Jurnalis Foto Dituduh Jadi 'Tim Buzzer Penista Agama' di Facebook


Cover Hoaxbuster

Hoaxbuster edisi wartawan dituding buzzer (Foto: Frans Mateus Situmorang)
Tak hanya tokoh politik dan artis yang menjadi korban informasi palsu atau hoax yang disebar oleh oknum tak bertanggung jawab. Kali ini giliran pewarta foto yang menjadi korban info hoax yang dibuat oleh seseorang dan disebar ke media sosial.
Belum diketahui kapan dan di mana oknum tersebut mengambil foto para jurnalis yang tengah liputan ini. Namun foto itu pertama kali diposting oleh akun Facebook dengan nama Eko Prasetia tertanggal 3 Januari 2017 pukul 13.59 WIB.
Penjelasan di bawah foto yang diposting mengatakan bahwa orang-orang yang ada di foto tersebut merupakan tim cyber/buzzer penista agama yang takut ketahuan identitasnya.

Hoax

Hoax yang menyasar fotografer media. (Foto: Istimewa)
Tudingan tersebut langsung dibantah oleh para jurnalis foto. "Teman-teman fotografer mengklarifikasi kalau yang di dalam foto tersebut adalah jurnalis foto yang tengah meliput sidang dugaan penistaan agama di Auditorium Kementan," ujar ketua Pewarta Foto Indonesia, Lucky Pransiska, saat dihubungi kumparan, Selasa (10/1).
Lucky telah mengkonfirmasi hal tersebut kepada jurnalis foto yang ada di dalam foto tersebut. Mereka adalah fotografer beberapa media online nasional yang sedang bertugas.
"Pengakuan teman-teman, saat mereka sedang menunggu sidang, tiba-tiba ada seorang peserta unjuk rasa yang berjalan melewati mereka. Namun orang itu balik lagi sambil berkata 'wah, teman-teman wartawan belum difoto nih'. Lalu dia mengeluarkan HP dan langsung memotret teman-teman ini," jelas Lucky.
Difoto oleh orang tak dikenal, membuat beberapa jurnalis foto risih. Sebagian memalingkan badan dan ada juga yang menutupi muka karena merasa tak nyaman. "Pengakuan temen ada yang memang enggak suka difoto, jadi nutupin pakai tangan," jelasnya.
"Jadi teman-teman tahu ada orang yang ingin memotret mereka. Cuma mereka enggak tahu kalau foto mereka akan viral di media sosial. Baru sore ini ada yang ngasih tahu mereka kalau foto tersebut udah viral di media sosial. Mereka pun kaget karena caption dan kenyataan dalam foto sama sekali berbeda," kata Lucky.
Para jurnalis yang tak tinggal diam langsung mengecek akun Facebook Eko Prasetia yang menyebar foto hoax itu. Benar saja, siang ini foto tersebut telah dibagikan sebanyak 2.029 kali ke 8.000 pengikut Eko.

Kami akan tetap bikin surat terbuka somasi, untuk jalur hukumnya sedang dilaporkan ke tim advokasi.

- Jurnalis Pewarta Foto-


"Kalau saya cek di akunnya Eko ini postingannya sudah dihapus," ungkapnya.
Atas kejadian ini, jurnalis foto merasa sangat dirugikan. Malam ini mereka akan berdiskusi untuk menempuh jalur hukum atas kejadian tersebut.
"Kalau dari kami akan tetap bikin surat terbuka somasi, untuk jalur hukumnya sedang dilaporkan ke tim advokasi. Mengenai plan A atau plan B sudah ada, jadi keputusannya malam ini, apakah besok kami akan melapor ke Polda Metro Jaya atau Mabes Polri, karena ini sudah menjadi isu sensitif," kata Lucky.
kumparan hingga saat ini belum bisa mendapatkan klarifikasi dari Eko Prasetia yang memposting foto itu. Pesan yang dikirimkan lewat Facebook tak juga dijawab.

Hoaxbuster

Tudingan wartawan buzzer hoax (Foto: Frans Mateus Situmorang)


NewsHoaxFacebookKriminalBerita Palsu

Surat terbuka untuk Eko Prasetia Selamat sore mas Eko Prasetia. Semoga Tuhan senantiasa melimpahkan kesehatan jasmani, rohani dan kesehatan berfikir kepada anda. Sore ini kami mendapati sebuah foto yang anda unggah dihalaman facebook melalui akun anda. Sebuah foto yang sengaja anda ambil menggunakan telepon pintar untuk memotret kami yang tengah menunggu proses persidangan berlangsung. Foto itu anda lengkapi dengan keterangan foto sebagi berikut "Tim cyber/buzzer penista agama yang malu dan takut ketahuan tampangnya untuk dipublikasikan, turut hadir dipersidangan hari ini. Udah seperti PSK asal China kelakuan mereka, pake tutupin muka segala". Kami berusaha memaafkan dan memaklumi kata-kata kotor anda yang sudah menghakimi kami, melecehkan profesi kami, menyakiti perasaan kami. Baiklah, mungkin anda tidak kenal kami, anda juga tidak mengerti pekerjaan kami. Anda juga tidak merasakan kelelahan kami. Mungkin anda terlalu sibuk mengikuti kata hati anda yang sedang dibalut kebencian yang sangat. Anda juga mungkin terlalu sibuk mengais kemarahan untuk anda umbar ke jagat maya. Sehingga anda buta dan leluasa menghakimi kami seperti apa kehendak hati anda. Mas Eko, anda dengan sadar dan sengaja mengangkat telepon anda dan mengarahkan kameranya kepada kami. Anda sadar betul kami ini wartawan, oleh karenanya anda memang sengaja memotret kami Mas Eko, kami ini awak media, kami adalah jurnalis foto yang setiap hari bekerja mengabadikan peristiwa dengan kamera. Tugas kami menyampaikan berita melalui gambar. Kedatangan kami ke persidangan adalah murni karena tugas jurnalistik. Terlepas dari siapa yang sedang berpekara dalam persidangan, sejauh itu suatu peristiwa penting yang layak diketahui masyarakat luas. Dipastikan kami akan ada dan hadir mengabadikan peristiwa tersebut dimana dan kapan pun itu. Anda mungkin tidak pernah tau bagaimana kesulitan kami. Ya karena kami tidak mau mengeluh, kami bekerja karena kami mencintai profesi kami. Mas Eko yang kami hormati, perkataan anda yang mengatakan kami tim cyber/buzzer penista agama sangat merendahkan profesi kami. Anda menyamakan profesi kami sama dengan PSK. Sebegitu kronis kebencian anda hingga menyebarkan fitnah dan menyerang kami. Sehat mas Eko? Kami mendoakan anda selalu dalam keadaan sehat mental dan fisik. Ingin sekali kami marah, melaporkan anda ke Polisi dan melihat anda duduk di kursi pesakitan lalu kami arahkan semua kamera kami menyoroti wajah anda. Lalu kami sebarkan fotonya dengan kata-kata yang sama seperti kata-kata kotor yang anda lemparkan kepada kami. "Inilah penyebar fitnah menutupi wajahnya seperti PSK asal China karena malu diberitakan di media masa dan diunggah media sosial". Bagaimana perasaan anda mas Eko? Jika anda tidak tersinggung, kami ragu anda punya nurani. Sebaiknya ada segera berkonsultasi dengan psikolog terdekat. Mas Eko profesi kami dilindungi Undang-undang pers. Langkah dan gerak kami dipagari kode etik jurnalistik. Kami tidak bergerak sebebas pikiran dan hati anda. Sebagai jurnalis, kami punya tanggungjawab sosial yang besar. Terlebih masyarakat sekarang begitu kritis dan cerdas. Kami dituntut sangat berhati-hati menyampaikan informasi. Kami ini adalah garda terdepan dalam industri media, kami bukan pembuat kebijakan, kami juga bukan pengambil keputusan, kami tidak memiliki kekuatan membuat suatu sikap keberpihakan. Mas Eko kami hanya ingin melihat sikap kesatria anda sebagai seorang laki-lali. Kami ingin melihat keberanian anda untuk bertanggungjawab atas semua perbuatan dan ucapan anda yang sudah melukai kami. Kami tidak ingin menodai hati kami dengan kebencian, kami tidak ingin mengotori pikirian kami dengan amarah. Kami serahkan semua persoalan ini kepada pihak yang berkompeten untuk diselesaikan. Semoga Tuhan memaafkan kita semua. Amin Pewarta Foto Indonesia


|

    padahal baru ada sanskinya untuk pembuat berita hoax, tapi masih ada aja yg berani. di pikiran apa? di pikir pemerintah main-main. emg harus di usut ini agar tidak terjadi kesalahpahaman.


    |

      Melihat situasi sekarang tuh udah seperti lagu U2 yang "Sunday Bloody Sunday" di bagian "when fact is fiction and TV reality" - semuanya bisa diputarbalikkan demi kepentingan suatu pihak.


      |

        Seharusnya para jurnalis juga menggunakan seragam medianya biar membuktikan kalau mereka dari media mana.


        |

          Satu foto, berjuta caption. Narasinya juga lebay, khas penyuka hoax.


          |

            mantap bang Mateus ilustrasinya


            |

              Berita semacam ini semakin menjadi-jadi ya, heran gue. Entah kemana akal sehat orang yg membuat isu seperti ini. Memang pantas dilaporkan karena sudah membuat resah masyarakat karena info hoaxnya.


              |

              Aneh ya, fitnah sering dipakai oleh orang yang mengaku membela agama. Sebenarnya mereka itu beragama enggak suh, atau cuma mengaku membela agama. Ya toh membela agama tak harus beragama juga sih, spt membela rakyat kecil tidak harus jadi rakyat kecil juga. Tapi, kelakuan mereka ya, tipikal banget gitu, penggemar hoax...


              |

                Related Stories

                Recommendations

                Rhoma Irama: Dua Keponakan Saya Meninggal Akibat Narkoba
                2 10
                Mengorek Rahasia Dapur Pisang Goreng Manggarai yang Laris Manis
                10 25
                Lewatkan Jam Makan Hingga Minum Soda, Hindari 6 Hal Ini Saat Haid
                5 24
                Cerita Sopir Mobil Jenazah tentang Kematian Pahinggar
                1 15
                Kabar tentang Dhani yang Berutang dan Mulan Jualan Ceker & Cilok
                4 15
                Julia Perez Jalani Operasi Blok Saraf Selama 5 Jam
                9 15
                Mengenal Para Istri Raja Salman
                12 27
                Rombongan Raja Salman Memakai Sepatu di Dalam Masjid Istiqlal, Boleh?
                7 27
                Ahli Agama dari PBNU Terancam Sanksi Bila Bersaksi untuk Ahok
                4 8
                Ahok Tak Bersuara Saat Habib Rizieq Bersaksi
                4 12