• 0

5 Efek Positif dan Negatif 'Om Telolet Om'

5 Efek Positif dan Negatif 'Om Telolet Om'




'Om Telolet Om' sukses menjadi perbincangan dunia. Indonesia pun terkenal. Namun, fenomena juga menyimpan efek negatif.
Ini 5 efek positif dan negatif 'Om Telolet Om' berdasarkan hasil wawancara, Kamis (22/12):

1. Mendukung kampanye Ayo Naik Bus

Supir Bus Telolet

Supir dan busnya berklakson 'telolet' (Foto: Aria Pradana)

Arief Setiawan sebagai ketua umum masyarakat pecinta bus Bismania Community berpendapat fenomena 'Om Telolet Om' dapat mendukung pemerintah dalam mempromosikan kampanye gerakan 'Ayo Naik Bus'. Dengan fenomena ini, kesan masyarakat mengenai bus diharapkan berubah.
"Kalau kita pandang dari segi positifnya ya, telolet itu salah satu bagian dari klakson di bus yang merupakan alat transportasi massa. Pemerintah kan saat ini sedang kampanye gerakan Ayo Naik Bus untuk mengurai kemacetan. Stigma masyarakat yang jelek tentang bus akhirnya berubah, masyarakat jadi tahu kalau bus ini ternyata sudah bagus, sudah dimodifikasi, divariasi, dan fasilitasnya enggak kalah," kata Arief.

2. Ikut promosikan pariwisata Indonesia

Sopir Telolet (tidak untuk cover)

Klakson telolet dibunyikan sopir bus (Foto: Aria/kumparan)

Fenomena Om Telolet Om yang viral di media sosial, menurut Arief, juga ikut mempromosikan pariwisata Indonesia. Apabila stigma negatif masyarakat tentang bus telah berubah positif, bukan tak mungkin nantinya akan menambah lapangan pekerjaan.
"Karena viral, mungkin turis dari luar negeri akan datang ke Indonesia. Jadi ini bisa menumbuhkan perusahaan bus pariwisata dan bus antarkota, dan bus semakin dikenal masyarakat umum," jelas Arief.

3. Si pencari klakson tak hiraukan keselamatan diri

Ilustrasi Telolet

'Om telolet om' dari Indonesia jadi trending topic dunia. (Foto: Bagus Permadi)
Meski viral dan tengah digandrungi, ada sisi negatif yang tak dapat dihindari, yakni dari sisi keselamatan diri si pencari dan perekam klakson.
"Anak kecil kan enggak menghiraukan keselamatan. Mereka kadang minta dibunyikan klakson telolet sampai ke bahu jalan. Banyak kejadian bus memperlambat laju kendaraan, akhirnya bikin macet. Kalau di terminal kan enggak lihat dari belakang kalau ada bus, bisa bahaya kalau sampai ke tengah jalan dan ada kendaraan dari arah yang berlawanan," jelasnya.

4. Viral namun tak bertahan lama

Bus Telolet

Bus jurusan Tasik-Jakarta berklakson 'telolet' (Foto: Aria Pradana)
Sebagai pecinta bus, Arief mengimbau agar masyarakat lebih seris memperhatikan keamanan dan keselamatan diri mereka dibandingkan mengikuti tren. Karena dia yakin, fenomena ini tak akan bertahan lama, mengingat sifat orang Indonesia yang kerap terbuai tren musiman.
"Yang penting jaga keselamatan. Paling ini kan enggak lama tren lama fenomenanya, paling sebulan. Kalau orang Indonesia kan trennya cuma sebentar, cuma ikut-ikutan, nanti juga hilang sendiri," ucap Arief.

5. Bagian kreativitas masyarakat

Penjual Klakson Telolet

Salah seorang penjual klakson telolet di LTC Glodok Jakarta. (Foto: Mustaqim Amna)
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi tak melarang aktivitas 'Om Telolet Om' karena menganggap sebagai bagian dari kreativitas masyarakat. "Saya bukan melarang, saya pribadi juga senang musik dan juga senang nada klakson telolet. Yang saya imbau itu jangan di jalan raya karena bahaya," ujar Budi.
Dia mengatakan kegiatan itu adalah hasil kreativitas masyarakat yang luar biasa. Namun dia kembali mengingatkan agar masyarakat hati-hati. "Kalau di tempat lain boleh, misalnya di terminal bus, jadi tempatnya harus benar," kata Budi.


NewsTeloletMegapolitan

500

Baca Lainnya