• 4

Prolog: Marhaban Ya, Liga Champions!

Prolog: Marhaban Ya, Liga Champions!


Drawing Liga Champions

Drawing Liga Champions. (Foto: REUTERS/Eric Gaillard)

Jika agama, kata Karl Marx, adalah candu, sementara sepak bola acapkali dijadikan serupa agama oleh para penggemarnya, bisakah kita menyebut sepak bola sebagai candu juga?
Kalau melihat kelakuan para penggemar sepak bola, yang seringkali lebay —dan oleh karenanya, harap dimaklumi—, menyebut sepak bola sebagai candu memang tidak berlebihan. Tidak percaya? Simak postingan-postingan anak-anak bola di media sosial manakala musim tanding si kulit bulat bakal bergulir.
Ada-ada saja meme-meme norak yang melebih-lebihkan euforia atau kegembiraan soal bergulirnya kembali musim sepak bola. Bleacher Report saja bela-belain bikin countdown berdasarkan nomor-nomor punggung legenda-legenda lawas. Ya, keren, sih… Tapi beberapa jatuhnya malah garing.


Namun, suka tidak suka, ini menunjukkan kalau penggemar bola kadang tidak peduli seberapa norak postingan-postingan itu, yang penting mereka senang bakal dapat tontonan lagi saban weekend dan saban dini hari tiap tengah pekan.
Maka, jangan heran jika sepak bola modern dieksploitasi dan digembar-gemborkan sedemikian rupa demi memuaskan para penontonnya. Bagaimana tidak dieksploitasi, wong pasarnya ada. Zaman sekarang, berita Pemain A follow akun Twitter Tim B saja sudah bisa dijadikan sebuah rumor, kok. Belum lagi soal Pemain A yang enggan berlatih mendadak dikategorikan sebagai “breaking news” oleh Sky Sports.
Intinya, seremeh-temeh atau sereceh apapun peristiwa di dunia sepak bola, semuanya bisa diolah menjadi cerita. Mengapa demikian? Ya, itu tadi… Banyak yang memakannya.
Kembali bergulirnya Liga Champions juga tidak lepas dengan segala hiruk-pikuknya. Malah, Liga Champions sudah sejak lama mengantisipasi fenomena ini. Sadar bahwa sepak bola di masa mendatang adalah pasar yang bisa mendatangkan keuntungan, mereka pun berbenah.
Ingat masa di mana Liga Champions hanya diperuntukkan bagi para juara liga? Tidak? Oke, memang sudah lama sekali, sih.
Seiring dengan berjalannya waktu dan kian komersilnya dunia sepak bola, Liga Champions tidak hanya diikuti oleh juara liga saja, tetapi juga runner-up. Banyak yang mengambil untung dari perubahan aturan ini. Manchester United salah satunya. Jika bukan karena perubahan aturan ini, United tidak akan mengalami musim legendaris seperti tahun 1999 itu. Pasalnya, “Setan Merah” masuk Liga Champions 1998/1999 dengan status runner-up liga —di bawah Arsenal.
Zaman berlalu, peserta pun terus bertambah. Sistem koefisiensi UEFA diperkenalkan. Mereka yang negaranya berada di papan atas koefisiensi UEFA berhak untuk mengirimkan tim lebih banyak dari yang lainnya. Dari sinilah kita melihat, negara-negara seperti Spanyol dan Inggris bisa mengirim empat tim sekaligus ke Liga Champions tiap musimnya.

Liga Champions

Trofi Liga Champions. (Foto: AP Photo/Kirsty Wigglesworth)

Sebagai imbasnya, persaingan di tiap liga pun makin ketat. Tidak jadi juara, tidak apa-apa, yang penting masih bisa masuk zona Liga Champions. Dengan masuk zona Liga Champions, sebuah tim bisa bermain di kompetisi tertinggi antarklub Eropa itu dan mendapatkan pemasukan lebih besar. Jadi, trofi bukan lagi satu-satunya pencapaian. Jika trofi tidak bisa didapat, pastikan keuntungan dari segi finansial tidak lepas.
Ya, tidak salah, memang, berharap dari Liga Champions. Musim kemarin, kesebelasan-kesebelasan yang lolos ke fase grup sudah berhak mengantongi duit senilai 12 juta euro. Belum lagi kalau menang. Satu kemenangan di fase grup Liga Champions dihargai 1,5 juta euro. Artinya, sebuah kesebelasan yang bisa menyapu bersih fase grup dengan kemenangan bisa mendapatkan 9 juta euro.
Semakin jauh sebuah kesebelasan melangkah, semakin besar fulus yang bakal mereka dapatkan. Jadi, tidak mengherankan jika Liga Champions, meskipun tidak semuanya bisa berprestasi di sini, begitu tergiur untuk bisa terlibat di dalamnya.
Namun, bukan berarti Liga Champions sudah kehilangan prestise-nya. Melihat Real Madrid sukses menjadi juara dua edisi terakhir, klub mana, sih, yang tidak gatal untuk bisa menjungkalkan mereka?
Madrid sendiri bisa menepuk dada dengan bangga. Sebagai satu-satunya kesebelasan di era Liga Champions —dulunya bernama Piala Champions— yang mampu menjadi juara untuk dua musim beruntun, mereka layak jemawa dan menyebut diri sebagai kesebelasan terbaik dunia (dunia, lho, ya… bukan Eropa semata).
Belum lagi persoalan sentimen sejarah dan usaha untuk membuktikan diri supaya tidak dipandang remeh oleh raksasa-raksasa lawas. Untuk hal yang disebut pertama, Liverpool bisa dijadikan contoh. Sebagai pengoleksi lima gelar juara, The Reds kembali lagi musim ini untuk menunjukkan bahwa memang di Liga Champions-lah tempat mereka. Untuk hal yang kedua, silakan lihat Paris Saint-Germain dan Manchester City, orang-orang (baca: klub-klub) kaya baru itu.
Maka, dengan segenap rasa lebay —dan juga antusiasme yang meluap-luap—, mari kita sambut Liga Champions 2017/2018 yang sepak mulanya akan dilakukan pada Rabu (13/9/2017) dini hari WIB. Anda sudah tidak sabar? Percayalah, kami juga.


Sepak BolaLiga ChampionsReal MadridSports

500

Baca Lainnya