Pencarian populer
USER STORY
8 November 2018 14:49 WIB
0
0

3 Tahap Partisispasi Politik Digital: Belajar dari Pilkada Jawa Barat

Cover Pilgub Jabar (Foto: Muhammad Faisal Nu'man/kumparan)
Perolehan suara Sudrajat-Syaikhu pada pilkada Jawa Barat 2018 mengejutkan banyak pihak. Selain hanya terpaut 3,01% dari pasangan Ridwan-UU yang keluar sebagai pemenang, pasangan Sudrajat-Syaikhu berhasil membantah hasil-hasil survei yang menempatkan mereka di posisi ketiga dari strata survei pemenangan, di bawah pasangan Dedy-Dedi.
ADVERTISEMENT
Melejitnya perolehan suara pasangan ini menyisakan pertanyaan, apakah semua survei lapangan meleset, atau ada hal lainnya? Jika kita memerhatikan lebih luas, maka tingginya perolehan suara Sudrajat-Syaikhu tidak terlepas dari kombinasi aktivitas kampanye digital dan lapangan yang dilakukan secara rapi oleh tim pemenangan mereka.
Bagaimana tidak, selain mampu memancing kontroversi pada debat calon pasangan kepala daerah di televisi nasional, pasangan ini juga rajin bergerilya menghadiri berbagai undangan masyarakat, baik dalam skala kecil maupun besar.
Selain itu, aktivitas digitalnya juga layak diperhitungkan. Setiap berita mengenai pasangan ini akan langsung dipenuhi komentar dan diramaikan dengan repost sehingga berita mampu tersebar dengan cepat.
Memang, semua pasangan gubernur yang bertarung di Jawa Barat memiliki tim kampanye yang mengurus interaksi digitalnya sendiri melalui akun-akun yang tersebar di berbagai media sosial.
ADVERTISEMENT
Namun, di antara tim digital tersebut, tim Sudrajat-Syaikhu yang paling tanggap. Mereka sadar bahwa mereka tidak memiliki popularitas sebesar pasangan lainnya di Jawa Barat, terutama dengan komposisi demografis yang luas dan heterogen dilengkapi dengan jangkauan geografis yang sangat luas.
Kampanye akbar Sudrajat - Ahmad Syaikhu (Foto: Antara/M Agung Rajasa)
Maka dari itu, pasangan ini berkonsentrasi di wilayah-wilayah padat di Jawa Barat yang relatif jauh dari Bandung dan lebih dekat dengan Jakarta atau singkatnya wilayah Priangan Barat. Sementara itu, masyarakat Priangan Barat cukup aktif berinteraksi secara digital di media sosial, sehingga pembentukan opini pemilih dapat dibentuk di ruang digital.
Wilayah Priangan Barat merupakan wilayah industri yang padat penduduk dan dilengkapi dengan infrastruktur digital yang mapan, sehingga memudahkan aktivitas kampanye digital.
ADVERTISEMENT
Begitupun juga wilayah Bandung dan sekitarnya yang merupakan wilayah industri dan perdagangan dijadikan pusat aktivitas kampanye digital pasangan Ridwan-UU. Pasangan lain berkonsentrasi di wilayah pesisir utara, pesisir selatan dan priangan timur, yang juga bersinggungan dengan aktivitas kampanye lapangan dengan semua pasangan.
Melalui pertarungan pasangan calon gubernur di Jawa Barat ini, kita dapat melihat model partisipasi politik yang terjadi di ranah digital berdasarkan aktivitas para pendukungnya. Setidaknya, terdapat tiga tahap partisipasi politik yang dilakukan oleh para pendukung pasangan gubernur tersebut.
1. Ekspresi politik
Demokrasi digital (Foto: Istimewa)
Tahapan ekspresi politik adalah tahapan dasar dukungan politik dengan mengekspresikan preferensi politik, baik secara langsung menyebut calon ataupun secara tidak langsung dengan menyebut program atau harapan yang sesuai dengan visi calon yang didukungnya.
