• 1

Antonio Conte: Deja Vu yang Membutuhkan Waktu

Antonio Conte: Deja Vu yang Membutuhkan Waktu



Antonio Conte

Antonio Conte memang punya sejarah langsung bagus pada musim perdananya menangani sebuah klub. (Foto: Dan Mullan/Getty Images)

Keberhasilan Antonio Conte membawa Chelsea ke puncak klasemen Premier League bisa menimbulkan dua perspektif berbeda.
Di satu sisi itu adalah sebuah kewajaran karena Conte adalah salah satu pelatih terbaik di dunia saat ini. Di sisi lain, hasil itu sukar untuk dipercaya. Pasalnya format tiga bek yang digunakannya di Italia terbukti sukses di terapkan di tanah Inggris.
Berbicara mengenai formasi tiga bek, sebelumnya Conte juga telah sukses menerapkan formula itu di Serie A kala membesut Juventus. Tertanggal 22 Mei 2011, Conte mulai ditunjuk untuk melatih Juve menggantikan Luigi Delneri yang hanya mampu membawa "Si Nyonya Tua" finis di posisi ketujuh di akhir musim.
Di musim perdananya, ia langsung membawa Juve meraih scudetto. Hebatnya, torehan cemerlang itu ia raih tanpa sekalipun kalah. Total tiga musim bersama Bianconeri, ia sukses memborong tiga gelar juara loga ke Juventus Stadium. Torehan gelar yang cukup untuk memperkuat bahwa Conte termasuk salah satu pelatih terbaik di dunia saat ini.
Sejauh ini Conte telah berhasil menyumbangkan 43 angka bagi Chelsea, selisih enam angka dari peringkat kedua yang dihuni Liverpool. Dari 17 laga, Chelsea dibawanya meraih 14 kemenangan. Hebatnya, sebelas di antaranya dibuatnya secara beruntun. Terlebih lagi, Conte membuat lini belakang Chelsea kembali kokoh. The Blues dibawanya meraih 10 clean sheet menggunakan formula tiga beknya.
Trio bek tengah Giorgio Chiellini, Andrea Barzagli, dan Leandro Bonucci melapisi Gianluigi Buffon yang posisinya tak tergantikan hingga sekarang. Kini Conte merefleksikan ketiga pilar lamanya itu ke dalam tubuh Gary Cahill, David Luiz, dan Cesar Azpilicueta. Nama terakhir cukup menarik perhatian karena posisi asalnya sebagai fullback.


Kiprah Conte sejauh ini bersama Chelsea tak jauh beda dengan yang ditorehkannya kala menukangi Juve. Pada 17 pertandingan yang dilakoninya bersama bekas timnya itu, torehannya juga terbilang apik. Di musim pertamanya Conte berhasil meraih 10 kemenangan dan tujuh kali imbang dengan mengantongi 37 poin. Selain itu mereka behasil menyarangkan 28 gol dan hanya 11 kali dibobol lawan. Ditambah lagi dengan hasil sembilan laga tanpa kebobolan.
Sementara di tahun keduanya, dalam 17 laga, ia meraih 41 poin. Hasil dari 13 kali menang, dua kali seri dan dua kali kalah. Ada peningkatan dari segi agresivitas serangan juve, terbukti dari 34 gol dan kebobolan 12 gol. Total sembilan clean sheet berhasil ditorehkannya.
Di musim terakhirnya, Conte semakin meningkatkan rasio kemenangannya di 17 laga perdana. Ia berhasil membawa anak asuhnya meraih poin penuh sebanyak 15 kali. Hanya sekali kalah dan satu sisanya seri. Torehan itu membuat Juve meraih 46 angka. Tak hanya itu, Conte semakin menyempurnakan torehan di musim sebelumnya. Mereka menghasilkan 42 gol dan hanya kecolongan sembilan gol. Juve juga berhasil menjaga gawangnya tetap bersih sebanyak 10 kali.
Sementara pada musim pertamanya, Conte belum begitu intens menggunakan format tiga bek. Tercatat hanya 13 kali ia menggunakan format tersebut di Serie A. Baru di musim kedua ia mulai rutin memakai pakem tersebut dan mulai menyempurnakannya di musim terakhirnya bersama Bianconeri.


Perbedaan paling mendasar formasi Conte saat ini dibanding kala mengarsiteki Juve adalah penggunaan tiga gelandang dan dua penyerang. Sementara di Chelsea Conte menerapkan double pivot serta tiga penyerang di depan.
Apa yang Conte lakukan bukan tanpa alasan. Juve yang kala itu masih mempunyai Andrea Pirlo, Claudio Marchisio, dan Arturo Vidal —yang harus dimainkan bersama demi memaksimalkan skuat.
Alasan lainnya adalah mereka juga tidak memiliki pemain depan yang mumpuni: Sebastian Giovinco, Mirko Vucinic, Alessandro Matri, dan Fabio Quagliarella. Bandingkan dengan apa yang dimiliki Conte sekarang: Diego Costa, Eden Hazard, Pedro Rodriguez, Willian, dan Michy Batshuayi. Tentu sebuah hal yang berbeda.
Kini dengan skuat yang ada serta gelontoran dana dari Roman Abramovich akan membuat Conte dapat lebih bereksplorasi dalam hal taktik dan skuatnya. Tapi ingat, Premier League jelas berbeda dengan Serie A. Baik itu segi permainan maupun dari tingkat kompetitif.
Sejauh ini ia memang berhasil, namun untuk mengulangi kesuksesan seperti saat bersama Juve, ia masih harus teruji. Deja vu yang membutuhkan waktu.

SportsSepak BolaLiga InggrisChelseaAntonio Conte

500

Baca Lainnya