• 0

Jalan-Jalan Sunyi Kashima (Antlers)

Jalan-Jalan Sunyi Kashima (Antlers)



Kashima Antlers

Pendukung tim Kashima Antlers di Kashima Soccer Stadium. (Foto: Rossi Finza Noor/kumparan)
Dua kaleng besar bir ceri dingin sudah dihabiskan oleh orang di sebelah saya, sementara perjalanan menuju Kashima masih panjang.
Cuaca musim panas Jepang memang tengik. Seharian itu, saya mempercayakan kepala saya dalam perlindungan handuk tipis seharga 300-an yen yang saya beli di konbini —istilah orang-orang Jepang untuk menyebut convenience store.
Saya mengira, jika saja handuk itu bisa berteriak, pastilah suaranya sudah menyerak saat itu. Sejak pagi saya meninggalkan penginapan, teriknya matahari memang tidak berhenti menghujam serat-serat tipis si handuk.
Setengah mengutuk dan kepayahan, saya kerap mencuri-curi kesempatan untuk melipir dan berlindung pada atap-atap pendek yang menjuntai dari gedung-gedung yang berada di sisi trotoar. Saya baru betul-betul terselamatkan ketika akhirnya masuk ke dalam bus yang membawa saya dari Stasiun Pusat Tokyo ke Kashima.
Setengah jam bus berjalan, pria gemuk yang duduk di sebelah saya itu menenggak tegukan terakhir dari bir cerinya. Kaleng bir yang sudah tidak berisi itu lantas menyusul rekan sejawatnya yang sudah berada di kantong kresek putih yang ada di hadapan pria itu.
Celakalah dia kalau dua kaleng bir dingin itu tidak menghilangkan dahaganya. Sebab, sekalipun AC dari bus yang kami tumpangi menghembus tanpa ampun, cuaca terik di luar masih bertahan. Tidak ada tanda-tanda awan akan menghalangi terjangan panas dari pemiliknya nun jauh di atas sana. Sisi baiknya: langit begitu biru hari itu.
Dibutuhkan setidaknya dua jam untuk mencapai Kashima via jalan tol. Sebagian besar orang yang ikut di dalam bus hari itu, tidak termasuk si penenggak bir ceri di sebelah saya, adalah pendukung Kashima Antlers —yang absurdnya justru orang-orang Tokyo.
Saya mengira, pada awalnya, saya akan berada dalam satu bus yang penuh dengan pendukung FC Tokyo. Tapi, hanya satu atau dua orang saja yang mengenakan kostum FC Tokyo di dalam bus itu. Hari itu adalah hari FC Tokyo menjadi tim tandang melawan Antlers.
Kalau ini adalah perjalanan Jakarta-Bandung, dan saya berada satu bus dengan orang-orang Jakarta yang mendukung Persib, ketika Persija bertindak sebagai tim tandang, saya tentu akan terkekeh geli; mengira ini semua adalah lukisan di atas kanvas belaka. Lalu Tuhan, sutradara dari adegan absurd ini, adalah Salvador Dali.

Kashima Antlers

Pendukung tim Kashima Antlers (Foto: Matt Roberts/Getty Images)
Satu-dua truk kecil lewat ketika bus sudah memasuki batas kota Kashima. Lalu, satu-dua mobil kecil bak terbuka menyelinap di sisi bus, satu atau dua kali. Kashima, sejauh kesan pertama yang saya dapatkan begitu memasuki jengkal-jengkal pertamanya, bukanlah kota yang penuh ingar-bingar.
Kashima bukanlah Tokyo dengan lampu warna-warni dan Shibuya Crossing-nya yang sibuk dan penuh jejalan tas belanja itu. Luas total area Kashima hanya 106,02 kilometer per segi, masih jauh lebih luas Tokyo dengan 2.187,66 kilometer per segi.
Jika Tokyo yang gemerlapan itu adalah kota untuk merayakan hidup sepenuh-penuhnya, Kashima, dengan jalan-jalannya yang sunyi dan lengang, lebih mirip kota untuk menghabiskan hari-hari terakhir hidup. Tenang dan tanpa gangguan.
Tapi, bukan berarti Kashima tidak punya degup. Sebagai rumah dari Antlers, kesebelasan dengan koleksi gelar juara J-League terbanyak, ada kebanggaan yang tidak bisa ditawar-tawar dari pendukung Antlers.
Di luar stadion kebanggaan mereka, Kashima Soccer Stadium, berdiri patung Arthur Antunes Coimbra alias Zico. Eksbintang sepak bola Timnas Brasil itu pernah “mampir” tiga tahun di ujung kariernya untuk bermain bersama Antlers. Tapi, warisan Zico bertahan lebih dari tiga tahun. Sosoknya diabadikan sebagai patung putih di dekat pohon rindang —yang melindunginya dari cuaca terik musim panas— dan tulisan-tulisan besar “Spirit of Zico” yang dibentangkan di tribun-tribun Kashima Soccer Stadium.

