Konten dari Pengguna
Mereka Ingin Bicara, Tapi Tak Berani
11 Desember 2025 16:59 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Mereka Ingin Bicara, Tapi Tak Berani
Banyak remaja korban kekerasan seksual memilih diam bukan karena lemah, tetapi karena takut, malu, dan merasa tidak aman. Cerita di balik diam mereka layak untuk didengar.Ririn Indriyani
Tulisan dari Ririn Indriyani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
“Kenapa nggak lapor aja?” Kalimat itu terdengar sederhana, tapi bagi banyak remaja korban kekerasan seksual, justru menjadi beban yang sulit dijawab. Mereka tidak hanya menghadapi rasa takut, tapi juga rasa bersalah dan pandangan yang menyudutkan. Di balik layar ponsel atau di kamar sendiri, banyak remaja menahan cerita yang sulit diucapkan, bukan karena tidak ingin melawan, tetapi karena takut tidak dipercaya.
ADVERTISEMENT
Laporan Komnas Perempuan (2024) menunjukkan kasus kekerasan seksual pada remaja meningkat 15 persen dibanding tahun sebelumnya, tetapi lebih dari 70 persen korban memilih diam. Hukum yang sudah ada belum sepenuhnya terasa nyata, prosedur pelaporan rumit, layanan ramah anak masih terbatas, dan ketakutan berhadapan dengan aparat membuat remaja ragu untuk bersuara.
Di luar ketakutan terhadap sistem, ada masalah lain yang tak kalah berat: pelaku yang dikenal, tekanan keluarga, ancaman, hingga rasa malu yang mematahkan keberanian sejak awal. Bagi banyak remaja, melapor bukan sekadar mencari keadilan, tetapi mempertaruhkan keselamatan diri dan reputasi dalam lingkungan yang sering kali tidak berpihak pada korban. Karena itu, diam bukan berarti menyerah tetapi diam adalah cara bertahan. Di sinilah pentingnya memahami alasan psikologis korban, kendala sistemik, dan peran edukasi untuk membuka ruang aman bagi mereka agar berani bersuara.
ADVERTISEMENT
Ketika Laporan Sepi, Tapi Kasus Tak Pernah Redup
Banyak remaja korban kekerasan seksual memilih diam karena takut disalahkan atau dicap negatif oleh orang sekitar. Dalam penelitian Pangesti dan Suarya (2022) fenomena ini dikenal sebagai Victim Blaming, yaitu korban justru dianggap bersalah atas apa yang menimpanya. Kadang mereka dipertanyakan soal penampilan, cara bertingkah, atau keputusan yang dianggap memicu kejadian, padahal kesalahan tetap ada pada pelaku. Rasa takut menghadapi komentar teman, tekanan keluarga, atau pandangan negatif membuat banyak remaja enggan cerita. Malu dan cemas jadi teman sehari-hari, sementara kebutuhan untuk didengar dan dilindungi sering terabaikan. Victim blaming bukan cuma soal pandangan orang lain, tapi juga bisa membuat korban merasa lemah dan susah membuka diri. Kondisi ini menunjukkan remaja perlu tempat dan lingkungan yang mendukung supaya bisa bicara tanpa takut dihakimi dan merasa aman untuk menceritakan pengalaman mereka.
ADVERTISEMENT
Kenapa Korban Memilih Diam: Alasan Remaja Enggan Melapor
Banyak korban kekerasan seksual memilih diam karena proses keputusan yang mereka hadapi tidak sederhana. Dalam studi Fitri dkk. (2023) ada beberapa tahap yang dilalui korban sebelum memutuskan untuk tidak melapor. Pertama mereka menilai seberapa berat masalah yang dialami. Setelah itu, mereka mencoba mencari pilihan lain, lalu menimbang risiko dari tiap langkah yang mungkin diambil. Baru kemudian mereka membuat komitmen untuk tetap diam. Tahap terakhir, mereka belajar bertahan dari komentar negatif atau tekanan dari orang sekitar. Banyak anak korban kekerasan seksual merasa tidak aman untuk melapor karena faktor sosial yang membatasi ruang mereka untuk bersuara. Menurut Kayowuan dan Fahrozi (2020), norma sosial yang kaku, tekanan keluarga, atau lingkungan sekolah yang kurang responsif terhadap korban, dapat membuat korban enggan mengungkap pengalaman mereka. Layanan perlindungan yang terbatas dan prosedur hukum yang rumit menambah rasa ragu dan takut akan dampak sosial yang muncul. Kondisi ini membuat korban cenderung menahan diri demi menjaga keselamatan dan reputasi mereka. Dampak psikologis dari ketidakamanan sosial ini nyata, meningkatkan rasa trauma dan isolasi.
ADVERTISEMENT
Peran Lingkungan dan Edukasi Seksual Terhadap Korban
Dukungan sosial memiliki peran penting dalam membantu remaja korban kekerasan seksual memulihkan diri dan membangun keberanian untuk melapor. Nazmi (2021) menjelaskan bahwa perasaan kesepian sering dialami korban karena mereka merasa terisolasi dan takut dihakimi oleh lingkungan sekitar. Keluarga, teman, dan guru yang memberikan dukungan emosional dapat mengurangi rasa takut dan meningkatkan rasa aman korban. Bukan hanya lingkungan yang berperan, edukasi seksual juga menjadi pondasi penting. Pendidikan seksual yang benar membantu remaja memahami batas tubuh, konsep persetujuan, dan hak atas dirinya sendiri. Lingkungan yang responsif dan peduli mendorong remaja untuk membuka diri, berbagi cerita, dan menempuh langkah hukum jika diperlukan. Tanpa dukungan sosial yang memadai, korban cenderung menahan pengalaman mereka, yang dapat memperburuk trauma dan mempersulit proses pemulihan. Oleh karena itu, menciptakan jaringan dukungan yang aman dan empatik harus segera kita bangun dari sekarang agar remaja korban dapat merasa didengar, dihargai, dan berani bersuara.
ADVERTISEMENT
Diamnya remaja korban kekerasan seksual bukan tanda kelemahan, melainkan cara bertahan di tengah rasa takut yang nyata. Alih-alih terus bertanya “kenapa tidak melapor?”, mungkin sudah saatnya kita bertanya “apa yang bisa kita lakukan agar mereka merasa aman”. Karena setiap remaja berhak didengar, dipercaya, dan didampingi saat akhirnya berani bersuara.

