• 0

Kisah Wati, Si Penukar Uang di Terminal Kampung Rambutan

Kisah Wati, Si Penukar Uang di Terminal Kampung Rambutan



Wati Si Penukar Uang: "Bisa Nanti Ini Dibilang Lumayan Rame"

Pecahan uang 10.000 dan 5.000 versi lama (Foto: Wandha Hidayat)
Di tengah ramainya Terminal Kampung Rambutan siang ini, duduk seorang wanita berkerudung. Sambil menenteng sebuah tas bermotif garis berwarna hitam dan hijau yang penuh dengan rupiah desain lama, wanita ini bercerita tentang profesinya sebagai penukar uang.
Wati bekerja sebagai penukar uang sejak pertama kali menginjakkan kakinya di Jakarta, sekitar 20 tahun lalu. Seperti penjaja jasa penukaran uang lainnya, Wati bekerja dengan cara menerima penukaran pecahan uang nominal besar dengan pecahan uang kecil atau sebaliknya, dan mengambil keuntungan dari penukaran itu. Pelanggannya misalnya kernet bus yang menukarkan uang Rp 100 ribuan menjadi Rp 2 ribuan.
Setelah melewati Orde Baru hingga reformasi, dia merasakan perubahan perilaku masyarakat dalam menukarkan uang.

Uang Pecahan Baru

Gambar desain uang pecahan baru tahun emisi 2016. (Foto: Aditia Noviansyah)
"Terasa sekali perbedaannya. Kalau dulu (di era Orde Baru), bisa dikatakan gampang. Ibaratnya ada sedikitlah kita dapat untung dari sini. Kalau zaman sekarang mah sejuta saja susah. Susah ini di penukarannya, berputarnya," ujar wanita asal Medan ini.
Dia bercerita, biasanya para pelanggannya adalah penumpang bus dan orang-orang yang berada di sekitar terminal. Meski mengakui hingga saat ini masih ada yang menukarkan duit kepadanya, untung yang dia rasakan tak sebesar dulu. Terlebih sejak berkurangnya pengguna bus antarkota.
Wanita 46 tahun ini pernah bekerja di sebuah perusahaan karena bisnis penukaran uang tak mendatangkan banyak untung. Namun karena tak kerasan, baru setahun bekerja dia kembali banting setir menjadi penukar uang, meski dengan laba ala kadarnya.
"Enggak tahu nanti, ke sono-sononya kerjaan apa lagi yang mau kita kerjain. Emang terasa banget, sepi banget (orang yang menukar uang)," kata Wati sambil memperlihatkan beberapa gepok pecahan uang Rp 2 ribu dan Rp 5 ribu desain lama yang dia miliki.
Wati bercerita, setiap ada peluncuran uang baru masyarakat selalu penasaran. Setiap ada peluncuran desain uang baru, masyarakat kerap menukarkan uang kepadanya, sehingga dia mendapatkan keuntungan lebih.
"Bu, ada uang baru nggak? Katanya hari ini sudah keluar," kata Wati menirukan pertanyaan orang-orang di sekitar terminal hari ini. Wati sendiri mengetahui perilisan desain mata uang baru dari televisi yang dia tonton di terminal.

Kalau dulu (di era Orde Baru), bisa dikatakan gampang. Ibaratnya ada sedikitlah, kita dapat untung dari sini. Kalau zaman sekarang mah, sejuta saja susah. Susah ini di penukarannya, berputarnya

- Wati-

Untuk penukaran pecahan uang Rp 100 ribu, Wati memberi tarif Rp 110 ribu, sehingga dia mendapat keuntungan Rp 10 ribu. Sementara untuk pecahan Rp 50 ribu, Wati mengambil keuntungan Rp 5 ribu.
Untuk mendapatkan uang baru tersebut, Wati telah meminta bantuan salah seorang saudaranya untuk mengantre di Bank Indonesia. "Hari ini sudah ada saudara saya yang antre. Mudah-mudahan dapat," harap Wati.

NewsUang BaruKeuangan

500

Baca Lainnya