• 4

Robbie Fowler: Anak Bengal di Lapangan, Raja di Boxing Day

Robbie Fowler: Anak Bengal di Lapangan, Raja di Boxing Day



Robbie Fowler

Robbie Fowler, dengan jumlah golnya, ia adalah salah satu striker terbaik yang pernah dimiliki Liverpool. (Foto: Ross Kinnaird/Getty Images)

Salah satu gambar pertama yang saya ingat akan Robbie Fowler adalah posenya mengenakan kaus Superman.
Saya melihat gambar tersebut di sebuah majalah, pada pertengahan tahun 90-an, ketika Premier League masih muda dan Spice Girls masih merajai chart lagu. Fowler baru berusia awal 20-an, masih belia, tapi sedang gila-gilanya.
Bagaimana tidak, hanya dalam tiga musim perdananya di level teratas sepak bola Inggris, dia bisa mencetak 65 gol. Fowler adalah superstar baru, baik untuk Premier League ataupun Liverpool yang waktu itu dibelanya.
Gambar Fowler itu, yang saya ingat, menjadi bagian dari sebuah artikel. Fowler mengenakan kaus Superman berwarna biru seraya mengangkat kedua lengannya, memamerkan otot-otot bisep-nya. Senyum lebar di wajah menjadi pelengkapnya.
Majalah tersebut berada dalam genggaman seorang bocah, yang membacanya bersama bocah-bocah lainnya pada sebuah siang. Melihat mimik muka Fowler salah seorang di antaranya lantas nyeletuk:
Kayak anak bengal. Pasti kamarnya berantakan.”
*** Fowler, seperti celetukan di atas, memang memiliki sejarah yang tidak melulu bagus. Sebagai pemain, deretan tindakan indisipliner dan kontroversial pernah dia lakukan di atas lapangan. Salah satu yang masih segar di ingatan sampai sekarang —bagi mereka yang mengikuti Premier League sejak pertengahan 90-an— adalah selebrasinya usai mencetak gol pada derby Merseyside di bulan April 1999.
Selesai membobol gawang Everton lewat tendangan penalti, Fowler berlari ke sisi gawang lalu merangkak tepat di atas garis putih. Ia lantas berlagak tengah menyedot kokain lewat hidungnya, sebelum akhirnya dibangunkan oleh rekan setim sekaligus sahabatnya, Steve McManaman.
Manajer Liverpool kala itu, Gerard Houllier, membelanya: dia sedang berpura-pura makan rumput. Tapi, tayangan ulang berkata lain. Fowler pun kena denda sebesar 32.000 poundsterling dan dilarang bermain selama empat pertandingan.

Robbie Fowler

Selebrasi kontroversial Robbie Fowler yang membuatnya mendapatkan denda besar. (Foto: Ross Kinnaird/Getty Images)

