• 2

Boxing Day yang (Tak Selalu) Dinanti

Boxing Day yang (Tak Selalu) Dinanti



Sepak Bola dan Natal

Salah satu hiasan bertema yang dipajang di depan toko merchandise milik Leeds United. (Foto: Jan Kruger/Getty Images)

“Beberapa kali, pada saat menjelang Natal di Liga Primer, para pemain banyak yang ingin beristirahat. Para pemain mengatakan, kalau mendapat kartu kuning, mereka justru senang,” beber Howard Webb.
Klaim mengejutkan itu dilontarkan Webb, yang mantan wasit Premier League, belum lama ini, tepatnya sekitar bulan November lalu. Dalam acara Goals Show di saluran BT Sport, Webb menyebut bahwa supaya bisa menikmati hari Natal tanpa harus bertanding, beberapa pemain sengaja melakukan hal-hal konyol seperti menendang bola ke luar lapangan agar mendapat kartu.
Menjalani Natal sebagai pesepak bola profesional di Inggris memang berat. Jika di Jerman, misalnya, kompetisi diliburkan selama enam minggu pada saat Natal, pemain-pemain di Inggris justru harus bertungkus lumus hanya sehari setelah hari kudus itu.
Jauh dari hangatnya perapian, para pemain itu harus beradu sepak di atas rumput beku demi sejumput keriaan di hati para suporter. Berlaga pada Boxing Day memang sudah jadi tradisi sejak Zaman Victoria. Tak hanya sepak bola, olahraga lain pun demikian. Rugbi dan kriket, dua olahraga nasional Inggris lain, juga punya tradisi bertanding pada hari tersebut.
Jika mau ditelusuri lebih jauh lagi, Boxing Day yang jatuh pada 26 Desember sendiri bertepatan pada St. Stephen’s Day. St. Stephen, atau Santo Stefanus dalam bahasa Indonesia, sendiri merupakan santo pelindung kuda-kuda. Tak heran jika pada Boxing Day, aktivitas olahraga sudah dilakukan bahkan jauh sebelum era Ratu Victoria. Pada St. Stephen’s Day ini, berburu rubah dengan menunggangi kuda menjadi tradisi yang sudah lebih dulu dijalankan.
Pendeknya, pada Boxing Day, orang-orang Inggris memang sudah sejak dahulu selalu mencari hiburan di luar rumah. Jika saat ini mungkin aktivitas di luar mulai berkurang lantaran kemajuan teknologi -- yang memungkinkan orang untuk mendapat hiburan di dalam rumah, lain halnya dengan zaman dahulu. Hal inilah yang kemudian juga membuat suasana Natal di Inggris berbeda dengan di negara-negara lain.
Kembali ke soal sepak bola, sebenarnya sudah banyak wacana untuk menghilangkan pertandingan sepak bola pada Boxing Day. Alasan utamanya adalah untuk meningkatkan performa tim nasional Inggris pada turnamen antarnegara, serta klub-klub Inggris pada kompetisi kontinental. Padatnya jadwal pada masa-masa ini membuat para pemain tidak memiliki waktu yang cukup untuk beristirahat sehingga makin rentan dijangkiti cedera.
Alasan lainnya adalah soal bengkaknya biaya yang harus dikeluarkan klub ketika para pemainnya harus masuk ruang perawatan. The Guardian menyebut bahwa pada tahun 2014, klub-klub Liga Primer Inggris mengeluarkan biaya sekitar 200 juta pound hanya untuk biaya pengobatan pemain-pemain yang cedera. Semakin lama, sepak bola di Boxing Day semakin terasa mudaratnya.
Kemudian, jika pernyataan Webb benar adanya, hal itu juga membuktikan bahwa sebenarnya para pemain pun sudah ogah-ogahan menjalani tradisi ini. Lagipula, siapa yang sudi menukar hangatnya Natal dengan keras dan dinginnya lapangan beku? Kendati demikian, tradisi memang akan sukar untuk diutak-atik dan mau tak mau, para pemain harus mau merelakan waktu dan tenaganya dikorbankan.
Apalah arti bermain di Boxing Day jika dibandingkan dengan kenikmatan hidup yang setiap hari direguk oleh para bintang sepak bola itu? Apalah arti mengorbankan satu hari libur pada musim dingin dengan libur panjang kompetisi pada musim panas? Logikanya (mungkin) begitu. Meski terkesan sepele, kehilangan satu hari libur sebenarnya punya imbas yang besar bagi klub dan para pemainnya.

Manchester United dan pohon Natal.

