• 1

Menyelami Opsi Gelandang Manchester United Usai Pogba Cedera

Menyelami Opsi Gelandang Manchester United Usai Pogba Cedera


Paul Pogba

Pogba alami cedera di laga kontra Basel. (Foto: Reuters/Jason Cairnduff)

Paul Pogba berjalan dengan terpincang-pincang. Ia memegangi bagian belakang paha sebelah kirinya dan berkali-kali meringis. Jelas kalau gelandang Manchester United itu berusaha menahan sakit.
Pogba berusaha mengenyahkan rasa sakit itu. Barangkali, mungkin begitu pikir dia, itu cuma keram belaka. Ia lantas berusaha berjalan dengan normal dan berlari-lari kecil. Sial, rasa sakit itu tetap tidak mau lekang.
Pogba pun kembali ke nol: ia kembali memegangi bagian belakang paha kirinya dan mulai menerima kenyataan, ini lebih dari sekadar keram otot.


Beberapa saat sebelumnya, gelandang asal Prancis itu berusaha mencuri bola dari penguasaan gelandang Basel, Mohamed Elyounoussi. Kala itulah otot di bagian belakang paha kiri Pogba cedera.
Ia tidak bisa melanjutkan pertandingan. Posisinya lantas digantikan oleh Marouane Fellaini. Kala itu, pertandingan baru berjalan sembilan belas menit.
Seperti kata idiom tersohor itu, selalu ada garis keperakan di tiap awan mendung. Masuknya Fellaini menggantikan Pogba yang cedera justru jadi keuntungan buat United. Enam belas menit setelah masuk lapangan, Fellaini memecah kebuntuan United lewat sundulannya. “Setan Merah” pun unggul 1-0.
Namun, apa yang menimpa Pogba tetap saja mengkhawatirkan buat United. Ia dikabarkan meninggalkan stadion dengan menggunakan alat penyangga, tanda kalau cederanya cukup serius.
***
Pada musim 1998/1999, Gabriel Omar Batistuta, salah satu predator terganas yang pernah mendiami rimba Serie A, mendapatkan apa yang ia ingin-inginkan: sebuah skuat yang mumpuni dan seorang pelatih yang bisa mengangkat Fiorentina menjadi kandidat juara liga.
Musim itu, beredar kabar kalau Batistuta mulai tidak kerasan. Sekalipun ia adalah “Santo” yang dipuja-puja seantero Firenze, dan oleh karenanya sudah kadung menjadi ikon Fiorentina, hasrat pribadinya tidak padam. Sejak lama, Batistuta mendambakan gelar juara liga.
Demi menahan Batistuta, para pejabat Fiorentina menggaji Giovanni Trapattoni, pelatih kawakan Italia itu, untuk mengarsiteki kesebelasan. Beberapa pemain anyar seperti Joerg Heinrich, yang besar di Jerman bersama Borussia Dortmund, dan Edmundo, si “binatang buas”, didatangkan.
Hasilnya, Fiorentina melesat. Mereka sempat lama memimpin klasemen sementara. Hingga kemudian datanglah hari nahas untuk Batistuta (dan Fiorentina). Pada 7 Februari 1999, Fiorentina menjamu rival mereka dalam perebutan gelar, AC Milan, dan di hari itulah peluang mereka mati.

Gabriel Batistuta

Batistuta kala memperkuat Fiorentina. (Foto: AP)

Tidak, Fiorentina memang tidak kalah. Pertandingan itu sendiri berakhir antiklimaks; imbang tanpa gol. Namun, yang membuat kans Fiorentina untuk menjadi juara bubar jalan adalah cederanya Batistuta.
Pada babak kedua, ketika hendak menyambut sebuah umpan panjang dari tengah, Batistuta tiba-tiba saja terjatuh dan mengerang kesakitan. Ia berteriak-teriak sembari memegangi bagian belakang paha kirinya, lalu menelungkupkan badannya ke tanah.
Dari siaran ulang terlihat kalau Batistuta mengalami cedera tersebut ketika berlari mengejar bola. Tiba-tiba saja ia melompat dan menjatuhkan badan. Kaki kirinya mendadak renggang, tanda kalau otot bagian belakang pahanya tertarik.
Dari pemeriksaan, Batistuta didiagnosis mengalami cedera hamstring. Ia pun harus menepi agak lama.
Ada beberapa tingkatan dalam cedera hamstring. Cedera hamstring minor, yang biasanya disebut tingkat 1, hanya membutuhkan waktu beberapa hari untuk pulih. Namun, cedera Batistuta sampai pada tingkat 2. Cedera hamstring tingkat 2 biasanya membutuhkan waktu lebih dari sebulan untuk pulih.
Dan begitulah yang terjadi pada pria asal Argentina tersebut, ia harus menepi lebih dari sebulan. Tanpa jagoan utamanya, Fiorentina pun limbung. Dalam 14 pertandingan sejak laga melawan Milan itu, La Viola hanya mampu meraih tiga kemenangan. Gelar juara pun terbang ke Milan, sementara mereka sendiri finis di posisi ketiga.
***
Cedera yang dialami Pogba dan Batistuta memang sama: hamstring. Dari kabar yang beredar, cedera hamstring Pogba cukup serius. Media Inggris, BBC, bahkan melaporkan kalau Pogba bisa absen sampai enam pekan.
Sama halnya Batistuta untuk Fiorentina dulu, Pogba merupakan pemain penting buat United. Ia adalah salah satu kreator peluang terbanyak di United dengan 9 kans, hanya kalah dari Henrikh Mkhitaryan yang telah mengkreasikan 16 kans.
Wajar kalau cederanya Pogba menjadi kabar buruk buat United. Namun, apakah United perlu khawatir atas cederanya Pogba? Dan bagaimana bentuk lini tengah mereka setelah pemain berusia 24 itu absen?

