• 0

Ini Bukan Laurent Blanc, Ini Unai Emery

Ini Bukan Laurent Blanc, Ini Unai Emery



Unai Emery

Masa-masa awal Unai Emery di Paris Saint-Germain jauh dari mulus-mulus saja. (Foto: Gonzalo Arroyo Moreno/Getty Images)

Tiga tahun bukan waktu yang sebentar untuk bisa dilupakan. Banyak kenangan yang mungkin bisa terjadi dalam waktu tiga tahun. Dan Laurent Blanc mungkin menjadi salah satu kenangan yang paling diingat dari pendukung Paris Saint-Germain dalam tiga tahun terakhir ini.
Tiga gelar Ligue 1, dua gelar Coupe de France, tiga gelar Coupe de la Ligue, dan tiga gelar Trophee des Champions yang dipersembahkan oleh Blanc tentu tidak akan mudah dilupakan. Apalagi bagi pendukung PSG, yang memang sudah lama merindukan gelar juara.
Tidak heran, ketika tongkat kepelatihan berganti dari Blanc ke Unai Emery, beban berat langsung menghampiri juru taktik asal Spanyol tersebut. Apakah ia dapat meneruskan prestasi yang didapat oleh Blanc? Atau justru PSG kembali mengalami paceklik prestasi? Pertanyaan-pertanyaan yang muncul terus menyeruak hingga kompetisi diputar.
Dalam 19 pertandingan musim lalu, PSG sukses menempati posisi teratas klasemen dengan torehan 16 kemenangan dan 3 hasil imbang. Musim ini, dari 19 laga, PSG hanya meraih 12 kemenangan dan sudah 4 kali kalah. Mereka pun tersendat di posisi ketiga klasemen dengan selisih lima poin di belakang pemuncak klasemen, OGC Nice.
Lalu, di mana bedanya Blanc dan Emery?
Laurent Blanc

Laurent Blanc

Mantan pelatih Paris Saint-Germain, Laurent Blanc, kala menghadiri konferensi pers jelang laga Liga Champions musim 2015/16 menghadapi Manchester City. (Foto: Clive Brunskill)

Tiga gelar liga dalam tiga musim cukup membuktikan bagaimana Blanc benar-benar sukses dalam menangani klub. Tanpa bermaksud menyingkirkan faktor lawan yang tak seimbang, Blanc memang memiliki taktik yang cukup cemerlang dalam tiga musim tersebut.
Formasi dasar 4-3-3 dengan fokus pada penguasaan bola menjadi pilihan utama Blanc sejak dipercaya menangani PSG. Keberadaan tiga gelandang yang memiliki kemampuan berbeda, Blaise Matuidi, Thiago Motta, dan Marco Verratti menjadi salah satu alasan di balik dipilihnya formasi dan fokus tersebut. Ketiga pemain tersebut mampu difungsikan secara berbeda, tergantung kebutuhan.
Dalam setelan awal, Blanc biasanya memainkan Motta sebagai pembagi bola, Verratti sebagai otak serangan, sementara Matuidi ditampilkan sebagai box-to-box midfielder. Selain keberadaan tiga gelandang yang memiliki tipikal berbeda, lini depan juga menjadi keuntungan lain yang dimiliki oleh Blanc. Keberadaan pemain-pemain seperti Zlatan Ibrahimovic dan Edinson Cavani yang mampu ditempatkan di pos penyerang tengah, hingga Ezequiel Lavezzi, Javier Pastore, Lucas Moura, dan Angel Di Maria memperbanyak opsi taktikal yang dapat digunakan oleh Blanc.
Ibrahimovic sendiri menjadi salah satu otak permainan yang ditampilkan oleh Blanc. Kemampuannya dalam membantu pertahanan —ketika timnya memainkan garis pertahanan rendah— membuat dua penyerang sayap dapat dengan mudah menusuk ketika tim ingin melakukan serangan balik.
Unai Emery

Unai Emery

Pelatih Paris Saint-Germain, Unai Emery, saat mendampingi timnya menghadapi Leicester City di International Champions Cup. (Foto: Jeff Gross)

Ditinggal Ibrahimovic dan beberapa pemain lain membuat gaya permainan PSG di bawah Unai Emery berbeda. Selain itu, kebiasaan Unai Emery menggunakan formasi 4-2-3-1 membuatnya seolah ingin lepas dari bayang-bayang Blanc. Apa yang ditampilkan oleh Unai Emery memang berbeda dengan apa yang ditampilkan oleh Blanc. Perbedaan tersebut paling terasa soal bagaimana fokus permainan tim serta orientasi dalam melakukan serangan.
Fokus penguasaan bola yang dilakukan oleh Blanc tampak dihilangkan oleh Unai Emery. Dalam pertandingan Trophee des Champions melawan Olympique Lyon, ia berusaha menekankan pada anak-anak asuhnya bahwa menyerang secepat mungkin lebih penting ketimbang berlama-lama melakukan penguasaan bola.
Namun demikian, pembelian di musim panas lalu seakan tampak tidak mampu beradaptasi dengan taktik yang dipilih oleh Unai Emery. Hatem Ben Arfa dan Jese Rodriguez kerap gagal menunjukkan penampilan terbaik. Belum lagi garis pertahanan tinggi yang diusung oleh Unai Emery dengan dua bek sayap yang diharuskan untuk melakukan overlap seringkali dimanfaatkan oleh lawan.
Upaya-upaya Unai Emery yang justru gagal, membuat ia beralih ke formasi 4-3-3 dengan setelan yang hampir sama dengan apa yang dilakukan oleh Blanc.
Kesimpulan
Perbedaan utama kedua pelatih adalah soal bagaimana keduanya memanfaatkan dua bek sayap untuk menyerang. Di era Blanc, dua bek sayap tidak difokuskan untuk menyerang. Keduanya hanya bertugas untuk membantu serangan hingga memasuki daerah permainan lawan.
Selain itu, ia juga berupaya memaksimalkan penguasaan bola untuk dapat memasuki daerah permainan lawan.
Di sisi lain, di era Emery, dua bek sayap memiliki tugas untuk naik setinggi mungkin. Pada pertandingan pekan ketujuh melawan Toulouse, terlihat jelas tingginya kedua bek sayap PSG naik.

Sepak BolaLiga PrancisParis Saint-GermainSports

500

Baca Lainnya