Hiasan Natal di depan stadion milik Manchester United, Old Trafford. (Foto: Alex Livesey/Getty Images)

Desember tiga tahun lalu misalnya, tercatat empat klub Inggris yang masih bermain di kompetisi Eropa dan Piala Liga yakni Manchester City, Manchester United, Chelsea, dan Tottenham Hotspur memiliki sembilan jadwal bertanding dalam sebulan. Artinya, mereka akan menjalani satu laga dalam setiap tiga hari! Dengan jadwal semacam itu para pemain tak hanya terkuras dari segi fisik, tapi juga mental karena minimnya waktu untuk berkumpul bersama keluarga.
Untuk menyiasati masalah seperti itu, klub-klub di Premier League menetapkan beberapa kebijakan Dalam hal ini, pelatih memiliki andil besar demi menjaga fisik dan mental anak asuhnya. Beberapa di antaranya memilih untuk tetap melakukan latihan seperti biasa, bahkan ada juga yang meniadakan jadwal latihan demi menjaga quality time para pemain dengan keluarganya.
Eksmanajer Manchester United, Louis van Gaal, memilih untuk memberi kesempatan bagi anak-anak asuhnya menghabiskan waktu bersama keluarganya. Pada musim 2015/16 lalu, Wayne Rooney mengatakan kepada Eurosport bahwa ia dan rekan-rekan setimnya tidak melakukan latihan pada hari Natal untuk menghabiskan waktu bersama keluarga. Padahal, 24 jam setelahnya “Setan Merah” dijadwalkan bertanding melawan Stoke City.
Sementara itu rival sekota United, Manchester City, juga pernah melakukan hal serupa. The Citizens yang kala itu dilatih oleh Manuel Pellegrini mengizinkan para pemainnya untuk menyempatkan waktu bersama keluarga meski tak lama. Kepada Manchester Evening News, manajer asal Chile tersebut berkata, “Kami melakukan latihan pada pagi hari lalu para pemain akan pulang ke rumah untuk makan siang di rumah masing-masing.
Setelah itu, para pemain (harus) segera kembali untuk mempersiapkan pertandingan.” Daily Mail pada Desember tahun lalu juga memberitakan tentang beberapa kebijakan dari para pelatih di Liga Primer. Claudio Ranieri yang berhasil mempersembahkan mahkota Liga Primer untuk Leicester City pada musim lalu memfasilitasi anak-anak asuhnya agar bisa merayakan Natal.
Pelatih yang pernah dijuluki sebagai The Tinkerman itu meniadakan latihan, padahal sehari setelah Natal, The Foxes harus bertandang ke Anfield untuk meladeni Liverpool. Sementara itu, sebagai salah satu dari beberapa manajer asing di Inggris, Mauricio Pochettino juga pernah mengutarakan betapa sulitnya berdaptasi dengan Liga Primer yang tetap menggelar pertandingan pada Boxing Day.
Pasalnya, Natal merupakan hari libur yang sudah semestinya dialokasikan untuk kepentingan keluarga. Untuk itu, ia membiarkan para pemainnya untuk menghabiskan malam dan beristirahat di rumah. “(Kondisi) ini memang berbeda tapi kami menikmatinya. Saya tak memiliki waktu untuk memasak. Istri saya saya melakukan itu. Satu-satunya tugas saya adalah membuka anggur terbaik untuk menikmati makan malam,” ujar manajer asal Argentina tersebut.

Chelsea dan perayaan Natal.

Seorang pendukung Chelsea mengenakan kostum Santa Claus tepat di depan Stadion Stamford Bridge. (Foto: Jamie McDonald/Getty Images)

Sementara itu, Alan Pardew memiliki cara tersendiri dalam mengatasi "masalah" Natal ketika menangani Crystal Palace. Kepada sumber yang sama, manajer yang pernah membesut West Ham United bertutur, “Saya selalu mempersilakan para anggota keluarga untuk datang dan jika mereka ingin mengajak cucu atau paman atau siapa pun. Mereka boleh datang dan menonton latihan.”
Manajer berusia 55 tahun mengistruksikan para pemain agar membawa keluarganya ke tempat latihan. Para penggawa Crystal Palace bahkan juga dipersilakan untuk memboyong keluarganya ke stadion. Kebetulan, pada laga Boxing Day, The Eagles akan melawat ke markas Bournemouth. Pada akhirnya, perayaan Natal tidak hanya sekadar memakai topi sinterklas, memakan pai dalam jumlah banyak, dan menghabiskan waktu bersama keluarga. Tergantung dari bagaimana cara kita memaknai arti Natal itu sendiri.
Theo Walcott, misalnya. Jebolan akademi Southampton itu memiliki target tersendiri untuk Natal tahun ini. “Saya ingin mencetak 10 gol lalu mendapatkan mesin pembuat kopi untuk hari Natal dari istri saya,” ujar penyerang sayap Arsenal seperti yang dilansir The Guardian.
Lain Walcott, lain pula Linvoy Primus. Ekspemain Portsmouth yang identik dengan rambut gimbalnya, mempunyai pesan yang bijak. "Natal adalah momen saat Yesus, sang anak Tuhan, hadir ke dunia. Itu adalah saat untuk memulai lembaran baru dan bersyukur atas pemberian tuhan,” ujarnya kepada Verite Sport.
Apa yang dikatakan Primus mungkin mewakili sebagian besar keyakinan para pemain sepak bola, khususnya di Premier League. Tak perlu khawatir akan kehilangan arti Natal meski harus tetap bekerja dan tak bisa merayakan Natal bersama keluarga. Mereka toh hanya cukup bersyukur atas karunia yang diberikan dan (tentunya) atas keberhasilan menjadi pesepak bola profesional itu sendiri.

SportsSepak BolaNatalBoxing DayLiga Inggris

500

Baca Lainnya