kumparan
KONTEN PENGGUNA

Jerinx SID, Punk, K-Pop, dan Merayakan Perbedaan ala Levinas

Untitled Image
Jerinx SID

"Ayo bangun dunia di dalam perbedaan, jika satu tetap kuat kita bersinar. Harus percaya tak ada yang sempurna dan dunia kembali tertawa…."

SID-Kuat Kita Bersinar

ADVERTISEMENT
Suara Bobby Kool melesap ke otak melalui earphone butut yang kabelnya nyaris putus. Vokalis Superman is Dead (SID) itu menemani saya pergi bekerja. Subuh itu mood saya meningkat berkali-kali lipat.
‘Kuat Kita Bersinar’ adalah satu dari sekian banyak lagu SID yang saya sukai. Lagu yang dirilis 11 tahun silam itu berisi pesan menghargai perbedaan. Tak ada yang berat dalam liriknya. Kecuali maknanya yang begitu mendalam. Tipikal SID sebagai band beraliran punk memang begitu. Apa adanya dan menghasut kita berpikir dua kali.
Meski demikian, lagu itu kini menjadi ironi. Drummer SID, Jerinx, justru menunjukkan sikap sebaliknya. Ia mengunggah cuitan tak sedap ke penggemar K-Pop di Twitter. Akibatnya, akun Twitter Jerinx sejak Minggu (3/2) lenyap. Buntut dari aksi report berjamaah yang dilakukan fans K-Pop.
ADVERTISEMENT
Video
Padahal kalau dibedah, kata kunci dalam lagu ‘Kuat Kita Bersinar, misalnya, adalah ‘Perbedaan’. Kata tersebut diucap enam kali sepanjang tiga menit sebelas detik. Lagu itu menggambarkan bagaimana rasa benci dan peperangan muncul karena manusia gagal menerima perbedaan. Destruksi hadir saat rasa curiga bertumbuh. Hal inilah yang berulang-ulang diingatkan lagu itu.

“Ku tatap dunia, terasa perih luka di dada. Pertempuran manusia yang buta indahnya perbedaan. Oh indahnya..,”

Kegusaran SID itu juga bukan yang pertama. Dalam perang dunia II, tepatnya saat Hitler membantai seluruh orang Yahudi, Emmanuel Levinas mencurahkan isi hatinya dalam bentuk pertanyaan. Filsuf Perancis itu mempertanyakan bagaimana mungkin perbedaan dapat membuat seseorang kehilangan nyawanya.
Levinas sendiri mesti menelan pil pahit lantaran keluarganya dibantai oleh Nazi. Ia lalu menelusuri mengapa perbedaan mampu membuat dunia porak-poranda. Dalam bukunya berjudul ‘Totalitas yang Tak Terhingga’, ia melihat bahwa biang keladi dari tragedi adalah ‘kesadaran’.
ADVERTISEMENT
Menurut Levinas, ‘kesadaran’ yang kandung bercokol di kepala kita seringkali bekerja dengan pola dikotomis. Antara ‘Yang sama’ dengan ‘Yang lain. ‘Yang sama’ merupakan pikiran kita sendiri yang merupakan manifestasi dari The I (sang aku). Sementara ‘Yang lain’ adalah apa pun yang berada di luar sang aku.
Problemnya, ‘kesadaran’ seringkali terjebak dalam sebuah transendensi. Sebuah upaya mengatasi segala sesuatunya dengan menyamakan ‘Yang lain’ dengan 'Yang sama'. Fasisme bertumbuh dari pola pikir semacam ini. Keseragaman yang menampik perbedaan. Seolah-olah semua orang harus sama dengan isi pikirannya.
Levinas sendiri mendefinisikan perbedaan sebagai alteritas yang tak terjembatani. Ia melihat bagaimana perbedaan tak pernah mungkin ditundukkan dengan cara apa pun. Genosida sekalipun tak bisa mematahkan fakta bahwa ‘Yang lain’ itu berbeda.
ADVERTISEMENT
‘Yang lain’ adalah tak terbatas. Ia datang dari sebuah dunia berbeda yang tak pernah dikenali sebelumnya. Ia tak bisa dijangkau dengan isi pikiran ‘Yang sama’. Berupaya untuk menjangkaunya hanya berakhir menyedihkan. Di mata ‘Yang lain’, ‘Yang sama’ merupakan ‘Yang lain’ itu sendiri. Setiap orang hadir dalam alteritasnya yang tak terpahami.
Untitled Image
Grup K-pop Super Junior menghibur para penggemarnya saat menggelar konser di ICE BSD, Tangerang, Banten, Sabtu (11/1). Athletina Melati/kumparan
Dalam konteks ini, perbedaan juga bukan perkara agama, ras, atau bahkan suku. Perbedaan lebih luas dari itu. Sesederhana melihat perbedaan yang menyeruak ke dalam genre musik. Punk, Metal, Jazz, atau bahkan K-Pop sekalipun adalah alteritas yang tak terjembatani itu.
Bagi pecinta K-Pop, misalnya, musik metal adalah musik teriak-teriak yang tak jelas. Sementara bagi pecinta metal, barangkali, musik K-Pop adalah joget-joget yang kurang bermakna. Dan itu tak jadi soal, semua indah dalam perbedaan.
ADVERTISEMENT
Musik adalah ritus. Daya magisnya hanya dapat dirasakan oleh mereka yang percaya. Tak ada yang lebih rendah atau lebih tinggi. Semuanya setara dan patut dirayakan. Hanya kita yang kadang-kadang tak berani mengakuinya.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan