• 10

Sebuah Warkop, Layar Tancap Kusam, dan Timnas di Dalamnya

Sebuah Warkop, Layar Tancap Kusam, dan Timnas di Dalamnya



Nobar Bersama

Warga di sekitar kawasan Setiabudi menonton bola bersama. (Foto: Billi Pasha)
Hujan sempat turun sore itu,  beberapa orang terlihat cemas sambil memasang layar tancap yang tidak besar-besar amat.
Arbi dan rekan-rekannya cemas acara nonton bareng (nobar)  bakal batal. Ia secara inisiatif menggelar tontonan itu di Warung Kharisma,  sebuah warung kopi (warkop) di kawasan Setiabudi. Jangan sampai rasa cemas datang berlipat,  karena kecemasan sudah tumbuh hampir seminggu lalu. Tepatnya saat Tim Nasional Indonesia dipastikan berhadapan dengan Thailand di partai final Piala AFF 2016. 
"Alhamdulillah nggak hujan," kata Rustandi, penjaga warkop. Mereka sudah menyiapkan acara itu semenjak pukul tiga sore,  sembari kehujanan. 
Apa yang mereka lakukan tak sia-sia. Puluhan penonton datang ke warkop yang juga menyediakan nasi goreng itu.
Layar tancap di depan Warung Kharisma itu jelas tidak mewah. Sebuah kain kusam yang tidak bisa disebut berwarna putih sepanjang (kira-kira) dua meter, dibentangkan dengan dua bilah bambu di bagian atas dan bawahnya.
Buat saya, nobar layar tancap yang diprakarsai Arbi dan teman-teman satu kosannya --yang terletak tepat di sebelah warkop itu-- terlihat lebih manusiawi. Sebuah layar sebesar itu jelas lebih layak untuk ditonton ramai-ramai ketimbang beberapa tempat acara nobar lain yang saya temui di malam yang sama.
Saya melihat sebuah rental komputer dan percetakan dengan televisi yang teramat kecil di pojok atasnya. Saya juga melihat sebuah warkop lainnya, yang tidak besar-besar amat, dengan --lagi-lagi-- televisi (yang kali ini agak lebih besar dari televisi di rental komputer itu) di pojok atas. Tidak ada yang menyantap Indomie atau hidangan lain yang dijajakan warkop itu. Paling-paling hanya satu-dua gelas kopi hitam yang dianggurkan begitu saja. Semua mata, tentu saja, mengarah ke televisi di pojok atas itu.

Nobar Bersama

Tampak tiga orang menonton sepakbola bersama di salah satu tempat percetakan. (Foto: Billi Pasha)
Apa pun, dan sekecil apa pun televisi yang mereka gunakan untuk menyaksikan pertandingan, itu tidak menghalangi ketekunan mereka yang menontonnya. Entah itu ketekunan untuk berteriak mendukung sepenuh hati atau ketekunan untuk mengutuk sepenuh hati juga.
Beberapa area nobar yang saya temui itu berada dalam tempat yang berdekatan. Tapi, saya akhirnya menghabiskan lebih banyak waktu di Warung Kharisma itu.
Setengah jam sebelum peluit dibunyikan hanya terkumpul enam orang termasuk saya. Banyak yang baru tiba saat kick-off, yang dijadwalkan dilakukan tepat pukul 19.00 WIB.
Tak jadi soal,  yang penting jangan sampai terlewat momen kala timnas mencetak gol atau (amit-amit) saat Thailand membobol gawang Kurnia Meiga. 
Tak lama setelah laga dimulai, lebih banyak penonton berdatangan. Lumayan berdesakan karena warkop itu tak cukup luas. Beberapa duduk,  beberapa berdiri. Tentu saja lebih banyak yang berdiri karena persediaan kursi terbatas. 
Jangan heran mereka rela melakukan itu. Padahal nonton di rumah tentu lebih nyaman dan tak perlu berdesakan. Tapi, euforia-lah yang mereka cari. Kalah atau menang dipikir nanti, meski kemenangan pasti dinanti.

Nobar Bersama

Warung Kopi di daerah Setiabudi memutar pertandingan sepakbola untuk ditonton pengunjungnya. (Foto: Billi Pasha)

Pandu, yang kos tak jauh dari arena nobar tersebut mengatakan, "Euforia yang bikin acara nobar jadi beda, kalau teriak-teriak jadi ada temennya".
Tak sedikit yang berteriak (maaf) "bodoh!", "bego!" saat beberapa pemain salah mengirim umpan atau ketika kehilangan bola. Lucunya, di satu sisi mereka juga tak terima saat penggawa Timnas Indonesia dilanggar. 
Tiga orang terlihat aktif berkomentar tentang petandingan. Salah seorang dari mereka berkata jika Timnas Indonesia terlalu bermain bertahan. Seorang lainnya mengiyakan dan bilang bahwa permainan anak asuh Alfred Riedl itu jelek. Apapun itu terserah mereka,  namanya juga suporter. 
Menariknya di saat para penonton bersorai,  ada seorang bocah yang mungkin berumur 6-8 tahun. Sambil berlalu di samping kerumunan ia nyeletuk:  "Pada baper!"
Hingga akhirnya mimpi buruk yang ditakutkan datang di ujung babak pertama.  Saat bola sapuan Benny Wahyudi membentur badan Siroch Chatthong. "Aduuuuhhh!" teriak para penonton hampir serentak. Kekecewaan jelas terlihat dari ekspresi mereka. 
"Biasa,  kalah dulu kalau jagoan," ujar seorang bapak-bapak. Ada benarnya juga, sebelumnya timnas bisa membalikkan keadaan sebanyak dua kali saat leg pertama di Stadion Pakansari dan sewaktu menundukkan Singapura di fase grup. 
Tapi kali ini berbeda, jangan lupakan bahwa Thailand adalah raja di Asia Tenggara. Apalagi Stadion Rajamangala punya sejarah angker bagi Indonesia. Momen turun minum membuat tensi sejenak berkurang. Rasa kecewa akan gol pertama sedikit hilang, hembusan harapan timnas untuk mencetak gol kembali diperbarui. 
Namun, kenyataan berkata lain. Babak kedua baru berjalan dua menit, "Tim Gajah Putih" menggandakan keunggulan. Tendangan Chatthong memaksa Kurnia Meiga memungut kembali bola dari gawangnya. Pemain milik Ubon UMT United itu memang tampil apik di laga malam ini. 
Alhasil intensitas teriakan mulai berkurang,  kernyitan dahi mulai tampak dan mimik muka serius sudah terlihat. Wajar, jangankan kebobolan satu gol saja sudah cukup memupus mimpi Indonesia menjadi juara,  apalagi kemasukan dua.
Seorang pengemudi ojek online berhenti di samping saya, dia bertanya tentang skor terkini.  Saya jawab seadanya dan sebenar-benarnya: "Dua-kosong". Seakan tak percaya ia kembali bertanya, "Kalah?" Saya mengangguk dan tersenyum kecil, tak tega mengabarkan berita duka untuk orang yang masih mencari rezeki di malam hari. 
Harapan Timnas Indonesia bisa mencetak satu gol masih terasa. Sebiji gol yang bisa memperpanjang nafas Boaz Solossa dan rekan-rekan hingga babak tambahan. Puncaknya saat Kurnia Meiga sukses menepis tendangan penalti Teraasil Dangda, pemain yang memang hobi menjebol gawang Indonesia.

Nobar Bersama

Warga berkerumun untuk menyaksikan pertandingan sepak bola melalui layar televisi. (Foto: Billi Pasha)

Akan tetapi peluang demi peluang gagal dimanfaatkan oleh para punggawa timnas. Pada akhirnya, yang terjadi adalah deja vu: Indonesia gagal lagi.
Berakhir sudah, peluit tanda usainya pertandingan sudah ditiup. Indonesia kalah 0-2. Thailand jadi juara dengan keunggulan agregat 3-2. Pupus sudah harapan meraih gelar perdana yang telah diimpikan 20 tahun lamanya. 
Tak lebih dari semenit waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikan kondisi seperti semula saat saya pertama datang ke warkop.  Kini tersisa tujuh orang,  yang hampir semuanya membahas penyesalan atas kekalahan. 
Mungkin mereka masih berharap timnas meraih gelar perdana usai lima kali menembus final. Apalagi dengan carut-marutnya sepak bola Indonesia sendiri, tentu trofi Piala AFF akan menjadi oase di padang gurun.

Sepak BolaPiala AFF 2016Timnas IndonesiaSports

500

Baca Lainnya