• 3

Mkhitaryan dan Bayaran Sepadan untuk Kerja Keras

Mkhitaryan dan Bayaran Sepadan untuk Kerja Keras



Henrikh Mkhitaryan

Mkhitaryan mulai menemukan tajinya. (Foto: Jan Kruger/Getty Images)

Henrikh Mkhitaryan baru dimasukkan pada menit ke-62 untuk menggantikan Juan Mata. Waktu yang ia miliki di lapangan untuk menunjukkan diri hanya 28 menit. Tak cukup lama memang. Namun, waktu yang sebentar tersebut benar-benar ia maksimalkan.
Selang 24 menit berada di lapangan, ia mencetak sebuah gol, yang membuat selisih keunggulan Manchester United semakin lebar. Apa yang dilakukan oleh Mkhitaryan di laga tersebut menunjukkan bahwa ia dapat memberikan yang terbaik jika diberi kepercayaan.
Pasalnya, empat pertandingan sebelum melawan Sunderland, Mkhitaryan selalu diturunkan sejak menit pertama. Dan hasilnya, pemain asal Armenia ini mampu membukukan dua gol dan dua assist.
Ucapan manajer United, Jose Mourinho, mengenai Mkhitaryan yang perlu waktu untuk beradaptasi dengan kerasnya Premier League, terbukti. Pasalnya, performa Mkhitaryan kini dan di awal musim terbilang beda. Kini, Mkhitaryan tampak lebih tajam.
Menurut penuturan Mourinho, selama tidak dimainkan, gelandang 27 tahun itu terus berlatih demi berada dalam kondisi yang pas untuk bermain di Premier League. Karier Mkhitaryan tidak selalu berada di jalan yang mulus. Namun, berulang kali ia memperlihatkan bahwa kerja keras yang dilakukannya memberikan hasil yang sepadan.
Bocah Jenius
Kegilaan Mkhitaryan pada sepak bola bukan tanpa alasan. Ayah Mkhitaryan, Hamlet, adalah salah satu penyerang papan atas Armenia. Sementara ibunya, Marina Taschyan, adalah kepala departemen federasi sepak bola Armenia.
Memiliki orang tua yang memiliki kedekatan dengan sepak bola membuat Mkhitaryan tak memiliki dunia lain selain mengolah si kulit bundar. Pada usia 14 tahun, ia diberangkatkan ke Brasil untuk belajar sepak bola di akademi milik klub Sao Paulo.
Sepulangnya dari Brasil, ia ditarik ke akademi FC Pyunik. Bakat Mkhitaryan kecil dianggap sebagai mukjizat di Armenia. Tak banyak remaja di sana yang memiliki kemampuan setara pemain senior seperti yang dimiliki oleh Mkhitaryan.

Henrikh Mkhitaryan

- (Foto: -)

