Untitled Image

Hutan di Antara Beton Ibu Kota

Data Journalist
31 Januari 2022 17:06
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Mari memulai dengan satu pertanyaan sederhana: Apa yang Anda pikirkan saat mendengar kata hutan? Umumnya, imajinasi kita terbang jauh saat memikirkan konsep tersebut. Dua orang kawan, misalnya, langsung membayangkan hutan belantara di Kalimantan.
Berdasarkan data KLHK tahun 2021, luas kawasan hutan di pulau terbesar Indonesia itu mencapai 1,66 juta hektare (Ha). Angka tersebut setara dengan tiga kali luas Provinsi Bali. Maka, tak heran bila dua kawan tadi, dan mungkin saja Anda membayangkan hutan ada di sana.
Tapi, tahukah Anda bahwa Jakarta juga sebetulnya memiliki hutan?
Meski bukan hutan alamiah seperti di Kalimantan, Jakarta juga punya vegetasi pepohonan yang disebut hutan kota. Berdasarkan catatan Dinas Pertamanan dan Hutan DKI Jakarta (2021), ada 31 hutan kota yang tersebar di wilayah Ibu Kota.
Hutan di Antara Beton Ibu Kota (77454)
zoom-in-whitePerbesar
Hutan Kota Universitas Indonesia. Dok. Rizki Baiquni Pratama/kumparan
Di sanalah manusia kota menanami pohon, membiarkannya bertumbuh, hingga menjadi tempat berlindung bagi burung, serangga, kadal, dan ular. Pohon-pohon kemudian merawat semua yang hidup di bawah kanopinya. Termasuk memberikan suplai oksigen bersih untuk manusia kota.
Dari atas satelit, hutan kota hanyalah titik-titik hijau yang menyempil di antara birunya beton-beton pencakar langit. Sementara di bawah sana, akar-akar pohon bertumpu pada ketakterhinggaannya.
Filsuf sekaligus penyair Jerman, Hermann Hesse, menyebut manusia semestinya dapat belajar banyak dari pepohonan. Menurutnya, pohon adalah rumah untuk manusia kembali. Pohon membuat kita terhubung dengan sesama. Baik mereka yang hidup di masa sekarang, masa lampau, dan di masa depan.
Whoever has learned how to listen to trees no longer wants to be a tree. He wants to be nothing except what he is. That is home. That is happiness
-Hermann Hesse (Trees: Reflections and Poems)
Hesse barangkali tahu betul bahwa usia pohon memang sangatlah panjang. Pohon yang kita tanam saat ini dapat hidup puluhan hingga ratusan tahun. Pohon adalah sebuah harapan dari masa lalu untuk iklim dan kualitas udara yang lebih baik.
Hutan di Antara Beton Ibu Kota (77455)
zoom-in-whitePerbesar
Pohon Jati di Hutan Kota Srengseng, Jakarta Barat. Dok. Rizki Baiquni Pratama/kumparan
Dahulu, Jakarta, atau bahkan seluruh lanskap kota di seluruh dunia adalah hutan. Namun peradaban kerap kali berwajah antroposentris. Hutan yang tumbuh liar itu akhirnya dihancurkan atas nama pembangunan.
Sebelum menjadi pemukiman elite, Menteng merupakan hutan yang ditumbuhi Pohon Menteng atau Baccaurea racemosa. Namun mulai tahun 1810, Gubernur Daendels menyulap lahan seluas 244 Ha itu menjadi daerah pengembangan Kota Batavia. Rumah-rumah mewah kemudian berjejer lengkap dengan segala modernitasnya.
Di sisi lain, manusia kembali merindukan pepohonan ketika peradaban itu sudah tercipta. Pada tahun 1994, misalnya, Pemprov DKI Jakarta memutuskan mengubah tempat pembuangan sampah di Srengseng, Jakarta Barat, menjadi hutan kota. Padahal saat itu Srengseng dikenal sebagai Bantargebang-nya Ibu Kota.
Dalam surat keputusan Keputusan Gubernur DKI Jakarta nomor 202 tahun 1995, Hutan Kota Srengseng difungsikan sebagai daerah resapan air, pengawetan plasma nutfah, tempat wisata dan aktivitas masyarakat. Kala itu, pembangunan di sana sini telah menyadarkan manusia kota bahwa banjir sudah menjadi ancaman serius.
Hutan di Antara Beton Ibu Kota (77456)
zoom-in-whitePerbesar
Hutan Kota Universitas Indonesia Dok. Rizki Baiquni Pratama/kumparan
Saat ini, Hutan Kota Srengseng menyimpan 56 jenis pohon seperti Mahoni, Trembesi, hingga Flamboyan. Ada lebih dari 3.700 pohon dengan tinggi di atas dua meter yang berada di hutan tersebut. Tiap kali hujan, pohon-pohon di sana bertugas menyerap limpasan air, meski tak semuanya tertampung.
Tapi, banjir sebetulnya hanyalah konsekuensi dari iklim yang terus berubah. Banyaknya emisi CO2 yang dihasilkan kendaraan menyebabkan efek gas rumah kaca (GRK). Jakarta pun akan semakin panas dan iklim menjadi tak menentu.
Sementara itu, kesadaran manusia kota tentang dampak buruk transportasi modern belumlah tumbuh. Kita lebih sibuk menghabiskan waktu berkendara, ketimbang menanam pohon dan berjalan-jalan di hutan kota.
Kita barangkali bahkan lebih hafal nama-nama tipe kendaraan bermotor seperti Vario, Beat, Nmax, dkk. Tapi, apakah kita sudah tahu dengan nama pepohonan yang ada di seberang jalan sana?
DKI Jakarta memiliki 31 hutan kota yang luasnya mencapai 176,12 ha. Hutan ini bisa jadi solusi untuk menurunkan emisi gas rumah kaca ibu kota. Pertanyannya: seberapa besar kemampuannya? Dan apa pentingnya hal ini? Klik di bawah.
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten