• 8

USER STORY

Tiket.com Menjadi Saksi bahwa Jogja Memang Seistimewa Itu

Tiket.com Menjadi Saksi bahwa Jogja Memang Seistimewa Itu


Jogja itu candu...
Siapapun yang pernah datang atau pernah menetap di Jogja tentu setuju, bahwa ada rindu yang selalu menjadi pilu setiap mendengar kata Jogja. Istimewa adalah sebutan yang tak berlebihan baginya. Terlebih Bagiku yang pernah menghabiskan 2 tahun masa studi dan menetap disana, banyak hal-hal kecil yang membuat Jogja terasa istimewa. Bahkan bagi siapa saja yang pernah sekali dua kali berkunjung kesana pastilah sepakat bahwa Jogja tak hanya sekedar menjadi destinasi yang menyisakan sederet foto-foto selfie, tapi juga sejuta memori.
Sebab Jogja dengan segala keistimewaannya memang menjadi kota yang layak dikunjungi berkali-kali. Keramah-tamahan warganya yang salam sapa nya selalu meneduhkan, Pasar Bringharjo yang selalu ramai di akhir pekan, pengamen-pengamen yang tak segan mampir di setiap angkringan tepi jalan, kemegahan Candi Ratu Boko dan Prambanan , serta Jalan Malioboro dan daya pikatnya yang tak akan habis bila dituturkan.
Jogja yang beberapa tahun belakangan mulai panas dan macet memang menyebalkan, tapi percayalah terjebak macet di simpang lampu merah kaliurang dan melihat puncak merapi mengintip dari balik jalan raya adalah kenangan yang akan sangat sulit dilupakan. Kecintaanku pada Jogja bertambah, sebab kota ini tak sekedar menjadi tempatku untuk menetap, tinggal dan tumbuh.
Tak hanya memberiku gelar akademis baru, teman-teman yang baik dan pengalaman hidup yang sangat berarti, lebih dari itu Jogja menjadi saksi pertemuanku dengan seorang laki-laki, yang kini kupanggil suami. Karenanya, bagiku Jogja bukanlah sekedar tempat merantau, tapi adalah tempat untuk pulang. Meski bukan penduduk asli, Jogja bagiku adalah kampung halaman.

tiket.com menjadi saksi bahwa bagiku meninggalkan Jogja memanglah tak semudah itu...
Bila bagi sebagian mahasiswa, wisuda adalah hari paling bahagia, maka bagiku hari itu adalah hari berduka. Karena pada hari itu pula, aku harus meninggalkan Jogja dengan sejuta kenangan didalamnya. Mengemasi barang-barang di kosan, mengepaknya dalam kardus-kardus besar dan memesan tiket pulang bagiku bukanlah hal yang mudah.
Perantau mana yang tak senang bila mendengar kata “rumah”, tentulah terbayang wajah ayah dan ibu yang menyambut dengan sukacita kepulangan anaknya. Tapi barangkali akan lain ceritanya bagi perantau yang tinggal di jogja sepertiku.
Pulang atau tetap tinggal adalah hal yang sungguh menjadi dilema. tiket.com menjadi saksi bahwa bagiku meninggalkan Jogja tidaklah sesederhana membeli tiket, datang ke bandara, check in, lalu terbang. Ini terbukti saat aku membuka rincian riwayat booking pada laman “atur pemesanan” di situs online travel agent Pertama di Indonesia ini. Pada laman tersebut tampak riwayat detail pemesanan yang pernah aku lakukan. 2-3 kali memesan, tiket pulang ke Kalimantan dari Jogja itu tak juga kunjung kubayar.
Bukan karena tak punya uang, atau pula karena tiket mahal, toh tiket.com telah berbaik hati menyajikan daftar harga tiket termurah, sehingga harga tiket mahal bukanlah masalah, kalaupun memang harga tiket sedang mahal-mahalnya, aku bisa saja menggunakan bonus potongan harga dengan tixpoint yang telah beberapa kali aku kumpulkan, atau kalaupun tidak, bisa pula menggunakan promo diskon yang seringkali ditawarkan pada laman “promo” di situsnya.
Sekalipun masih mahal, tetap saja aku bisa mencari alternatif rute lain sebetulnya, pulang lewat Jakarta dengan kereta api, lalu naik pesawat terbang ke kalimantan misalnya, sebab bukankah kita sama-sama tau, tiket.com tak hanya menjual tiket pesawat terbang saja, ada pula voucher hotel, sewa mobil, tiket event dan atraksi serta pembelian tiket kereta api, sehingga dengan ini, mencari alternatif rute paling hemat menjadi lebih mudah.
Tapi bukan, ini bukanlah soal harga tiket yang mahal, atau kendala materi lainnya. Ini adalah tentang beratnya meninggalkan Jogja, dan sejuta memori yang telah tercipta disana. Meninggalkan teman-teman yang selalu setia ketika kujauh dari orang tua, meninggalkan manisnya puncak merapi yang tampak dari balik jendela kosan di pagi hari, meninggalkan warung burjo favorit di jalan kaliurang, meninggalkan angkringan lekman, sate klathak, gudeg terang bulan dan nikmatnya nasi goreng kambing kobar. Itulah semua harga termahal yang harus kubayar.
Hingga akhirnya malam itu, kuputuskan untuk kembali ke Kalimantan, meski masih dengan perasaan galau. Kuraih telpon pintar dari dalam saku, kuselesaikan pembayaran tiket Jogja-Pontianak yang sudah kupesan di tiket.com, beruntung tiket.com menyediakan banyak metode pembayaran, bisa melalui Internet Banking, M-Banking, Kartu Kredit atau Transfer Antar Bank, sehingga aku tak perlu repot beranjak dari kosan, maklumlah hari itu adalah hari-hari galau , dimana menghabiskan masa-masa terakhir di jogja bersama teman satu kos adalah lebih menyenangkan dibandingkan pergi keluyuran.
Selang beberapa menit setelah melakukan pembayaran, e-ticket yang telah kupesan masuk ke email. Semudah, secepat dan seinstan itulah proses pembelian tiket yang selalu aku lakukan di tiket.com setiap akan berpergian, namun yang mengherankan, biasanya aku selalu senang mendengar kata “berangkat” atau “rumah” tapi tidak untuk kali ini. Mungkin karena kusadar, setelah ini entah kapan lagi aku bisa kembali ke kota yang telah banyak membentuk pribadiku selama ini, kota yang telah menjadi lebih dari sekedar tempat belajar, kota yang telah kuanggap sebagai rumah kedua.
Dan akhirnya, hari itu datang. Hari dimana aku benar-benar meninggalkan kota ini. Teman kosan dan beberapa teman kuliah mengantar kepulanganku ke bandara, ku tatap lamat-lamat wajah mereka, “titip jogja ya” , begitulah salam terakhirku pada mereka sebelum masuk ke ruang tunggu.