Itu baru satu. Pada tahun yang sama, ia sempat bersitegang dengan Graeme Le Saux yang kala itu membela Chelsea. Kasus yang satu ini, menurut Le Saux dalam penuturannya kepada The Times, sampai membuatnya frustrasi.
Le Saux dahulu bermain dengan diiringi gosip bahwa dirinya adalah gay. Le Saux membantahnya. Artikel The Times yang memberitakan betapa frustrasinya Le Saux itu sendiri diawali dengan pertanyaan yang menohok: “Apakah dia gay atau tidak? Memangnya itu penting (dia gay atau tidak)?”
Persoalan seorang pesepakbola (yang identik dengan citra maskulin) gay atau tidak sudah menjadi tabu di Premier League, namun acapkali diangkat ke permukaan. Sialnya, alih-alih memperbincangkannya secara terbuka dan progresif, tema tersebut justru kerap muncul sebagai bahan olok-olok.
Seperti yang dilakukan Fowler terhadap Le Saux. Pada sebuah pertemuan antara Liverpool dan Chelsea di tahun 1999, Fowler bertubrukan dengan Le Saux yang membuat nama yang disebut terakhir terjatuh ke tanah dan mendapatkan perawatan.
Sekitar 10 yard dari tempat Le Saux, Fowler, yang baru saja mendapatkan kartu kuning dari wasit Paul Durkin —akibat dinilai melakukan pelanggaran—, membungkukkan badan dan menyorongkan bokongnya ke arah Le Saux. Menurut penuturan Le Saux lagi, Fowler melakukannya sembari nyengir lebar.
Bertahun-tahun kemudian, ketika Fowler sudah lebih dewasa dan berada dalam situasi yang lebih tenang —tidak seperti pada laga Liverpool-Chelsea itu, yang disebut Le Saux berlangsung dalam tensi tinggi, dia meminta maaf. “Mungkin, saya agak berlebihan pada beberapa kesempatan,” ucap Fowler dalam wawancaranya dengan Daily Mail.
Sekalipun Fowler akhirnya sadar diri, dalam wawancara yang sama dengan Daily Mail itu, dia secara blak-blakan mengakui bahwa berseteru dengan manajer, jika memang itu perlu dilakukan, dia pasti akan melakukannya.
Pada tahun 2001 muncul gosip bahwa Fowler dan Gerard Houllier berseberang paham. Keduanya disebut tidak akur. Fowler tidak mengiyakan rumor itu, tetapi tidak juga membantahnya. “Saya tahu orang-orang membesar-besarkan persoalan saya dengan Gerard Houllier… tapi, faktanya saya selalu ribut dengan manajer mana pun!”
Pada tahun yang sama juga, Fowler akhirnya memilih meninggalkan Liverpool. Dia lantas berlabuh di Leeds. Sebagai orang yang secara konstan menggedor-gedor pintu ruangan manajernya, Fowler mengaku tidak puas dicadangkan terus-terusan. Di Leeds, ia hanya bertahan dua musim, sebelum akhirnya pindah ke Manchester City.
***

Robbie Fowler

- (Foto: Ross Kinnaird/Getty Images)

Terlepas dari segala kontroversinya, Fowler adalah pencetak gol jempolan. Rekor golnya sudah berbicara sendiri soal kehebatan pria kelahiran Toxteth, Liverpool, 9 April 1975 tersebut.
Dengan 183 gol di semua kompetisi, Fowler menduduki peringkat keenam dalam daftar pencetak gol terbanyak sepanjang masa Liverpool. Lalu, dengan 163 golnya di Premier League —di mana 128 di antaranya dipersembahkan untuk The Reds— dia juga menempati posisi keenam pencetak gol terbanyak dalam sejarah Premier League.
Sementara di Boxing Day, di mana Liga Inggris tetap menghelat pertandingan sehari setelah Natal, Fowler adalah raja. Total, dia sudah mencetak 9 gol pada Boxing Day. Jumlah tersebut membuatnya menjadi pencetak gol terbanyak pada Boxing Day sejak era Premier League dimulai pada 1992/1993.
Orang terdekat yang bisa melampaui catatan Fowler adalah Jermain Defoe. Striker 34 tahun yang kini memperkuat Sunderland itu sudah mencetak 6 gol selama perhelatan Boxing Day di era Premier League.
Apakah Defoe bisa menyamai atau bahkan melampaui pencapaian Fowler di Boxing Day ini, tentu, hanya bisa dijawab oleh waktu..
***
April 2013, pada sebuah penerbangan dari Bandung ke Kuala Lumpur, Malaysia, saya tengah berbincang santai dengan eks-striker Leeds, Michael Bridges, di bangku deret depan. Beberapa deret di belakang saya, duduk Fowler bersama mantan-mantan rekannya: McManaman dan Jason McAteer.
Hari itu, Fowler mengenakan kaos oblong abu-abu dan baru saja melakoni pertandingan eksibisi di Bandung semalam sebelumnya. Cengiran tidak henti-hentinya muncul di wajahnya, demikian juga candaan dengan mantan rekan-rekan satu timnya itu.
Cengiran itu membawa saya mundur lebih dari 10 tahun ke hari di mana salah satu kawan masa kecil dengan santai nyeletuk bahwa cengiran Fowler benar-benar mirip anak bengal.

Boxing DaySepak BolaLiga InggrisRobbie FowlerSports

500

Baca Lainnya