Konten dari Pengguna
Mengungkap Peran Sejarawan Kolonial dalam Narasi Nusantara
29 Oktober 2025 10:45 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Mengungkap Peran Sejarawan Kolonial dalam Narasi Nusantara
Sejarawan kolonial menulis sejarah Nusantara dari sudut pandang Eropa untuk melegitimasi kekuasaan penjajahan.
Kini, sejarawan modern berupaya mendekonstruksi agar menjadi Indonesia-sentris.Rizky Ega Pratama
Tulisan dari Rizky Ega Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Sejarah tidak pernah ditulis dalam ruang hampa. Ia adalah rekonstruksi masa lalu yang disusun oleh individu dengan latar belakang, kepentingan, dan sudut pandang tertentu. Memahami hal ini menjadi krusial ketika kita membahas peran sejarawan kolonial dalam narasi nusantara yang karyanya telah membentuk cara kita memandang masa lalu bangsa selama berabad-abad.
ADVERTISEMENT
Tulisan mereka bukan sekadar catatan peristiwa, melainkan sebuah konstruksi naratif yang sarat akan agenda tersembunyi. Oleh karena itu, membongkar kerangka penulisan ini adalah langkah awal untuk merebut kembali sejarah kita sendiri.
Untuk memahami sejarah Indonesia secara utuh, kita perlu menelaah kembali siapa yang pertama kali menuliskannya secara sistematis dan untuk tujuan apa. Sejarawan kolonial, yang didominasi oleh orang Eropa, memegang pena pertama dalam historiografi modern Indonesia. Namun, peran sejarawan kolonial dalam narasi nusantara tidaklah netral, melainkan terikat erat dengan proyek kolonialisme itu sendiri.
Siapa Sejarawan Kolonial dan Apa Tujuan Mereka?
Sejarawan kolonial umumnya adalah para pejabat pemerintah, perwira militer, atau akademisi yang bekerja dalam kerangka kekuasaan Hindia Belanda. Mereka memiliki akses istimewa terhadap arsip dan sumber daya, namun pandangan mereka dibentuk oleh superioritas rasial dan kepentingan politik. Karena itu, tulisan mereka lebih mencerminkan cara pandang penjajah daripada realitas masyarakat terjajah.
ADVERTISEMENT
Pada dasarnya, sejarawan kolonial adalah penulis sejarah Nusantara dari perspektif Eropa selama masa penjajahan. Mereka memposisikan diri sebagai pencatat yang objektif, namun karya mereka secara implisit berfungsi sebagai alat kekuasaan. Mereka mendokumentasikan, mengklasifikasikan, dan pada akhirnya mengontrol narasi tentang masyarakat yang mereka jajah.
Misi di Balik Penulisan: Legitimasi Kekuasaan Kolonial
Tujuan utama di balik penulisan sejarah kolonial adalah justifikasi. Dalam buku terjemahan Historiografi Hindia Belanda karangan Hermanus Johannes de Graaf dijelaskan bahwa penulisan sejarah pada era itu bertujuan melegitimasi kehadiran dan kekuasaan kolonial. Narasi yang dibangun sering kali menggambarkan bangsa Eropa sebagai pembawa peradaban kepada masyarakat pribumi yang dianggap statis dan terbelakang.
Dampak Penulisan Sejarah Era Kolonial terhadap Narasi Nusantara
Warisan historiografi kolonial meninggalkan dampak yang mendalam dan bertahan lama. Cara kita memahami tokoh, peristiwa, dan dinamika sosial di masa lalu sering kali masih terpengaruh oleh kerangka yang mereka bangun. Dampak ini memperlihatkan betapa kuatnya peran sejarawan kolonial dalam narasi nusantara sebagai fondasi pengetahuan sejarah kita.
ADVERTISEMENT
Dampak paling signifikan adalah terciptanya narasi yang Eropa-sentris atau Neerlando-sentris. Sebagaimana diulas dalam buku Indonesian Historiography oleh Sartono Kartodirdjo, pendekatan ini menempatkan kedatangan dan aktivitas bangsa Eropa sebagai titik pusat sejarah Nusantara. Akibatnya, dinamika internal, perlawanan lokal, dan agensi masyarakat pribumi sering kali dikesampingkan atau dianggap tidak penting.
Objektivitas yang Dipertanyakan: Pengaburan Fakta Lokal
Karya sejarawan kolonial kerap mengaburkan fakta lokal demi mendukung narasi mereka. Perlawanan rakyat seperti Perang Diponegoro sering digambarkan sebagai pemberontakan primitif melawan otoritas yang sah, bukan sebagai perjuangan kemerdekaan. Dengan demikian, suara dan perspektif dari pihak Indonesia sengaja diredam.
Bagaimana Sejarawan Modern Menyikapi Ulang Narasi Kolonial?
Setelah kemerdekaan, muncul kesadaran kritis di kalangan sejarawan Indonesia untuk meninjau ulang warisan kolonial. Upaya ini bukan tentang menghapus, melainkan mendekonstruksi dan menulis ulang sejarah dari sudut pandang kita sendiri. Inilah titik di mana peran sejarawan kolonial dalam narasi nusantara mulai digugat secara serius.
ADVERTISEMENT
Dekolonisasi Sejarah: Menulis Ulang dari Perspektif Indonesia
Langkah pertama adalah dekolonisasi sejarah, yaitu upaya sadar untuk melepaskan diri dari kerangka Eropa-sentris. Sejarawan modern mulai mengusung pendekatan Indonesia-sentris, yang menempatkan masyarakat Indonesia sebagai subjek utama dalam sejarahnya sendiri. Fokusnya beralih pada dinamika sosial, ekonomi, dan politik dari dalam.
Menggunakan Kembali Sumber Kolonial dengan Kritis
Sumber-sumber kolonial, seperti arsip dan laporan pejabat, tidak serta-merta dibuang. Sebaliknya, sejarawan modern menggunakannya dengan sikap kritis. Mereka membaca sumber-sumber tersebut "melawan arus" untuk menemukan informasi yang disembunyikan atau perspektif yang terabaikan.