Musim 2009, musim terakhirnya di Armenia, ia tampil sebagai pencetak gol terbanyak FC Pyunik dan mengantarkan klub terbesar di Armenia tersebut menjadi juara Liga Premier Armenia. Klub Ukraina, Metalurh Donetsk, menjadi tujuan perdananya untuk mengembara.
Minimnya perbedaan antara Armenia dan Ukraina adalah alasan utama mengapa ia mengambil keputusan setelah didekati oleh pelatih Nikolay Kostov. Pertandingan Liga Europa melawan FC Partisan Minsk jadi laga resmi perdana Mkhitaryan.
Tampil sebagai pemain baru, Mkhitaryan tampak tak canggung. Satu gol berhasil ia buat di pertandingan yang berakhir dengan skor 3-0 untuk kemenangan Metalurh itu. Meski di akhir musim 2009/10 ia hanya mampu membawa Metalurh bertengger di peringkat kedelapan, namun apa yang ditampilkan oleh Mkhitaryan seakan menjadi magnet bagi klub lain.
Metalurh yang tidak memiliki kekuatan finansial tidak mampu membendung banyak penawaran. Demi mempertahankan Mkhitaryan, mereka memberi satu jabatan yang dapat membuatnya tergiur: wakil kapten tim. Uang memang menjadi persoalan bagi klub kecil seperti Metalurh.
Banyaknya penawaran yang diterima mau tidak mau membuat mereka mempertimbangkannya. Shakhtar Donetsk menjadi klub yang beruntung mendapatkan Mkhitaryan setelah Metalurh setuju melepas dengan harga 7,5 juta euro. Kerasnya persaingan menembus tim inti dirasakan oleh Mkhitaryan di masa awal bergabungnya ia dengan Shakhtar. Kerja keras yang tunjukkan selama latihan tak membuatnya dilirik oleh pelatih Mircea Lucescu.
Memilih Tinggal di Tempat Latihan
Minimnya kesempatan bermain tak membuat Mkhitaryan berkecil hati. Untuk menyamakan kemampuan teknis yang ia miliki dengan pemain asal Brasil yang dimiliki oleh Shakhtar, ia pun memilih untuk tinggal di tempat latihan. Perlahan, pilihan Mkhitaryan untuk tinggal di tempat latihan berbuah manis.
Jelang akhir musim, ia diberi kepercayaan oleh Lucescu untuk mengisi pos gelandang serang. Musim ketiganya di Donetsk menjadi musim terbaiknya selama di Ukraina. Dimainkan selama 29 kali, Mkhitaryan mampu mencetak 25 gol. Angka tersebut pun menjadi rekor gol pemain terbanyak dalam satu musim di Liga Premier Ukraina.
Bukan itu saja, pada musim tersebut, ia membawa Shakhtar menjadi juara tiga kompetisi dari empat kompetisi yang diikuti. Penampilan konsisten yang ditunjukkan oleh Mkhitaryan pada musim 2012/13 membuatnya dilirik oleh Jurgen Klopp untuk memperkuat Borussia Dortmund yang kehilangan Mario Goetze. Setelah melewati proses negosiasi yang berliku, Borussia Dortmund dan Shakhtar Donetsk akhirnya menyetujui harga Mkhitaryan pada nominal 25 juta euro.
Musim 2013/14 dilalui oleh Mkhitaryan dengan mulus. Adaptasinya yang terbilang cepat membuatnya mendapatkan satu slot di daftar gelandang serang Dortmund. Namun, cemerlangnya karier di musim perdana tercoreng dengan apa yang ia tunjukkan di musim keduanya di Westfalen.
Penampilan yang ditunjukkan oleh Mkhitaryan merosot jauh di musim kedua. Torehan sembilan gol dan 10 assist di musim perdananya menurun jauh dengan hanya melesakkan tiga gol dan empat assist di musim kedua. Cedera menjadi faktor di balik menurunnya penampilan Mkhitaryan di musim tersebut.
Total 46 hari yang ia habiskan di meja operasi menjadi riwayat cedera terburuk yang pernah ia alami dalam kariernya sebagai pesepak bola. Buruknya penampilan yang ditunjukkan musim 2014/15 coba ia perbaiki pada musim berikutnya. Hat-trick menjadi penanda kembalinya Mkhitaryan setelah menjalani operasi otot kaki di musim lalu.
Atas penampilan yang ia tunjukkan di pertandingan tersebut, ia mendapatkan satu dari tiga pos gelandang serang Dortmund. Bermain sebagai gelandang serang sebelah kanan membuat bakat Mkhitaryan terlihat.
Kreativitas, visi bermain, serta pergerakan tanpa bolanya yang disebut sebagai salah satu keunggulannya benar-benar terlihat. Dimainkan sebagai gelandang serang kanan rupanya membuat kompetensi bermain Mkhitaryan kembali. Kontribusi besar selalu ia berikan ketika ia dipercaya oleh pelatih Dortmund di musim tersebut, Thomas Tuchel.
Total 11 gol dan 15 assist menjadi bukti betapa Mkhitaryan tampil memesona. Atas penampilan tersebut, di akhir musim, ia dianugerahi gelar Pemain Terbaik Bundesliga Pilihan Pemain musim 2015/16.
***


Cerita yang dialaminya di Shakhtar sempat berulang di United. Awalnya, Mkhitaryan sulit mendapatkan kesempatan bermain. Namun, alih-alih ngoceh dan mengkritik sana-sini, pemain kelahiran kota Yerevan itu memilih diam dan berlatih keras.
Sikap Mkhitaryan yang seperti itu mendapatkan acungan jempol dari Mourinho dan staf pelatih “Setan Merah” lainnya. Pada akhirnya, ketika kesempatan datang, Mkhitaryan memanfaatkannya dengan baik.
Ketika ia melewati beberapa pemain Zorya Luhansk (di Liga Europa) dengan dribel-nya yang rapi, sebelum akhirnya mencetak gol, Mourinho tahu bahwa penantiannya akan Mkhitaryan tidak sia-sia. Tidak lama setelahnya, ketika kembali diturunkan pada laga melawan Tottenham Hotspur, Mkhitaryan mencetak gol tunggal kemenangan.
Melihat apa yang ditunjukkan oleh Mkhitaryan sepanjang kariernya, apa yang ia terjadi saat ini memang ibarat pemanasan. Jika Mourinho konsisten memainkan ia seperti yang dilakukan oleh Tuchel, Klopp, Lucescu, hingga, Kostov, bukan tidak mungkin ia akan tampil seperti yang diharapkan.

SportsSepak BolaLiga InggrisManchester UnitedHenrikh Mkhitaryan

500

Baca Lainnya