Buzz
·
14 September 2021 21:42
·
waktu baca 2 menit

Kebaikanmu Adalah Kekuatanmu

Konten ini diproduksi oleh Rina Anita Indiana
Kebaikanmu Adalah Kekuatanmu (799220)
searchPerbesar
sumber : Unsplash
Setelah habis rokok sebatang beliau menyulut kembali rokok berikutnya. Tempat abu di sampingnya bahkan sudah hampir penuh. AC ruangan dimatikan sedangkan blower menyala kencang membuang udara bercampur asap yang tersedot naik.
ADVERTISEMENT
“Tidak bisa mengurangi kalau tentang rokok. Nah ini salah satu yang tidak boleh dicontoh dari saya. Yang lainnya boleh, lah.”
Beliau tertawa. Saya juga. Beliau bos paling tinggi di kantor saya. Atasan paling membumi. Beliau dekat dengan semua orang, termasuk karyawan kelas bawah seperti saya. Secara acak beliau mengundang karyawan ke ruangannya. lalu menampung keluh kesahnya, menyaring idenya.
Sesaat sebelumnya saya menanyakan apa rahasia dari keberhasilan beliau. Cabang kami dengan kepemimpinan beliau selalu menempati ranking tertinggi nasional, di segala segala aspek. Tanpa pernah sekalipun saya melihat beliau menampakkan otot leher. Tanpa sekalipun beliau marah. Saya kagum sekali.
“Di di sini, Rina.” Beliau menepuk dada.
“Lalu di sini.” Beliau membuat gerakan menembak kepala.
ADVERTISEMENT
“Buatlah timmu bekerja dengan sepenuh hati. Rebut hatinya. Kamu akan mendapatkan isi kepalanya.”
Saya termangu.
“Itu juga salah satu tujuan saya setiap hari mengirimkan kata motivasi ke seluruh alamat email di kantor ini. Untuk membakar semangat tim saya. Untuk membesarkan hatinya. Apa yang saya dapatkan? Kemampuan terbaik mereka.”
Beliau mempersilakan saya minum air mineral kemasan yang selalu tersedia. Namun, saya sedang tidak ingin minum. Penjelasan beliau yang menjadi focus perhatian saya.
“Target yang saya buat, saya perhatikan prosesnya. Apakah ada kendala? Apakah tim mencapainya dengan cara yang benar? Apakah mereka melakukannya dengan tulus dari hati? Apakah sudah mengeluarkan kemampuan terbaik dari kepala?”
Saya mengangguk setuju.
“Satu lagi. Kebaikanmu adalah kekuatanmu. Untuk yang ini Rina paham?”
ADVERTISEMENT
Diam-diam saya mengambil benang merah. Pilihan gaya kepemimpinan beliau di-copy paste bawahannya. Lalu di-copy kembali oleh bawahan level selanjutnya. Kebijaksanaan dan kebaikannya menular. Benar saja, di kantor saya proses tular-menular itu berjalan sempurna. Indah sekali.
Beberapa tahun menjadi bawahan beliau, saya kemudian dipindah tugas. Namun kenangan tentang kepemimpinan beliau selalu lekat. Saya ingin meniru sebisa saya. Semoga kesan tim terhadap saya sebaik kesan saya kepada beliau.
Teruslah berbuat baik, karena kebaikan itu menular.