Pencarian populer
12 Oktober 2018 18:17 WIB
0
0
Perkenalkan Clara Sumarwati, Pendaki Puncak Everest Pertama Indonesia
Clara Sumarwati. (Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan)
Nama pendaki Indonesia yang pertama sampai puncak Gunung Everest kembali diperdebatkan setelah polikus PKS Mardani Ali Sera menyebut nama Prabowo dan tim Kopassus sebagai penakluk Everest pertama dari Indonesia pada tahun 1997. Sementara, menurut Everest Summiteer Association, orang Indonesia pertama yang sampai di puncak adalah Clara Sumarwati pada 26 September 1996.
Ditemui wartawan di rumahnya kawasan Mantrijeron, Yogyakarta, Jumat (12/10), perempuan kelahiran 8 Juli 1965 itu mengisahkan bagaimana dirinya menaklukkan puncak tertinggi dunia tersebut.
Usai menamatkan SMA, Clara kemudian melanjutkan ke Universitas Atma Jaya Jakarta pada tahun 1985. Di kampus, Clara ikut bergabung dengan unit kegiatan kemiliteran Resimen Mahasiwa (Menwa).
"Awal mula saya dari resimen. Resimen Mahasiswa Jayakarta, Batalyon 11 Unika Atma Jaya," jelasnya. Dari situlah minatnya mendaki gunung terasah tinggi, hingga kemudian tercetus menaklukkan Gunung Everest.
Sebelum menaklukkan Everest, Clara sebelumnya sudah terlebih dahulu naik ke sejumlah gunung seperti Aconcagua di Argentina dan Annapurna di Nepal.
Clara Sumarwati. (Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan)
"Saya ke Aconcagua bawa tim putri tahun 93 sampai ke puncak. Saya, Aryati, sama Joned Wambrow anak Pancasila (Universitas Pancasila) sama anak UNJ, mereka pecinta alam. Tahun 90 saya ke Annapurna 4, gunung dengan 7.525 mdpl," katanya.
Dengan serangkaian pengalaman tersebut, Clara kemudian tertarik untuk naik puncak Everest. Cita-cita tersebut akhirnya terwujud pada tahun 1994 melalui program bersama Persatuan Pendaki Gunung Angkatan Darat (PPGAD).
"Ke Pangdam waktu itu Pak Indro. Kami latihan bareng Kopassus tahun 1994 bawa 6 orang ke Everest lewat jalur selatan," jelas perempuan yang semasa kuliah pernah menjadi pelatih taekwondo ini.
Saat itu, Clara sudah berstatus sebagai pegawai swasta. Kemudian ia naik ke Everest pada September 1994 bersama 5 anggota Kopassus TNI AD.
"Tahun 94 ke Everest saya saat itu kerja di Salim Group. Waktu itu orang kan pengin ke 7 puncak. Tapi kan 7 puncak yang tinggi cuma Everest lainnya kan 5.000-an mdpl, enggak menantang. Pilih yang tertinggi," jelasnya. Everest punya tinggi 8.848 mdpl.
"Tahun 1994 itu (saya) ke Kopassus ketemu Pak Agum Gumelar waktu itu. Pak, mau naik gunung nih, bareng, terus disuruh coba ke Persatuan Pendaki Gunung Angkatan Darat (PPGAD)," ujarnya.
Clara Sumarwati. (Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan)
"Saya latihan di Kopassus Cijantung. Waktu itu cuma bawa Rp 150 juta untuk enam orang. Yance, Misran, Basuki, Anton Tatando, Yono. Sipil hanya saya, saya koordinator teknis," katanya.
Namun sayang, cita-cita untuk sampai puncak Everest gagal saat itu. Mereka berenam hanya sampai camp 3 dengan ketinggian 7.600 mdpl. Mereka sempat 4 kali naik turun, tapi sayang mereka tetap tidak bisa sampai puncak lantaran saat itu ada badai.
"Kami naik turun empat kali nunggu cuaca baik," bebernya.
"Yang mecahin rekor 20 jam di Everest enggak nyampai itu Kazi Serpha. Kami kenalan sama mereka. Terus saya ajak kerja sama, dia jadi pimpinan pendakian tahun 96," bebernya. Kazi Serpha adalah pemegang rekor kecepatan mendaki Everest dari basecamp ke puncak dari jalur selatan, tanpa tabung oksigen.
Kemudian pada tahun 1996, Clara memutuskan untuk kembali naik Everest. Kali ini ia bersama Gibang Basuki, seorang sersan Kopassus. Selain itu ia juga ditemani tim Kazi Serpha. Total ia naik bersama 12 guide dan memilih jalur utara. Mereka pergi mendaki dengan program yang sama dari PPGAD.
"Timnya yang Indonesia cuma 2, saya dan Gibang Basuki, itu Kopassus kita PPGAD. Yang sampai puncak saya sama 5 guide. Yang dari militer (Gibang Basuki) enggak nyampai, keluar darahnya dari hidung," bebernya.
Nama Clara Sumarwati di situs Everest Summiteers Association (Foto: Screenshot)
Clara bercerita ia berangkat 8 Juli 1996 melalui Jerman. Di sana ia sempat mampir ke Frankfurt untuk membeli perlengkapan. Perjalanan pun dilanjutkan ke China untuk mengurus izin ke Nepal.
"Perlengkapan semua sepatu, jaket, saya beli di Jerman. Beli kamera tahunya made in Indonesia, kamera saku," katanya.
Sekian lama mencoba, akhirnya perjalanan Clara tak sia-sia. Tanggal 26 September 1996 dirinya berhasil mencapai puncak Everest. Lantaran badai, ia tak bisa berlama-lama di puncak.
"Sampai puncak 26 September 1996, aku seminggu dari bawah. Di atas cuma 10 menit," katanya.
Ia juga tidak sempat mengabadikan momen di puncak akibat badai tersebut. Usai menjadi pendaki pertama dan pendaki perempuan pertama dari Indonesia yang naik puncak Everest, Clara kemudian diberikan penghargaan Bintang Naraya oleh Presiden Soeharto.
Clara yang mengenakan kaos abu-abu itu bersedia difoto bersama potret kenangannya saat di puncak Everest, sertifikat dari The Mountaineering Association, dan juga memakai Bintang Naraya.
Gunung Everest (Foto: AFP/Subel Bhandari)

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2018 © PT Dynamo Media Network
Version: web: