Pencarian populer

Mengapa AS Bakal Kalah dalam Perang Dagang dengan China?

Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Foto: Reuters/Thomas Peter

Perang Dagang AS-China. Telah menjadi salah satu topik terpanas di dunia sejak tahun lalu. Hampir selalu menempati halaman depan setiap negara di dunia.

Daya saing suatu negara ditentukan oleh jumlah populasi yang terlibat dalam pembagian kerja. Tren perkembangan industri modern adalah pembagian tenaga kerja yang semakin baik. Produk yang semakin kompleks dan aksesoris dasar yang semakin banyak.

Pada bagian inti suatu industri, komponen dasar harus disesuaikan dengan setiap individu. Industri inti tidak dapat membentuk masyarakat yang lengkap dengan sendirinya. Mereka membutuhkan tenaga kerja dari industri tersier dan kerja sama industri primer.

Masa depan industri suatu negara adalah populasi industri. Selain itu, populasi industri tidak hanya menentukan ukuran ekonomi industri. Tetapi juga menentukan kompleksitas dan tingkat lanjut dari sistem industri.

Pada akhir abad ke-19, sistem industri hanya mengandalkan kekuatan mesin uap. Produk industri yang paling rumit saat itu adalah kapal besi. Satu kapal besi saja memerlukan ratusan ribu spare parts. Jadi, untuk membuat kapal besi, suatu negara memerlukan beberapa juta orang untuk memanufaktur industri intinya. Umpamanya Belgia, dengan populasi 4 juta orang.

Revolusi industri kedua, sistem industri telah bertambah dua kategori. Industri listrik dan kimia. Jenis komponen dasar juga telah meningkat beberapa kali lipat. Pada saat ini, hampir 10 juta tenaga kerja industri inti diperlukan untuk mempertahankan sistem industri yang lengkap.

Pada saat itu, Belgia dan Prancis yang berpopulasi kurang dari 40 juta orang sudah tidak mampu memenuhi system industri yang lengkap. Dan akhirnya berhasil dikalahkan oleh Jerman yang berpenduduk 60 juta.

Pada saat Perang Dunia II, jumlah permintaan komponen dasar terus meningkat sampai beberapa juta. Membuat Prancis di "KO"-kan dalam sebulan karena kurangnya SDM.

Ketika dunia memasuki Era Nuklir, sistem industri nuklir yang lengkap membutuhkan puluhan juta spare parts dasar. Sehingga, cuma AS dan Uni Soviet dengan populasi 100 juta ke atas yang memenuhi syarat untuk menjadi negara industri kelas dunia. Negara lainnya hanya dapat menjadi pengikut.

Selama periode ini, meskipun Inggris dan Prancis sama-sama anggota tetap Dewan Keamanan PBB, dan memiliki senjata nuklir, namun mereka hanya dapat menerima nasib karena keterbatasan jumlah populasinya.

Sejarah jelas menunjukkan bahwa daya saing suatu negara, bukan saja ditentukan oleh jumlah populasi yang terlibat dalam pembagian kerja. Tetapi juga bergantung pada berapa banyak populasi internasional yang dilibatkan dalam pembagian kerja negara tersebut.

Sebagai contoh, pada tahap akhir Perang Dingin, jumlah komponen industri meningkat sampai lebih dari 30 juta. 200 juta penduduk AS maupun Uni Soviet telah masing-masing terbagi oleh berbagai sektor industri tersendiri. Sehingga, sulit untuk berkembang menjadi negara industri yang lebih kompleks.

Demi mempertahankan kekuatan industri, dan menciptakan lebih banyak senjata modern, baik AS maupun Uni Soviet berusaha melibatkan negara lain ke dalam Perang Dingin ini.

AS memindahkan industri sipilnya ke luar negeri. Pada saat yang sama, menggunakan alat keuangan USD untuk terus mendominasi produk-produk dari pabrik luar negeri. Dan menghidupi penduduk AS, berfokus pada perlombaan senjata dengan Uni Soviet.

Dengan cara ini Jepang, Jerman, dan China pada 1980-an telah menyumbangkan tenaga kerja industri yang diperlukan untuk Perang Dingin kepada AS. Sehingga, meningkatkan kompleksitas industri dan teknologi tinggi AS.

