• 5

Malam di Mana Ronaldo Menari di Paris

Malam di Mana Ronaldo Menari di Paris


Ronaldo

Ronaldo pada sebuah laga bersama Inter Milan di tahun 1997. (Foto: Getty Images)
Ini cerita yang nyaris sama untuk Inter Milan. Mereka kembali lolos ke final Piala UEFA dan tengah berupaya untuk mendapatkan setidaknya satu trofi agar musim mereka tidak berakhir nihil.
Setahun sebelum lolos ke final Piala UEFA 1998 itu, Inter ditaklukkan Schalke 04 pada partai puncak turnamen yang sama. Maka, ketika mereka kembali ke tempat yang sama, ada beban yang tak bisa disembunyikan.
Selain beban, terselip juga ambisi. Semenjak Massimo Moratti menjabat sebagai presiden —dengan menggantikan Ernesto Pellegrini— pada 1995, gelontoran lira sudah dikeluarkan La Beneamata.
Paul Ince, Roberto Carlos, dan Javier Zanetti datang pada musim panas 1995. Menyusul kemudian Youri Djorkaeff, Ivan Zamorano, Ciriaco Sforza, Nwankwo Kanu, Jocelyn Angloma, hingga Fabio Galante dan Aron Winter setahun kemudian.
Tujuan Moratti jelas, ia ingin Inter kembali jaya. Setelah terakhir kali mendapatkan gelar juara pada 1989, Inter belum pernah lagi duduk di puncak kompetisi apa pun.
Lalu, pada musim panas 1997, Moratti menunjukkan ambisinya itu bukan main-main belaka. Ronaldo, yang kala itu baru berusia 21 tahun dan baru saja gagal membicarakan perpanjangan kontrak dengan Barcelona, ia gaet.
Ronaldo Luis Nazario de Lima pada masa mudanya adalah fenomena tersendiri. Jika Anda sedang berada di depan laptop dan tengah membuka YouTube, carilah kumpulan video gol-golnya kala berseragam Barcelona dan silakan terkagum-kagum sendiri.


Ronaldo di Barcelona acapkali membuat sekumpulan bek lawan berubah menjadi pesepak bola amatiran. Dengan mudahnya kaki-kaki Ronaldo menari, membuat bek-bek itu terkadang jatuh dan goyah selayaknya bumi yang mereka pijak tengah goncang, lalu menceploskan bola ke dalam gawang.
Kemampuan Ronaldo sedemikian menggiurkannya hingga Moratti rela mengeluarkan uang 27 juta dolar AS untuk menggaetnya. Sebagai pengingat saja, angka 27 juta dolar AS tersebut membuat Ronaldo menjadi pemain termahal kala itu.
Moratti tak salah pilih. Musim itu Ronaldo mencetak 25 gol di Serie A sepanjang musim, jauh melampaui rekan-rekan satu timnya. Djorkaeff hanya mencetak 8 gol, Diego Simeone cuma 6, sedangkan Alvaro Recoba hanya 3.
Meski Ronaldo sudah sedemikian tajam, Inter tetap gagal menjadi juara Serie A. Satu-satunya kesempatan untuk mendapatkan trofi tinggal bergantung pada final Piala UEFA 1998 itu.
Pada partai puncak yang berlangsung di Stadion Parc des Princes, Paris, tersebut, Inter menghadapi wajah familiar: Lazio.
Makin menyebalkan buat Inter, musim itu tidak sekalipun mereka menang atas Lazio di Serie A. Setelah bermain imbang 1-1 di giornata kelima, Inter kemudian dikalahkan Lazio 0-3 pada giornata ke-22.
Beban, sekali lagi, ada di pundak Inter. Tapi, cerita kali ini berbeda. Tidak seperti setahun sebelumnya, di mana final Piala UEFA digelar dalam dua leg, kali ini pemenang cukup ditentukan lewat satu pertandingan saja. Ini adalah pertama kalinya Piala UEFA digelar dalam format satu leg. Kans buat Inter ataupun Lazio untuk menuntaskan malam itu juga tanpa harus berpikir panjang-panjang dan rumit-rumit soal leg kedua.
Final malam itu juga dikenang sebagai final Piala UEFA (sekarang bernama Liga Europa) terakhir di mana sebuah tim menggunakan sweeper. Salvatore Fresi, bek Inter bernomor punggung 7, menjalankan peran tersebut dengan baik.
Bersama tiga orang bek di depannya, Javier Zanetti, Taribo West, dan Francesco Colonnese, Fresi membantu kiper Gianluca Pagliuca untuk membuat gawang Inter bebas dari kebobolan.
Inter menang 3-0 atas Lazio malam itu.
Ada beberapa momen menarik malam itu. Dua di antaranya diciptakan oleh Zamorano. Striker gondrong asal Chile itu membawa Inter unggul 1-0 pada menit kelima setelah menyelinap di antara dua bek Lazio, menyambut umpan panjang dari Simeone, dan menceploskan bola ke gawang yang dikawal Marchegiani. Satu momen lainnya adalah ketika tendangan kerasnya membentur tiang gawang Lazio.

Ronaldo

Ronaldo ketika mengecoh kiper Lazio, Luca Marchegiani, di final Piala UEFA 1998. (Foto: Others)

Tapi, momen terbaik malam itu adalah milik Ronaldo. Inter sudah unggul 2-0 ketika ia dengan lincahnya membuat Marchegiani mati kutu.
Tepat pada menit ke-70, Ronaldo menerima umpan terobosan dari kanan. Kala itu, garis pertahanan Lazio tengah naik tinggi karena mereka sedang berusaha untuk mencetak gol pertama. Kondisi yang demikian jelas menguntungkan Ronaldo yang punya kecepatan.
Tahu-tahu saja, ia sudah berhadapan dengan Marchegiani. Setelah dua kali melakukan gerak tipu dengan cepat —pertama ke kanan lalu ke kiri—, Ronaldo lalu melakukan satu gerakan terakhir: Dengan satu kibasan cepat, dia menggunakan bagian luar kaki kanannya untuk menjauhkan bola dari Marchegiani.
Marchegiani tertipu lalu terjatuh. Gawang Lazio kosong. Ronaldo mengambil hadiahnya.
Momen gol Ronaldo tersebut, plus berakhirnya paceklik trofi Inter, menjadi pertandingan di Paris itu sebagai salah satu duel terbaik dari kedua kesebelasan. Kamis (22/12/2016) dini hari WIB, pada giornata ke-18 Serie A 2016/2017, Inter akan sekali lagi berhadapan dengan Lazio.

Sepak BolaLiga ItaliaLazioInter MilanSports

500

Baca Lainnya