Kumparan Logo
Ilustrasi menanam mangrove
Ilustrasi menanam mangrove

Wakaf Hijau: Menanam Teduh dari Jawa hingga Papua

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pemandangan udara menunjukkan rumah-rumah yang sebagian terendam air laut akibat banjir pasang surut di sepanjang pantai. Foto: Devi Rahman/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Pemandangan udara menunjukkan rumah-rumah yang sebagian terendam air laut akibat banjir pasang surut di sepanjang pantai. Foto: Devi Rahman/AFP

Di pesisir utara Jawa, ada kampung-kampung yang perlahan kehilangan daratannya. Air laut datang lebih sering dan halaman rumah yang dulu menjadi tempat anak-anak mengaji kini tergenang rob. Ribuan kilometer ke timur, nelayan di pesisir Papua dan Maluku menjaga hutan bakau yang menjadi sumber hidup mereka, sering kali tanpa banyak dukungan. Sementara di Sumatera, hamparan lahan yang dulu hijau kini terbuka dan kritis, menunggu tangan yang mau menanaminya kembali.

Tiga potret itu menyampaikan satu pesan yang sama: krisis iklim bukan lagi cerita masa depan, melainkan telah hadir di depan halaman rumah kita. Pertanyaannya, dengan apa kita menghadapinya? Salah satu jawabannya, menariknya, sudah kita kenal sejak kecil: wakaf.

Wakaf yang lebih luas dan harus dimulai dari sekarang

Selama ini wakaf kerap dipersempit menjadi tiga hal: masjid, madrasah, dan makam. Padahal maknanya jauh lebih luas, yakni menahan harta agar manfaatnya terus mengalir bagi banyak orang, bahkan melintasi generasi. Empat belas abad lalu, Utsman bin Affan mewakafkan sebuah sumur di Madinah agar seluruh penduduk, kaya maupun miskin, dapat mengambil airnya. Sumur itu pada hakikatnya adalah wakaf lingkungan pertama yang kita kenal.

Dari semangat itu lahir gagasan wakaf hijau, yaitu wakaf yang manfaatnya diarahkan untuk menjaga dan memulihkan alam: menanam hutan di lahan kritis, merehabilitasi mangrove, membangun irigasi bagi petani, hingga menghadirkan energi bersih bagi kampung terpencil. Para ulama menegaskan bentuk wakaf semacam ini sangat dianjurkan karena manfaatnya menyentuh hajat hidup orang banyak.

Setidaknya ada tiga alasan mengapa wakaf hijau kian mendesak. Pertama, kerusakan lingkungan kita nyata dan berskala besar. Kementerian Kehutanan mencatat Indonesia masih menghadapi tantangan pemulihan 12,7 juta hektare lahan kritis. Di pesisir, Indonesia dianugerahi ekosistem mangrove terluas di dunia, sekitar 3,46 juta hektare, yang menjadi benteng alami bagi lebih dari 17 ribu kilometer garis pantai dan menopang kehidupan sekitar 50 juta masyarakat pesisir, meskipun tekanannya terus meningkat dalam satu dekade terakhir.

Kedua, kebutuhan dananya jauh melampaui kemampuan anggaran negara. Bappenas memperkirakan pembiayaan untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan hingga 2030 tidak kurang dari Rp67 ribu triliun (Badan Wakaf Indonesia). APBN dan APBD tidak akan pernah cukup, sehingga diperlukan sumber pembiayaan alternatif yang berakar pada partisipasi masyarakat, dan di sinilah wakaf menemukan panggungnya.

Ketiga, modal sosialnya sudah kita miliki. Tanah wakaf di Indonesia tersebar di lebih dari 440 ribu titik dengan luas sekitar 57 ribu hektare (Data Sistem Informasi Wakaf (SIWAK) Kementerian Agama), dan Badan Wakaf Indonesia bersama UNDP telah menyusun Green Waqf Framework sebagai peta jalan pengembangannya. Fondasinya sudah ada, sehingga yang dibutuhkan sekarang adalah gerakan.

Setiap Daerah Memiliki Wajahnya Sendiri

Ilustrasi krisis iklim. Foto: HM Shahidul Islam/Shutterstock

Dampak krisis iklim tidak dirasakan secara merata, sehingga wakaf hijau pun semestinya tidak berwajah tunggal. Di Jawa, tekanan terbesar ada di pesisir utara yang dihantui rob dan penurunan muka tanah, serta di kantong pertanian yang rentan kekeringan; wakaf hijau dapat berwujud sabuk mangrove penahan abrasi, sumur resapan, embung, dan irigasi wakaf. Di Sumatera, yang memiliki lahan kritis terluas secara nasional, hamparan bekas degradasi justru bisa menjadi ladang amal melalui hutan wakaf dan agroforestri bernilai ekonomi seperti kopi dan aren, yang hasilnya kembali kepada masyarakat.

Di kawasan timur, tersimpan kekayaan terbesar, dengan hampir separuh mangrove nasional berada di Pulau Papua. Ironisnya, kawasan dengan aset alam terbesar ini justru sering kali paling sedikit menerima aliran pendanaan. Di sinilah keindahan wakaf hijau, ketika wakaf uang dari Jakarta atau Surabaya dapat tumbuh sebagai bakau di Teluk Bintuni, mengalirkan kebaikan dari daerah yang berkelimpahan dana menuju daerah yang berkelimpahan alam namun kekurangan dukungan.

Mulai dari Diri Hal kecil

Ilustrasi menanam mangrove Foto: Shutter Stock

Kabar baiknya, berwakaf hijau hari ini tidak menuntut kita menjadi tuan tanah. Pintu yang paling lapang adalah wakaf uang: dengan nominal mulai dari puluhan ribu rupiah melalui Lembaga Keuangan Syariah Penerima Wakaf Uang atau platform wakaf digital resmi, kita dapat memilih program penanaman mangrove, hutan wakaf, atau air bersih, dengan pokok yang dijaga dan hasilnya yang terus mengalir menjadi amal.

Bagi yang memiliki tanah, lahan menganggur dapat diikrarkan sebagai hutan wakaf yang dikelola nazhir profesional. Komunitas, mulai dari majelis taklim, rekan kantor, hingga alumni, dapat berhimpun mewakafkan satu petak mangrove atau satu sumur bagi desa rawan kekeringan, menjadikan gotong royong sebagai instrumen baru. Yang tidak kalah penting, kita dapat menjadi penyampai pesan bahwa wakaf tidak berhenti di pagar masjid.

Rasulullah SAW mengajarkan bahwa ketika anak Adam wafat, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara, dan salah satunya sedekah jariyah. Sulit membayangkan sedekah yang lebih jariyah daripada sebatang bakau: ia menahan ombak hari ini, menyimpan karbon esok hari, membesarkan ikan bagi nelayan tahun depan, dan masih berdiri ketika kita telah lama tiada, bahkan diyakini menyimpan karbon tiga hingga lima kali lebih besar dibandingkan hutan tropis daratan.

Kita tidak harus menunggu kaya untuk ikut menjawabnya. Cukup mulai dari yang kita mampu: selembar uang yang diwakafkan hari ini, yang kelak tumbuh menjadi akar-akar yang memeluk pantai. Sebab merawat bumi adalah ibadah, dan menanam teduh adalah salah satu jalannya yang paling indah.