• 1

Membandingkan Kekuatan Antarlini Dua Seteru dari Manchester

Membandingkan Kekuatan Antarlini Dua Seteru dari Manchester


Manchester United, Manchester City

Duel City vs United di Etihad/ (Foto: Jason Cairnduff/Reuters)
Pada Minggu (12/10/2017) malam WIB, Manchester United akan menghadapi Manchester City di Old Trafford. Ada beberapa hal yang patut dirisaukan City. Selain sepak bola reaktif khas Jose Mourinho ada fakta bahwa United begitu sakti di Old Trafford.
Total 40 laga di seluruh kompetisi yang dilakoni United di kandang sendiri tidak pernah berakhir dengan kekalahan. Catatan ini menjadikan Old Trafford selayaknya benteng yang amat sulit untuk dipenetrasi apalagi dijatuhkan.
Tentu saja, catatan itu bertambah panjang lantaran perubahan taktik United. Selama ditangani Mourinho, juara 20 kali Liga Inggris itu memang sudah menggunakan berbagai formasi, mulai dari 4-3-3, 4-2-3-1, hingga 3-5-2. Namun, dalam dua laga terakhir, yakni ketika menghadapi Arsenal dan CSKA Moscow, United bermain dengan formasi 3-4-3.
Tapi, City tetaplah City. Sepanjang 15 laga di Premier League musim ini, mereka belum pernah menelan kekalahan. Hebatnya, 14 laga di antaranya mereka akhiri dengan kemenangan.
City bermain dengan sepak bola 4-3-3 nan fluid, dan kini telah mencetak 46 gol dan hanya 10 gol kebobolan. Ini adalah klub yang kini menjadi pemuncak klasemen dengan 43 poin —unggul delapan poin atas United. Sehingga, bukannya tak mungkin bahwa “Si Tetangga Berisik” pada akhirnya bisa keluar menang dalam laga tersebut.
Karena ini derbi, tentu saja, kita akan menyaksikan pertarungan seluruh jiwa raga antara kedua kesebelasan. Agar Anda bisa menelaah kans kedua tim, kami berikan perbandingan antarlini United dan City.
Kiper
United

David De Gea

David de Gea dalam sesi latihan. (Foto: Kirill KUDRYAVTSEV / AFP)

Baik United dan City, untungnya dan sialnya, sama-sama memiliki kiper yang andal. David De Gea baru saja banjir pujian atas performa epiknya di laga kontra Arsenal, Minggu (3/12/2017) dini hari kemarin. Ada 33 tendangan meluncur ke gawang United, di mana ada 15 yang mengarah langsung ke gawang. Namun, De Gea hanya kebobolan satu di antara 15 tembakan itu karena 14 lainnya.
Dalam lima laga terakhir, ngomong-ngomong, kita bisa melihat De Gea sedang berada dalam puncak performanya. Dia memang hanya menorehkan satu clean sheet, tapi berdasarkan catatan Squawka dari lima laga terakhir, De Gea adalah kiper yang gila dalam melakukan penyelamatan.
De Gea melakukan rata-rata penyelamatan sebanyak 4,60 kali dalam satu laga dan angka yang sama itu pula yang dibutuhkan tim lawan jika ingin membobol gawang De Gea secara matematis. Ia juga mencatatkan 100% akurasi tangkapan dalam lima laga terakhirnya dan memiliki rata-rata pukulan ke arah bola 20% per laga.
Adapun, kekurangan De Gea adalah kemampaun untuk mendistribusikan bolanya. Ia hanya memiliki akurasi distribusi bola —di mana itu menghitung lemparan, tendangan yang sebelumnya dilempar dari tangan, tendangan dari sepak gawang, dan operan— sebesar 55%. United juga tak sesering City dalam memanfaatkan kiper untuk turut dalam build-up serangan.
City

Ederson Moraes

Ederson jadi figur penting di lini belakang. (Foto: Manchester City FC)

Ederson Morales, sejauh ini, adalah kiper yang Pep Guardiola inginkan. Sejak didatangkan dari Benfica, ia berhasil membuat Guardiola lupa akan kehadiran Claudio Bravo. Ia mampu membantu build-up dari belakang, dan di saat yang sama, lihai dalam hal positioning (penempatan posisi), sesuatu yang sudah familiar dari Guardiola sejak masa Barcelona —dengan Victor Valdes— dan Bayern Muenchen —dengan Manuel Neuer.
Sama seperti De Gea, dalam lima laga terakhir, ia hanya memiliki satu clean sheet. Kendatipun demikian, berdasarkan catatan Squawka, dalam lima laga terakhir, Ederson telah mencatatkan memiliki 91% akurasi dalam melakukan distribusi bola.
Jika dibandingkan De Gea, Ederson tak begitu sering melakukan penyelamatan. Hal ini dapat dilihat dari fakta bahwa Ederson hanya mencatatkan rata-rata penyelamatan per laga 1,4 kali, dan hanya memiliki akurasi tangkapan 73% dan rata-rata pukulan ke arah bola sebesar 20%.
Namun, perlu diingat juga bahwa minimnya rata-rata penyelamatan Ederson bisa dikaitkan dengan jarangnya pertahanan City dibombardir oleh lawan.
Lini Pertahanan
United