Kurangnya populasi menyebabkan Uni Soviet hanya bisa terfokus pada industri militer dan industri berat. Pada saat runtuhnya Uni Soviet, total populasi Uni Soviet hanya 280 juta. Tetapi ada 70 juta pekerja industri. Artinya, di antara 4 orang Uni Soviet, salah satunya adalah pekerja industri. Ini secara langsung menyebabkan berkurangnya tenaga kerja industri dalam jangka panjang. Yang akhirnya membawa keruntuhan.

Dari perspektif populasi, Eropa terpaksa harus akhirnya berintegrasi. Bukan karena mereka ingin melakukannya. Tetapi jika tidak mengintegrasikan populasinya, kapasitas produksi dari 20 negara di Eropa ini, negara Eropa tidak akan mampu bersaing di zaman industri yang membutuhkan populasi ratusan juta orang.

Dengan tingkat kelahiran dan ukuran populasi UE saat ini, revolusi industri ketiga sudah mencapai batasnya. Persyaratan revolusi industri keempat yang membutuhkan kompleksitas seluruh rantai industri, dan jumlah pekerja industri sudah tidak terjangkau oleh Uni Eropa lagi.

Saat ini, hanya ada dua negara yang dapat mencapai standar pembuatan pesawat tempur generasi ke-4 atau ke-5, yakni AS dan China. Di Eropa, tidak ada negara yang mampu secara mandiri melakukan penelitian dan pengembangan pesawat tempur generasi ke-5 lagi.

Pesawat tempur generasi ke-5, F-35, anya dapat dikembangkan UE bersama dengan AS. Ingat, ini harus dikombinasikan dengan Eropa dan AS. Walaupun, kekuatan mereka dikombinasikan, kapasitas chip komputer on-board pesawat tempur akan meningkat berlipat ganda setiap 18 - 24 bulan. Diikuti ukuran perangkat lunak akan berlipat ganda juga. Menyebabkan seluruh proses pengembangan menjadi sangat sulit.

Pesawat tempur F-22, the Raptor yang beroperasi pada tahun 2002, perangkat lunak komputer onboard-nya telah mencakup 4 juta baris kode sumber. Sedangkan, perangkat lunak F-35 memiliki 19 juta baris kode sumber. Perangkat lunak F-22 ditulis oleh orang Amerika dengan menggunakan bahasa tingkat tinggi militer.

Namun, seiring peningkatan level kecanggihan, kode sumber juga meningkat berlipat ganda. Sehingga, AS tidak ada lagi programmer yang mengerti bahasa tersebut. Akibatnya, mereka harus mengubahnya dengan bahasa C sipil.

Kemudian, talenta programmer bahasa C pun tidak mampu memenuhi permintaan pasar. Akibatnya, pengembangan perangkat lunak F-35 harus ditunda. Dan tentu saja, biaya produksi pun melangit.

Saat ini, pesawat tempur F-35 belum resmi diproduksi secara massal, tetapi biayanya telah melampaui harga produksi pesawat tempur F-22.

Bayangkan, dengan kombinasi kekuatan AS dan Eropa, pembuatan pesawat tempur generasi ke-4 ini masih sangat sulit. Apalagi kalau UE harus produksi sendiri. Itulah sebabnya, sangat tidak masuk akal bila UE bisa memicu Revolusi Industri ke-4 sendirian.

Just like grandma says, untuk dapat mempertahankan peningkatan sistem industri, suatu negara harus memiliki populasi industri yang memadai. Setiap kali munculnya teknologi baru yang lebih kompleks, hanya dengan pekerja dan teknisi yang cukup, peningkatan industri baru dapat dilanjutkan.

Dalam setiap peningkatan industri, hanya negara dengan populasi yang cukup dapat mengalahkan semua lawan. Seiring datangnya revolusi industri ke-4 yang diwakili fusi nuklir, kecerdasan buatan, dan komputasi kuantum, seluruh Eropa akan menjadi kartu Domino. Satu per satu negara Uni Eropa, ataupun AS nantinya akan berjatuhan. Karena jumlah populasi adalah syarat mutlak, untuk mendukung keberlanjutan manufaktur industri suatu negara secara lengkap.

Untuk mempelajari lebih lanjut tentang perkembangan teknologi terkini, bisa menelusuri: https://artificialintelligenceindonesia.com/

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.57