Kashima Antlers

Patung Zico di luar stadion milik Kashima Antlers (Foto: Rossi Finza Noor/kumparan)
Saya datang ketika Antlers berada dalam masa paceklik. Gelar juara J-League terakhir kali mereka dapatkan pada 2009. Kala itu, sudah enam tahun puasa gelar juara liga mereka berlangsung.
Makin sesak buat Antlers: musim itu, perjalanan mereka terbilang inkonsisten. Toninho Cerezo diberhentikan sebelum musim berakhir. Penggantinya adalah Masatada Ishii, yang sebelumnya menjabat sebagai staf pelatih tim utama. Pertandingan melawan FC Tokyo hari itu adalah pertandingan pertama Ishii sebagai manajer Antlers.
Sekitar lebih dari setahun sejak pertandingan tersebut, keputusan bos-bos besar Antlers menunjuk Ishii sebagai manajer terbukti tepat.
Kemenangan 2-1 atas FC Tokyo di laga debut tersebut seolah-olah menjadi pertanda baik rezim Ishii ke depannya — atau setidaknya hingga setahun ke depannya. Pada J-League 2016, Antlers mengakhiri paceklik gelar itu. Mereka meraih gelar juara J-League yang kedelapan sepanjang sejarah klub.
Nyaris sama seperti jalan-jalan lengang yang saya temui di musim panas tahun 2015, perjalanan Antlers di J-League 2016 nyaris tanpa entak-entak menggelegar. Gaku Shibasaki dan rekan-rekannya memang sukses menjuarai first stage J-League 2016 dengan koleksi 39 poin. Namun, di second stage, mereka hanya menduduki posisi ke-11 dengan koleksi 20 poin.
Jumlah total 59 poin itu sudah cukup untuk membawa Antlers duduk di posisi ketiga pada klasemen akhir. Artinya, mereka berhak mendapatkan tiket untuk berlaga di J-League Championship Stage, bersama dengan dua penghuni teratas klasemen akhir, Urawa Red Diamonds dan Kawasaki Frontale, untuk memperebutkan trofi juara.
Di Championship Stage, Antlers menang 1-0 atas Frontale pada babak awal, sebelum bertemu Urawa Red Diamonds di final. Sempat kalah 0-1 dari sang lawan di kandang sendiri, Antlers akhirnya membalikkan keadaan dengan kemenangan 2-1 di leg kedua. Mereka menjadi juara dengan keunggulan agresivitas gol tandang.
***
Desember 2016, hanya sekitar lima hari setelah ditahbiskan menjadi juara, Antlers mengawali perjalanan mereka di Piala Dunia Antarklub. Antlers berlaga dengan status wakil Jepang selaku tuan rumah turnamen.
Kemenangan 2-1 atas Auckland City di babak play-off tidak terlalu mengejutkan. Namun, begitu Antlers menang atas wakil Afrika, Mamelodi Sundowns, dan tim asal Amerika Selatan, Atletico Nacional, langkah-langkah sunyi mereka mendadak bergema.

Tahu-tahu saja, tim yang setahun sebelumnya masih merasakan paceklik gelar juara liga berubah menjadi tim Asia pertama yang berlaga di final Piala Dunia Antarklub. Dengan banyaknya cerita underdog di tahun 2016 (dengan Leicester City menjuarai Premier League dan Portugal menjuarai Piala Eropa sebagai contohnya), apakah Antlers berada dalam jalur yang serupa?
Pada 18 Desember 2016 malam hari di kota pelabuhan Yokohama, Antlers turun berlaga menghadapi raksasa Eropa: Real Madrid. Dua gol Shibasaki ke gawang Keylor Navas nyaris menghidupkan folklor ala tahun 2016 itu. Antlers unggul 2-1 atas Madrid.
Namun, folklor tersebut berakhir menjadi imajinasi belaka. Malam itu, bintang Cristiano Ronaldo lebih terang dari harapan segenap pendukung Antlers ataupun mereka yang suka dengan cerita-cerita mengejutkan. Lewat tiga golnya, Ronaldo menghapus begitu saja senyum pendukung Antlers. Madrid menang 4-2 dan, seperti yang semestinya terjadi, menjadi juara Piala Dunia Antarklub.
Tidak ada piala yang dibawa pulang dalam perjalanan sekitar dua jam antara Yokohama-Kashima, hanya medali-medali runner-up. Tapi, Antlers tahu modal apa yang mereka genggam di dalam diri masing-masing pemain untuk musim depan.


Sepak BolaKashima AntlersPiala Dunia AntarklubSports

500

Baca Lainnya