Victor Lindeloef

Lindeloef (kiri) pada laga Piala Super Eropa. (Foto: Reuters/Eddie Keogh)

United mulai nyaman dengan formasi tiga beknya. Dalam laga kontra Arsenal, mereka memainkan Chris Smalling-Marcos Rojo-Victor Lindeloef sebagai trio di lini belakang. Dalam kontra CSKA Moscow, posisi Marcos Rojo di lini belakang digantikan oleh Daley Blind.
Well, sepertinya antara Smalling dan Lindeloef takkan diganti. Smalling, berdasarkan catatan Squawka dalam lima laga terakhir, mencatatkan rata-rata 9 defensive action (blok, intersep, clearance) dengan rata-rata menang duel 57%.
Sementara Lindeloef, yang mulai mendapatkan kepercayaan dari Mourinho, turut serta dalam 4 dari 5 laga terakhir yang dilakoni United di ajang Premier League. Masih dari Squawka, ia mencatatkan 8 defensive action dengan 37% untuk persentase menang duel.
Lalu, siapa yang akan menemani kedua pemain ini? Jika mengacu pada performa terakhir pemain, Daley Blind adalah pilihan realistis. Blind, dalam laga kontra CSKA, mampu bermain apik.
Di laga tersebut, Blind mencatatkan 7 defensive action dengan 64% menang duel. Sementara Rojo, meski secara statistik ia baik – dalam dua laga terakhir, ia mencatatkan 14 kali defensive action per laga, dengan rata-rata menang duel 35%.
City

Kyle Walker

Kyle Walker di laga melawan Feyenoord. (Foto: Reuters/Carl Recine)

Ada sebab mengapa full-back di City, selain kencang, juga harus punya visi dan keahlian mengoper yang mantap. City, akhir-akhir ini, memainkan Kyle Walker dan Fabian Delph sebagai inverted full-back.
Itu berarti, saat menyerang, baik Walker dan Delph akan masuk ke tengah menjadi gelandang, sementara gelandang bertahan –yang biasa diisi oleh Fernandinho– akan mundur sedikit di belakang mereka. Ia akan membuat Kevin de Bruyne ataupun David Silva mampu lebih leluasa dalam mengatur ritme, atau menggedor pertahanan lawan. Mereka akan turut serta dalam membantu build-up City bilamana dibutuhkan.
Sementara, andaikata tim diserang, ini mempermudah Walker dan Delph untuk melebar dan memotong serangan dari sisi sayap secepat mungkin. Sejauh ini, kedua pemain itu tak tergantikan di posisi tersebut.
Yang menjadi masalah adalah dua bek tengah City. Oke, untuk Nicolas Otamendi sejauh ini tak tergantikan. Namun, pasca-kehilangan John Stones akibat cedera, Guardiola terus mencoba mana yang lebih baik antara Vincent Kompany atau Eliaquim Mangala. Guardiola membutuhkan bek yang tak hanya mampu bertahan, tetapi juga mampu turut serta dalam membangun build-up serangan.
Sejauh ini, keduanya sama-sama mengalami naik-turun performa. Secara statistik, yang dihimpun dari Squawka, dalam tiga laga terakhir yang keduanya jalani, Kompany memiliki akurasi operan mencapai 94% dengan defensive action rata-rata 5 kali per laga dan rata-rata menang duel 52%. Sementara, Mangala mencatatkan 94% akurasi operan, 3 defensive action, dan 36% menang duel.
Kesamaan keduanya lagi: di pertandingan terakhir masing-masing, performa keduanya terjun bebas. Mangala, saat melawan Shakhtar Donetsk, bermain buruk. Demikian juga Kompany saat menghadapi Southampton.
Lini Tengah
United

Ashley Young

Young hidup kembali sebagai wing-back. (Foto: Patricia De Melo Moreira/AFP)