ADVERTISEMENT
Tahapan lanjut dari fase ini adalah penggunaan atribut kampanye yang mengindikasikan pilihannya. Misalnya, dengan memuat foto bersama kandidat, menggunakan logo atau simbol kampanye kandidat, atau menulis status dukungan terhadap kandidat dengan menggunakan hashtag tertentu.
2. Distribusi konten
Ilustrasi media sosial (Foto: Pixabay)
Tahapan distribusi konten sebenarnya adalah tahapan lanjut yang mulai menyentuh kepada upaya persuasi atau ajakan memilih kandidat. Pada tahapan ini, dukungan dapat berupa penyebaran tautan berita positif, menyebarkan konten kampanye kandidat berupa foto, grafis, ataupun quotes, dan menuliskan alasan-alasan memilih kandidat. Tahapan ini merupakan tahapan rasionalisasi pemilih yang mampu memengaruhi preferensi politik orang lain di sekitarnya.
3. Integrasi dukungan
Videotron Jokowi-Ma'ruf yang diduga langgar kampanye. (Foto: Dok. Sahroni)
Pada tahapan ini, partisipan kampanye mulai melakukan kampanye secara terbuka dengan mengajak untuk memilih kandidat tertentu. Tahapan ini adalah tahapan yang paling utama dalam proses kampanye digital. Partisipan kampanye, dalam kampanye terbukanya mulai berkomunikasi dengan warganet lain dan menggalang dukungan bagi kandidat tertentu.
ADVERTISEMENT
Ketiga tahapan ini juga pernah dituliskan oleh Andriadi (2017:192) dalam bentuk tabel partisipasi politik untuk melihat model penggunaan media sosial sebagai sarana partisipasi politik pada Pemilukada DKI Jakarta. Ketiga pola tersebut dimungkinkan terjadi karena watak intrinsic dari media sosial yaitu, informatif, interaktif, dan partisipatoris.
Perlu diingat, kampanye digital dan kampanye konvensional tidak memiliki perbedaan besar dalam ranah partisipasi politik. Keduanya membutuhkan pemahaman mendalam tentang target kampanye, baik secara demografis, geografis maupun psikografis.
Audiens target kampanye sendiri dapat berasal dari kelompok ataupun individu, baik partisan maupun nonpartisan. Audiens juga mengalami tiga level partisipasi yang perlu diamati dan disikapi dengan cermat, yaitu:
  • Pasif: Audiens hanya menerima asupan informasi kampanye tanpa memberikan reaksi atau respons terhadap aktivitas kampanye.
  • Aktif: Audiens mulai merespon isi kampanye dengan berkomentar, bertanya, mendukung atau ikut menyebarkan konten kampanye.
  • Pro aktif: Audiens tidak hanya terlibat dalam aktivitas digital, tetapi juga terlibat dalam aktivitas lapangan kandidat dan secara sukarela mengajak untuk memilih kandidat.
ADVERTISEMENT
Oleh karena itu, kemampuan kandidat dan tim kandidat menyampaikan pesan kampanye dan merumuskan pesan kampanye yang menyentuh sisi emosional dan rasional audiens menjadi hal yang sangat penting untuk dilakukan.
Belajar dari Pemilukada Jawa Barat 2018, terlihat bahwa kampanye digital mampu memberikan peluang baru dalam perolehan suara, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Keterampilan membaca peluang politik pada kampanye digital perlu didasarkan pada keterampilan pembacaan peluang politik secara praktis di lapangan.
Teknik konsentrasi, pembentukan opini dan penyebaran konten kampanye dimungkinkan terjadi secara simultan pada ranah digital dan lapangan. Kombinasi kedua aktivitas kampanye tersebut tidak hanya mampu membentuk opini namun juga motivasi pemilih untuk memilih kandidat.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan dan Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.80