Paul Pogba

Pogba dengan ban kapten di lengannya. (Foto: Jason Cairnduff/Reuters)

Menyebut United bakal kehilangan momentum dan bernasib seperti Fiorentina memang prematur. Justru dengan cederanya Pogba kita bisa menilai kedalaman skuat United dan bagaimana Jose Mourinho memanfaatkan opsi yang ia miliki.
Sebagai manajer yang terkenal pragmatis dan bisa menyesuaikan diri dengan keadaan, semestinya Mourinho sudah punya “Rencana B”. Toh, United sendiri tidak kekurangan stok gelandang bagus. Hanya saja, barangkali bentuk permainan mereka akan sedikit berubah.
Ada dua formasi yang biasa digunakan Mourinho di Premier League musim ini: 4-3-3 dan 4-2-3-1. Dalam 4-3-3, seperti yang ia perlihatkan kala United menghadapi Stoke City, ia biasanya memainkan Pogba, Ander Herrera, dan Nemanja Matic. Sementara dalam 4-2-3-1, ia akan menduetkan Pogba dan Matic sebagai poros ganda.
Dalam 4-2-3-1, Mourinho biasanya mengorbankan Herrera. Gelandang asal Spanyol yang tampil apik sepanjang musim kemarin itu harus rela duduk di bangku cadangan pada beberapa laga musim ini. Alasan Mourinho? Sederhana saja: taktikal.
“Kami memang hanya bermain dengan dua gelandang, Matic dan Pogba, yang mana keduanya bermain amat bagus dan tidak ada alasan khusus untuk mengubahnya. Satu-satunya laga di mana saya memutuskan bermain dengan tiga gelandang (melawan Stoke City), dia (Herrera) bermain,” ujar Mourinho seperti dilansir Soccerway.
Namun, dengan cederanya Pogba, ada kemungkinan Herrera akan dimainkan dalam formasi 4-2-3-1, berduet dengan Matic. Secara karakter, Herrera dan Pogba memang berbeda. Sementara Pogba begitu liat dan skillful, Herrera lebih agresif dan determinan.
Jika Pogba diberikan kebebasan untuk menggalang lini tengah sekaligus membagi bola dan membantu serangan —sementara Matic lebih berperan menjaga keseimbangan—, Herrera biasanya ditugaskan untuk memutus serangan lawan. Dengan demikian, jika Matic diduetkan dengan Herrera, lini tengah United bisa dibilang lebih kokoh —tetapi bisa jadi bakal relatif lebih kaku dalam menyerang.


Kendati begitu, Mourinho tidak perlu khawatir. Tidak seperti musim lalu, di mana Pogba menjadi kreator peluang utama dan akhirnya menjadi kreator peluang terbanyak United, musim ini beban tersebut berpindah ke Mkhitaryan.
Performa Mkhitaryan musim ini boleh dibilang jauh lebih baik ketimbang musim kemarin. Pada 2016/2017, gelandang asal Armenia itu hanya menyumbang satu assist dalam 28 laga, sementara musim ini, ia sudah menyumbang lima assist hanya dalam empat laga.
So, semestinya memasang Herrera dan Matic tidak jelek-jelek amat. Toh, ada Mkhitaryan yang bisa diandalkan untuk mengkreasikan peluang. Lagipula, kalau mandek, Mourinho masih bisa mengubah formasi timnya ke 4-3-3 dengan mengganti salah satu pemain di lini depan dan memasukkan… siapa lagi kalau bukan Fellaini.


Sepak BolaLiga InggrisManchester UnitedPaul Pogba

500

Baca Lainnya