• 0

Riedl-Senamuang, Tua-Muda, dan Selisih Lebih dari Dua Dekade

Riedl-Senamuang, Tua-Muda, dan Selisih Lebih dari Dua Dekade



Konferensi Pers Final AFF 2016

Konferensi Pers Menjelang Leg Kedua Final AFF 2016 antara timnas Thailand Vs Indonesia (Foto: Aditia Noviansyah)
Ada selisih lebih dari dua dekade antara usia Alfred Riedl dan Kiatisuk Senamuang. Tepatnya, 24 tahun --dua dekade lebih sedikit. Riedl, pada 2 November lalu, baru saja berulang tahun yang ke-67. Senamuang? 11 Agustus lalu berulang tahun yang ke-43.
Layaknya pelatih-pelatih berkepala empat lainnya, Senamuang punya penampilan yang lebih "kekinian". Rambut cepak dan kaus polo menjadi trademark khas Senamuang di pinggir lapangan, setara dengan kemeja putih Joachim Loew ataupun potongan jas yang amat pas dengan bentuk tubuh yang biasa dikenakan Pep Guardiola.
Senamuang, atau banyak yang menjulukinya 'Zico', adalah putra kebanggaan sepak bola Thailand. Lima belas tahun bermain untuk Timnas Thailand, Senamuang bermain sebanyak 134 kali dan mencetak 71 gol. 134 caps itu membuatnya menempati tempat teratas dalam daftar pemain yang paling sering memperkuat Timnas Thailand.
Belum ada pemain Thailand yang masih aktif bermain yang bisa mendekati torehan caps Senamuang. Bahkan Teerasil Dangda, kapten sekaligus jagoan utama Thailand sekarang, yang sudah berusia 28 tahun, baru mengantongi 82 caps sejak 2007.
Senamuang sudah pernah mempersembahkan medali emas SEA Games pada tahun 2013, ketika dia masih menangani tim U-23 Thailand. Lalu, pada 2014, dia membawa tim senior menjuarai Piala AFF 2014. Jika menjadi juara lagi, ini bisa menebalkan status Senamuang sebagai legenda sejati sepak bola Thailand.
Hanya saja, jalan Senamuang sedikit berkerikil. Tidak pernah ada di dalam benak mantan pelatih Chonburi dan Chula United itu, timnya kalah 1-2 pada leg I final Piala AFF 2016 di Stadion Pakansari, Bogor, Rabu (14/12/2016) lalu. Anak-anak asuh Senamuang sempat unggul lebih dulu, tapi kemudian kebobolan dua gol yang dia sebut sebagai kekalahan sendiri.
Tim yang mengalahkan tim Senamuang itu adalah Indonesia. Catat: hanya Indonesia juga yang bisa membobol dan mengalahkan tim Senamuang selama perhelatan Piala AFF 2016 sejauh ini. Indonesia adalah peluru perak buat Thailand.

Konferensi Pers Final AFF 2016

Konferensi Pers Menjelang Leg Kedua Final AFF 2016 antara timnas Thailand Vs Indonesia (Foto: Aditia Noviansyah)

Di sisi lapangan sebelah Senamuang, ada Riedl, pria berkumis putih yang dandanannya lebih mirip guru olahraga: jaket training, topi, dan terkadang stopwatch saat memantau timnya berlatih, juga kaos polo yang tidak ngepas-ngepas amat. Riedl sudah cocok untuk menjadi ayah Senamuang.
Perbedaan mencolok juga tidak hanya terlihat dari sisi penampilan dan usia, tetapi juga gaya main. Senamuang peka dengan zaman. Tahu bahwa timnya punya kemampuan teknik mumpuni, dia berani saja bermain dengan 3-4-3, melakukan pressing dengan sabar, dan mengubah formasi menjadi lima bek manakala timnya bertahan. Tak heran jika selain tajam, Thailand juga sulit untuk ditembus di Piala AFF 2016.
Riedl, di sisi lain, punya tim yang tidak sempurna. Dia dihadapkan pada kesulitan untuk memilih pemain. Bayangkan, hanya maksimal dua pemain saja yang boleh dia angkut dari tiap tim di Indonesia. Riedl pun sempat mengeluhkan ini. Ia jadi tidak leluasa untuk menyusun komposisi tim terbaik.
Tapi, toh itu tetap diterimanya. Dengan materi yang ada, awalnya dia bermain dengan 4-4-2, kendatipun formasi tersebut amat mudah ditembus dari sisi tengah. Dia kemudian berganti lagi menjadi 4-2-3-1, dan formasi yang sama dia gunakan di leg I final . Hasilnya, Indonesia sukses menundukkan Thailand.
Apa pun formasinya, Riedl tetap menerapkan satu hal: pressing. Ini sudah ditekankannya sejak sebelum membawa timnya mengarungi perhelatan Piala AFF 2016. Riedl boleh tua, tapi dia tidak ketinggalan-ketinggalan amat soal taktik. Di era sepak bola modern di mana pressing menjadi salah satu bahan baku penting, Riedl bisa menerapkan di dalam timnya.
"Kendatipun kami adalah underdog, tidak mungkin kami berada di sini hanya karena keberuntungan. Keberuntungan juga ada sebabnya, dan buat kami, itu adalah karena fighting spirit kami," ujar Riedl setelah konferensi pers, Jumat (16/12/2016).
00:00:00/00:00:00

Alfred Riedl
Berbeda dengan Senamuang, Riedl memang belum pernah menjadi juara Piala AFF. Tapi, Riedl, pak tua itu, cukup kenyang pengalaman dengan pernah menangani Vietnam dan Laos di Asia Tenggara ini.
Pertandingan melawan Thailand di Stadion Rajamangala, Sabtu (17/12/2016), akan menjadi pembuktian dirinya, tidak hanya di hadapan pelatih lawan yang selisih usianya lebih dari dua dekade darinya, tetapi juga untuk para pendukung Indonesia: Bisakah Riedl mengakhiri paceklik gelar Indonesia, yang juga sudah berlangsung lebih dari dua dekade?

Sepak BolaPiala AFF 2016Timnas Indonesia

500

Baca Lainnya