• 4

Kisah Unik Zarco: Dorong Motor Sampai Finis Demi Dapat Satu Poin

Kisah Unik Zarco: Dorong Motor Sampai Finis Demi Dapat Satu Poin


Johann Zarco

Johann Zarco di atas tungangannya. (Foto: MotoGP)

Namanya Johann Zarco. Ia dikenal sebagai pebalap yang gigih —dan kadang terlampau bernafsu. Namun, syukurlah dia seperti itu. Sebab, jika tidak, tentu dia tidak mau susah-susah mendorong motor sampai garis finis.
Ya, ingatlah nama itu: Johann Zarco. Kami sudah sempat membahas pebalap asal Prancis ini beberapa waktu lalu. Kala itu, kami membahasnya karena ia memunculkan kejutan di MotoGP Qatar.
Zarco, yang meskipun berstatus rookie tetapi sudah berusia 27 tahun, terkenal dengan kegemarannya untuk menggeber gas tanpa tedeng aling-aling. Oleh karenanya, tidak mengherankan jika ia sempat memimpin balapan MotoGP Qatar —sebelum akhirnya tergelincir keluar lintasan.


Kendati berstatus rookie, Zarco pede-pede saja menghadapi pebalap-pebalap yang lebih kawakan semisal Andrea Dovizioso ataupun Valentino Rossi. Ketika berada di urutan terdepan itu, ia bahkan berani-beraninya berpikir soal podium. Sebodo amat lawan-lawan yang dihadapinya adalah pebalap-pebalap yang namanya jauh lebih mentereng di kelas MotoGP.
Karakter Zarco yang seperti itulah yang membuatnya menarik. Pencapaiannya di MotoGP musim ini pun tidak bisa dibilang jelek. Dari 13 seri, ia enam kali finis di urutan lima besar. Zarco bahkan sempat naik podium —dengan berada di posisi kedua— pada balapan kandangnya, di Prancis.
Nah, cerita menarik (atau kocak, tergantung bagaimana Anda memandangnya) terjadi di MotoGP San Marino di Sirkuit Misano, Minggu (10/9/2017). Anda yang menonton pasti tahu soal ini: motor Zarco kehabisan bensin sehingga ia harus mendorong tunggangannya itu untuk melintasi finis.
Anda barangkali bertanya-tanya, kok bisa-bisanya motornya kehabisan bensin?
Usut punya usut, dalam balapan yang berlangsung selama 28 putaran itu, Zarco sudah mengalami masalah dengan motornya sejak tikungan ke-11 pada lap terakhir. Mau tidak mau, dia pun harus "ngakal" supaya motornya tetap melaju dan berusaha sebisa mungkin tetap berada di gigi enam.
“Semuanya baik-baik saja sampai tikungan ke-14, tapi makin buruk di dua tikungan terakhir,” ujar Zarco seperti dilansir Autosport.
Begitu sampai tikungan terakhir, motornya mogok. Posisinya —tentu saja— merosot, disalip oleh pebalap-pebalap lain.
Namun, garis finis sudah ada di depan mata dan Zarco pun merasa tanggung. Sayang rasanya kalau ia harus mengakhiri balapan tersebut tanpa dapat satu poin pun. Akhirnya ia mengambil sebuah keputusan yang, yah, layak untuk diberikan aplaus.


Sementara ia mendorong motor, pebalap-pebalap lain melewatinya. Posisi Zarco turun hingga ke urutan 15, urutan terakhir yang berhak untuk mendapatkan poin. Ya, jika finis di posisi pertama dihargai 25 poin, finis di posisi 15 masih dihargai 1 poin.
“Saya melihat ada dua (motor) KTM melintas dan juga (Cal) Crutchlow —bahkan meskipun dia sempat crash, dia masih bisa finis di depan saya. Anda kehilangan lebih banyak waktu mendorong motor ketimbang mengalami crash,” ucap Zarco.
Dengan segenap tenaga, Zarco mendorong motor Yamaha-nya sampai melewati garis finis. Berhasi? Tentu saja. Perjuangannya pun tidak sia-sia. Ia berhasil finis dan berhak mendapatkan satu poin.
“Satu poin masih lebih baik daripada tidak dapat sama sekali,” kata Zarco.
Sekali lagi, aplaus untuk Zarco.


SportsMoto GPJohann ZarcoYamaha

500

Baca Lainnya