TIXPOINT dan mereka yang membutuhkan
Aku bukan tipe yang terlalu banyak berpelesiran sebenarnya, kalau bukan Karena tinggal di Jogja mungkin aku tak akan pernah merasakan sejuknya Bandung, indahnya Malang, cantiknya Pacitan, atau pesona Semarang. Sebab, jika memiliki uang lebih, aku lebih senang memberinya ke ibu ataupun adik-adikku. Traveling sekali dua kali pernah, Bali, Lombok dan Raja Ampat juga pernah kujamah, tapi barangkali tak sesering teman-teman lainnya. Karenanya, point tiket.com yang aku kumpulkan selama pulang-pergi Jogja Kalimantan jarang aku gunakan untuk ditukar dengan potongan harga.
Tapi, tak mengapa sebab tiket.com lewat fitur tixpoint nya tak hanya menawarkan benefit berupa Rupiah, tak Cuma bisa ditukarkan dengan diskon tiket ataupun voucher belanja di puluhan merchant saja, tapi point-point ini juga dapat kutukarkan dengan pahala. Sebab, ada 19 yayasan dan lembaga zakat di Indonesia yang bekerjasama dengan tiket.com untuk menerima donasi dari penukaran point pengguna.
Saat ini jumlah point ku memang belum seberapa, tapi aku bercita-cita kalaulah ada rezeki lebih ingin sekali bepergian lagi, agar target 5000 point ku tercapai, untuk kutukarkan menjadi donasi ke salah satu yayasan, Indonesia Mengajar misalnya.

Begitulah ceritaku bersama tiket.com dan Jogja. Seorang perantau yang tinggal jauh dari rumah seperti aku, tentu tau betul bagaimana Online Travel Agent yang telah menerima sederet penghargaan ini telah banyak berjasa bagi para perantau sepertiku.
Dan kalau bermimpi itu boleh, maka mimpi untuk kembali melihat wajah Jogja atau sekedar mewujudkan liburan impian kesana adalah mimpi yang aku pilih. Dan bila setahun lalu tiket.com telah pula menjadi saksi betapa meninggalkan Jogja memanglah sesulit itu bagiku, semoga tahun ini tiket.com kembali menjadi saksi perjumpaanku kembali dengan kota ini…
Semua Gambar Milik Pribadi / #tiketkemanapun #tiketcom

tiketkemanapunTiket.comJogja

500

Baca Lainnya