United kemungkinan besar akan memainkan dua gelandang di tengah yang akan disokong dengan dua wing-back. Untuk wing-back sendiri, sebenarnya, sejauh ini baik-baik saja. Baik Ashley Young dan Antonio Valencia sama-sama tampil relatif konsisten.
Dalam lima laga terakhir, Young punya catatan akurasi operan 75% (cukup oke untuk mengalirkan bola dari sayap), dan menciptakan peluang sebanyak 5 kali, rata-rata melakukan enam kali defensive action, dan memiliki persentase menang duel 67%.
Sementara itu, Valencia memiliki akurasi operan 86%, total penciptaan peluang 3 kali, dengan 5 defensive action per laga, dan rata-rata menang duel 31%.
Pertanyaannya, bagaimana dengan posisi tengah? Untuk tengah, jelas, Nemanja Matic akan tetap dimainkan sebagai holding midfielder. Yang menjadi pertimbangan di sini, siapa yang patut menjadi tandem bagi Matic. Di laga kontra CSKA, Mourinho memanfaatkan Ander Herrera.
Sebenarnya, ketiadaan Paul Pogba —yang terkena larangan tampil tiga laga setelah menginjak lutut Hector Bellerin— cukup mengkhawatirkan. Pasalnya, selain oke dalam mengalirkan bola, ia juga cukup sering mengkreasikan peluang. Herrera? Well, ia memang tidak sekreatif Pogba, tetapi bisa digunakan untuk melakukan man-marking kepada gelandang-gelandang penting City seperti Kevin de Bruyne.
City

Kevin de Bruyne

De Bruyne merayakan golnya. (Foto: Reuters/Lee Smith)

City akan memanfaatkan trio Kevin De Bruyne-Fernandinho-David Silva. Kendati Guardiola menyebut bahwa Silva diragukan bisa tampil, mari ambil skenario jika akhirnya ia bisa diturunkan.
Di antara ketiganya, Fernandinho akan bermain sebagai holding midfielder yang bertugas untuk mempermudah build-up dari belakang ke depan. Sementara peran De Bruyne dan Silva sedikit lebih rumit. Guardiola menyebut peran keduanya sebagai “free eight” alias pemain “nomor 8” yang tidak sekadar bertugas mengalirkan bola, tetapi juga membantu serangan dengan operan dan dribel mereka.
Jika di Barcelona Guardiola memiliki Xavi Hernandez sebagai “nomor 6” selaku pengalir bola dan Andres Iniesta sebagai “nomor 8” yang bergerak lebih bebas, nah bayangkan sekarang dia punya dua Iniesta —yang tidak cuma jago ngoper, tetapi juga jago dribel.
Lini Serang
United

Manchester United

Proses gol Martial ke gawang Spurs. (Foto: Reuters/Jason Cairnduff)

United punya four hoursemen yang bisa diandalkan di lini depan: Anthony Martial, Romelu Lukaku, Marcus Rashford, dan Jesse Lingard. Masalanya, United hanya butuh tiga striker di lini depan. Posisi Romelu Lukaku sudah pasti sebagai ujung tombak. Lukaku sendiri telah mencetak 12 gol dan 4 assist sejauh musim ini berjalan. Dan peran Lukaku, kata Mourinho tempo hari, jauh lebih dari sekedar mencetak gol. Sehingga rasanya tak mungkin ia akan diganti.
Sementara sisanya? Masih ada Martial, Lingard, atau Rashford yang akan menyokong Lukaku. Ketiga pemain ini punya catatan yang apik. Martial telah mencetak 8 gol dan 6 assist, Rashford mencetak 8 gol dan 6 assist, sementara Lingard mencetak 6 gol dan 4 assist. Berita buruk bagi Martial, kemampuan fisiknya masih menjadi catatan bagi Mourinho. Sehingga boleh jadi, ia akan bermain di awal, lalu ditukar dengan Rashford di saat pertandingan sedang berlangsung.
City

Manchester City

Perayaan gol Raheem Sterling ke gawang Southampton (Foto: Reuters/Lee Smith)

Entah itu Raheem Sterling, Sergio Aguero, atau Leroy Sane, sangat cair di lini depan, sehingga sangat tak terprediksi. Bisa saja Sterling dari kanan ke kiri, atau Sane yang berlaku seperti itu, dan tak menutup kemungkinan Aguero dari tengah justru menarik bek lawan untuk bermain agak melebar. Secair itu.
Sejauh ini, Sterling telah mencetak 13 gol dengan 2 assist. Sementara Aguero mencetak 12 gol dengan 3 assist, dan Sane, telah mencetak 8 gol dan 6 assist. Ini, yang terutama, harus diawasi oleh “Iblis Merah”.
====
*) Manchester United dan Manchester City akan bertanding pada pekan ke-16 Premier League di Old Trafford, Minggu (10/12/2017) pukul 23.30 WIB.


Sepak BolaSportsManchester UnitedManchester CityDerbi Manchester

500

Baca Lainnya