• 0

Persoalan-persoalan yang Menyulitkan Fiorentina

Persoalan-persoalan yang Menyulitkan Fiorentina



Davide Astori, Fiorentina

Bek Fiorentina, Davide Astori, merayakan sebuah gol di tengah hujan. (Foto: Gabriele Maltinti/Getty Images)

Ejekan harus diterima oleh Paulo Sousa awal musim lalu ketika ditunjuk sebagai pelatih Fiorentina menggantikan Vincenzo Montella. Pengalaman melatihnya yang sebagian besar hanya dihabiskan di negara-negara macam Hongaria, Israel, dan Swiss, membuatnya diprediksi tak akan bertahan lama di Artemio Franchi.
Prediksi buruk yang mengiringi awal perjalanan Sousa rupanya tidak terjadi. Mengusung skema 3-4-2-1, Sousa menjadikan Fiorentina sebagai salah satu klub yang memiliki lini depan mematikan—Fiorentina menjadi klub keempat yang paling banyak mencetak gol di Serie A musim lalu.
Sempat memanaskan persaingan di papan atas, Fiorentina akhirnya mengakhiri kompetisi pada peringkat lima Serie A. Ketika bertahan, formasi 3-4-2-1 mendukung pemain Fiorentina untuk secepat mungkin mendapatkan bola. Hal tersebut terjadi karena formasi tersebut merupakan kontra formasi dari kebanyakan klub Serie A musim lalu, yang banyak menggunakan tiga pemain depan.
Transisi dari bertahan ke menyerang menjadi salah satu kelebihan Fiorentina musim lalu. Berbeda dengan klub Italia lain yang tak memilih berlama-lama dengan bola, anak asuh Paulo Sousa malah mampu tampil memesona meski lama menguasai bola. Meski memiliki taktik yang hampir sama dengan Napoli, namun apa yang ditunjukkan La Viola jelas berbeda. Perbedaan utama kedua klub terletak pada daerah yang mereka fokuskan sebagai poros utama penyerangan. Fiorentina memfokuskan serangan mereka di tengah, berbeda dengan Napoli yang menjadikan sayap kiri sebagai daerah utama untuk memulai serangan.
Kesuksesan yang dicapai oleh Fiorentina musim lalu membuat mereka tak banyak mencari pemain bernama besar pada bursa transfer musim 2016/17. Dari beberapa pemain yang baru didatangkan musim ini, hanya ada nama Hrvoje Milic, Carlos Sánchez, Carlos Salcedo, dan Sebastian Cristoforo yang memiliki pengalaman bermain di kompetisi level teratas. Sementara sisanya, bahkan belum genap berusia 20 tahun.
Imbas dari minimnya pembelian pemain senior yang mereka lakukan awal musim ini, Fiorentina gagal mengulangi pencapaian musim lalu. Musim ini, dari 17 kali bertanding, mereka duduk di posisi kedelapan. Sementara saat bertanding 17 kali musim lalu, mereka duduk di posisi kedua.
Apa saja hal yang membuat penampilan mereka jeblok musim ini? Berikut catatan dari kami di kumparan.
Kepergian Marcos Alonso

Marcos Alonso

Marcos Alonso dalam sebuah pertandingan bersama timnya kini, Chelsea. (Foto: Julian Finney/Getty Images)

Kepergian Marcos Alonso ke Chelsea menjadi faktor utama menurunnya penampilan Fiorentina sejauh ini. Kehilangan Alonso seakan tidak mampu digantikan dengan baik oleh beberapa pemain yang didaulat mengisi posisi kosong sepeninggalnya, seperti Milic dan Maximiliano Olivera.
Alonso bukan hanya bagus ketika bertahan, tapi juga memiliki kemampuan membantu serangan dan melakukan transisi dari menyerang ke bertahan dengan cukup baik.
Musim lalu, meski Alonso adalah seorang wingback, ia memiliki kontribusi cukup banyak ketika menyerang, dengan torehan tiga gol dan empat assist.
Kerap Tidak Bisa Menurunkan Skuat Terbaik

Milan Badelj

Milan Badelj ketika dikepung oleh pemain-pemain PAOK FC. (Foto: Gabriele Maltinti/Getty Images)

Persoalan memang tidak bisa diduga dan itulah yang dialami oleh Fiorentina musim ini: kerap tidak bisa menurunkan skuat terbaiknya. Beberapa nama yang memiliki peran penting musim lalu cukup sering absen di Serie A musim ini.
Milan Badelj dan Davide Astori menjadi dua nama yang kerap absen di musim ini akibat akumulasi kartu. Kehilangan kedua pemain ini jelas merugikan Fiorentina karena keduanya memiliki peran penting ketika bertahan.
Persoalan Usia Pemain yang Semakin Senja

Davide Astori

Davide Astori memberikan instruksi pada sebuah laga bersama Fiorentina. (Foto: Gabriele Maltinti/Getty Images)

Di musim lalu, trio bek Fiorentina, Facundo Roncaglia, Davide Astori, dan Gonzalo Rodriguez, tak cukup cepat. Meski begitu, Sousa tetap berani memainkan taktik dengan garis pertahanan tinggi. Solusi atas permasalahan tersebut adalah dengan memainkan pemain cepat di depan ketiganya.
Permasalahan tersebut, seakan kembali di musim ini. Dengan skuat yang memiliki rerata usia tertua keempat di Serie A, dengan rata-rata usia 27,3, Fiorentina tak berhasil mengatasi hal tersebut.
Pemain yang ditugaskan untuk menambal skuat musim lalu, seperti Carlos Sanchez dan Milic tak cukup cepat untuk melakukan transisi dari menyerang ke bertahan. Imbas daripada itu, beberapa kali pemain belakang Fiorentina sering dihadapkan pada situasi tidak menguntungkan di lini belakang, ketika berhadapan dengan lawan yang memainkan serangan balik.

SportsSepak BolaLiga ItaliaFiorentina

500

Baca Lainnya