• 1

"Anak-Anak Tiri" Piala Dunia Antarklub

"Anak-Anak Tiri" Piala Dunia Antarklub



Real Madrid

Real Madrid ketika menjadi juara Piala Dunia Antarklub 2016 (Foto: Matt Roberts/Getty Images)
Tiga belas kali Piala Dunia Antarklub digelar, yang menjadi juara selalu tim-tim Eropa atau Amerika Latin.
Saat Real Madrid, si “penguasa” trofi Liga Champions Eropa itu, menjadi juara Piala Interkontinental 1998, dengan bangga mereka menyatakan diri sebagai juara dunia. Madrid di ujung abad ke-20 dan awal abad ke-21 itu memang layak jemawa.
Kelak, setelah Jupp Heynckes angkat kaki dan Madrid ditangani tiga manajer berbeda dalam rentang setahun, mereka berjumpa Vicente del Bosque. Di tangan Del Bosque, Los Merengues menjuarai La Liga 2 kali, menjuarai Liga Champions Eropa 2 kali, dan sekali lagi meraih trofi juara Piala Interkontinental.
Tapi, cerita Madrid dan Del Bosque yang indah itu kita kesampingkan dulu. Mari kembali ke tahun 1998, ketika Madrid menang 2-1 atas Vasco da Gama di Stadion Nasional Tokyo, Jepang.
Ketika kaki kidal Raul Gonzalez, si Pangeran Bernabeu itu, berhasil mengecoh dua pemain Vasco da Gama, lalu dengan kaki kanannya —yang tidak pernah menjadi trademark-nya— dia membobol gawang yang dikawal Carlos Germano. Madrid mendapatkan keunggulan 2-1.

Raul Gonzalez

Gol Raul Gonzalez ke gawang Vasco da Gama pada Piala Interkontinental 1998. (Foto: Youtube)
Dengan tujuh menit tersisa, kepercayaan diri Vasco, yang sempat naik usai menyamakan kedudukan 1-1, runtuh. Tak ada gol penyama kedudukan dari tim yang waktu itu dibesut Mario Sanchez tersebut. Madrid pun, setelah puasa 38 tahun, kembali mendapatkan trofi Piala Interkontinental.
Tidak semua langsung setuju bahwa Madrid adalah juara dunia. Termasuk FIFA.
Alasan FIFA gampang saja: bagaimana mungkin pemenang Piala Interkontinental, yang hanya diikuti wakil Eropa dan Amerika Selatan, dianggap sebagai juara dunia?
Pertanyaan sederhana tersebut dibawa FIFA untuk menggelar Piala Dunia Antarklub. Tentu saja, ada motif bisnis juga di dalamnya.
Suratkabar asal Brasil, Jornal do Brasil (JB), menyebut bahwa pada perhelatan pertama Piala Dunia Antarklub, yang dilangsungkan di Brasil pada tahun 2000, FIFA berhasil menjual hak siar senilai 40 juta dolar AS ke 15 broadcaster berbeda di lima benua. Sungguh menggiurkan.
Sedemikian besarnya hype Piala Dunia Antarklub 16 tahun silam, sampai-sampai Manchester United —juara Liga Champions tahun 1999— menyanggupi permintaan federasi sepak bola Inggris, FA, untuk tidak mengikuti Piala FA musim 1999/2000 demi bermain di Piala Dunia Antarklub.

Manchester United

Manchester United di Piala Dunia Antarklub tahun 2000 (Foto: Tom Shaw/Getty Images)
Apes buat United. Sudah tidak bisa mempertahankan gelar Piala FA, perjalanan mereka di pergelaran pertama Piala Dunia Antarklub juga tidak lama: hanya sampai fase grup. Bulan Januari 2000 itu, United “berlibur” di bawah matahari Brasil, tepat ketika tim-tim Premier League bermain di babak ketiga Piala FA dalam dekapan udara dingin Inggris.
United apes, Piala Dunia Antarklub juga apes. Sesudah perhelatan pertama itu, partner pemasaran FIFA, International Sport and Leisure, bangkrut. Edisi kedua yang sedianya dilangsungkan di Spanyol pada tahun 2001 tidak jadi digelar.
Sementara Piala Dunia Antarklub tersendat, Piala Interkontinental jalan terus. Sejak tahun 2000, pada tahun yang sama dengan Piala Dunia Antarklub pertama kali digelar, hingga tahun 2004, Piala Interkontinental membagi lima trofi terakhir mereka kepada Boca Juniors (dua kali), Bayern Muenchen, Madrid, dan FC Porto.
FIFA kemudian mencapai kesepakatan dengan UEFA, CONMEBOL, dan Toyota (sebagai sponsor Piala Interkontinental) untuk menghelat Piala Dunia Antarklub edisi kedua pada tahun 2005 sebagai pengganti Piala Interkontinental.
Jumlah tim dibabat menjadi hanya enam saja, masing-masing juara dari enam konfederasi (UEFA, CONMEBOL, CAF, AFC, CONCACAF, dan OFC) untuk mempermudah penjadwalan sekaligus agar tidak mengganggu jadwal tanding tim di kompetisi masing-masing.
Selayaknya tribut untuk Piala Interkontinental yang di-almarhum-kan, perhelatan edisi kedua Piala Dunia Antarklub digelar di Jepang, tempat Piala Interkontinental digelar (dengan nama Piala Toyota) dilangsungkan dari 1980 sampai 2004.
Cita-cita FIFA tercapai. Keinginan mereka untuk “mengadilkan” perebutan gelar juara, agar pemenangnya benar-benar sahih untuk disebut juara dunia, jadi kenyataan. Tapi, justru di sini ironisnya.
Masuknya tim-tim dari Asia, Afrika, Amerika Tengah dan Utara, serta Oseania, di luar klub-klub Eropa dan Amerika Selatan, bukan membuat persaingan menjadi lebih kaya, melaninkan justru makin menambah tegas dominasi dan jarak level antara tim-tim Eropa dan Amerika Selatan dengan tim-tim dari benua (baca: konfederasi) lainnya.
Tim-tim Eropa yang kaya-kaya dan kesebelasan-kesebelasan Amerika Selatan yang mewah secara teknik masih menjadi raja. Konsep turnamen yang membiarkan tim-tim Eropa dan Amerika Selatan untuk langsung mendapatkan bye dan langsung berlaga di semifinal praktis membuat tim di luar kedua benua itu sebatas menjadi penggembira.
Mereka, tim-tim yang mewakili Asia, Afrika, Oseania, serta Amerika Tengah dan Utara, dibiarkan berjibaku dari bawah, bergulat satu sama lain. Baru kemudian pemenangnya menghadapi masing-masing tim Eropa dan Amerika Selatan di babak semifinal.
Dengan melakoni dua pertandingan saja, tim-tim Eropa atau Amerika Selatan sudah menjadi juara. Seolah-olah Piala Dunia Antarklub adalah acara jalan-jalan yang dilakukan atas dasar formalitas belaka.
Sementara bagi tim-tim penggembira, mereka menjadi “anak-anak tiri”. Pengakuan bahwa mereka bukan sekadar pelengkap masih terus menunggu.
Tepat di perhelatan ke-13, Kashima Antlers nyaris menorehkan cerita berbeda. Berlaga dari babak play-off —alias babak paling bawah—, juara J-League 2016 itu menang 2-1 atas Auckland City lalu menapak naik hingga sampai ke laga puncak. Mereka menantang Madrid yang di babak semifinal mengandaskan Club America 2-0.
Ketika jagoan lini tengah Antlers, Gaku Shibasaki, dua kali membobol gawang Keylor Navas dan membawa tim asal Ibaraki itu unggul 2-1 atas Madrid, secercah harapan untuk mendobrak tradisi itu muncul.
Tapi, harapan itu mati di hadapan nama besar Cristiano Ronaldo. Trigol bintang asal Portugal itu, dengan dua di antaranya ia cetak di babak perpanjangan, membuat Madrid berbalik unggul 4-2. Usaha yang dibangun Antlers sejak babak play-off runtuh dalam 120 menit.
Madrid, seperti sekian belas tahun silam, kembali berada di puncak dunia. Dan “anak-anak tiri” kembali menengadahkan kepala; lagi-lagi berharap.


SportsSepak BolaPiala Dunia Antarklub

500

Baca Lainnya