo mampu mengalahkan Lee Sedol, pecatur Go nomor satu dari Korea Selatan. Sejak saat itu, teknologi deep learning menjadi isu yang sangat 'panas' di China. Padahal sebelumnya, hampir tidak ada investor China yang peduli dengan deep learning.
Kemenangan AlphaGo itu mampu membangun kesadaran raksasa China bahwa mereka harus memperhatikan dan menaruh besar perhatian, investasi, talenta, dan segala sumber daya mereka untuk riset teknologi ini. Media mainstream di China pun ramai memperbincangkan kemenangan AlphaGo itu secara gila-gilaan dan luar biasa.
Hal ini mengingatkan saya dengan krisis Sputnik di AS pada tahun 1957. Sebuah periode ketakutan AS terhadap kemajuan teknologi yang dicapai Uni Soviet saat itu, di mana Negara Adikuasa dari Blok Timur itu mampu meluncurkan Sputnik 1, satelit artificial pertama di dunia, ke angkasa. Peristiwa penting pada awal Perang Dingin itu lantas berujung pada pembuatan NASA dan perlombaan teknologi luar angkasa antara AS dan Uni Soviet.
ADVERTISEMENT

Saat media-media China sedang hot-hot-nya membahas AlphaGo, media asing AS malah sedang sibuk memberitakan kehebohan skandal seks Donald Trump. Tampaknya, skandal seks Trump jauh lebih menarik daripada kemajuan teknologi dalam peradaban manusia.

Sejak saat itu, deep learning adalah kata keywords yang paling banyak dicari dan bermunculan dalam searching engine buatan China, Baidu; juga Google. Dibandingkan negara lain, China jadi bangsa yang paling haus mempelajari deep learning.
Just like grandma says, ketika kita tidak mengerti sesuatu, dan sudah sekian lama China kekurangan riset teknologi asli. Atau singkatnya, ketika kita tidak memahami sama sekali, kita baru merasa hal tersebut sangatlah luar biasa. Bila anda adalah seorang terpelajar atau pakar dalam bidang tertentu, anda akan tahu sejauh mana tingkat dan kemampuan lawanmu. Berada di atas atau di bawah levelmu.
ADVERTISEMENT
Untuk mempelajari lebih lanjut tentang perkembangan teknologi terkini, bisa menelusuri: https://artificialintelligenceindonesia.com/
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan