• 2

Skor 1-0 adalah Bukti Keberhasilan Antonio Conte

Skor 1-0 adalah Bukti Keberhasilan Antonio Conte



Antonio Conte

Pekik kegirangan Antonio Conte di pinggir lapangan. Chelsea-nya sedang terbang tinggi. (Foto: Clive Rose/Getty Images)

Apakah dengan menang 1-0 terus-terusan Chelsea-nya Antonio Conte sedang menurun? Menurut kami, sih, tidak.
Sebelas kemenangan beruntun! Wow! (ya, mari kita tambahkan kata “wow” karena memang begitulah Chelsea di tangan Conte belakangan ini). Kendati pun sempat dikalahkan Liverpool dan Arsenal, Conte dengan cepat menemukan formula yang tepat. Leicester City, Manchester United, dan Manchester City pun mereka babat.
Namun, dalam tiga laga terakhir, Chelsea kering gol. West Bromwich Albion, Sunderland, dan Crystal Palace mereka kalahkan dengan skor tipis saja: 1-0.
Well, membuat satu gol atau selusin gol di liga, jika akhirnya menang, poinnya memang tetap sama: tiga. Tapi, tak ada salahnya toh menilik soal hasil 1-0, 1-0, dan 1-0 Chelsea ini?
***
Chelsea di bawah arahan Conte telah menjelma menjadi kandidat terkuat peraih trofi Liga Premier musim ini. Memuncaki klasemen dengan meraih 43 angka dan unggul enam angka atas Liverpool yang bertengger di posisi kedua.
Dari 17 laga yang dilakoninya, Chlesea hanya dua kali kalah dan sekali imbang. Sisanya? dilibas habis. Dalam 11 kemenangan beruntun itu, 9 di antaranya diraih dengan catatan clean sheet.
Berbicara mengenai pertahanan, Chelsea menjadi kesebelasan yang paling sedikit kebobolan. Sejauh ini Thibaut Courtois hanya kemasukan 11 gol. Kiper yang dibeli dari RC Genk itu memiliki angka rata-rata kebobolan hanya 0,64 gol per laganya.
Sementara dari segi agresivitas mereka berada di urutan keempat dengan 35 gol, di bawah Arsenal, City, dan Liverpool. Bisa dibilang agresivitas Chelsea sedang mengalami penurunan. Hanya enam gol tercipta dari empat laga yang sudah dilakoni pada bulan Desember. Jumlah itu lebih sedikit dibandingkan di bulan-bulan sebelumnya. November lalu mereka delapan kali menyarangkan bola ke jala lawan. Bulan Oktober merupakan saat terproduktif mereka, total 11 gol berhasil dicetak oleh Chelsea.
Tapi, dalam tiga laga terakhir di mana mereka hanya menang 1-0, Chelsea tak bisa dikatakan bermain buruk. Dari ketiga laga tersebut Chelsea cukup dominan. Penguasaan bola juga unggul jauh, mereka hanya kalah sewaktu bersua dengan Crystal Palace —yakni dengan penguasaan sebesar 44%—, sementara di dua laga lainnya 66% dan 67%.
Di ketiga laga terakhirnya Chelsea bukannya tidak tampil ofensif. Statistik juga menunjukkan mereka tampil agresif. Klub milik Roman Abramovich itu rata-rata melepaskan 14,6 tembakan per laga. Bahkan Diego Costa dan rekan-rekan berhasil melayangkan 19 tembakan saat menghadapi Sunderland.
Conte dengan formasi tiga beknya kini menjadi musuh besar bagi semua manajer klub penghuni Liga Premier. Bahkan beberapa lawannya mengubah formasi dasar mereka dengan menggunakan tiga bek. Sunderland contohnya, untuk pertama kalinya David Moyes menerapkan formasi dasar 3-4-3 di musim ini ketika menjamu Chelsea.
Eks-pelatih Manchester United dan Everton itu menepikan Didier Ndong dan memainkan Jason Denayer. Alasannya, Denayer lebih defensif ketimbang Ndong, padahal lini tengah The Black Cats sudah diisi Jan Kirchhoff yang juga memiliki atribut bertahan.
Sementara John O'Shea, Papy Djilobodji, dan Lamine Koné berada di barisan paling belakang. Lalu duet fullback Patrick van Aanholt dan Billy Jones didorong menjadi wingback. Dengan susunan seperti itu total ada tujuh pemain defensif yang diturunkan oleh Moyes di laga tersebut.

Diego Costa

Striker Chelsea, Diego Costa, melompat tinggi untuk membobol gawang Crystal Palace. (Foto: Dan Mullan/Getty Images)

Menembus pertahanan dengan tujuh pemain bertahan bukan hal yang mudah. Tapi menggunakan formasi yang tak biasa bisa menjadi bumerang bagi Sunderland sendiri. Cesc Fabregas akhirnya mampu menjebol gawang Jordan Pickford usai memanfaatkan kesalahan dari Koné.
Di laga sebelumnya West Brom juga terbukti menyulitkan Chelsea. Klub yang bermarkas di The Hawthorns itu cenderung bermain defensif. Terdapat sembilan pemain yang menjaga sepertiga akhir pertahanan mereka, lebih jelasnya mereka menerapkan formasi 6-3-1 dan hanya menyisakan Salomon Rondon di lini depan ketika melakukan aksi bertahan.
Pressing yang dilakukan oleh tim besutan Tony Pulis itu juga ketat. Beruntung Chelsea memiliki Diego Costa yang bisa memanfaatkan celah sekecil apapun. Umpan cepat Fabregas ke depan membuat Costa hanya berhadapan dengan Gareth McAuley di sepertiga akhir lapangan. Usai melewati pemain asal Irlandia Utara itu, Costa melepaskan tembakan yang tak dapat dibendung Ben Foster. Menariknya itu adalah satu-satunya tembakan yang ia lepaskan di laga tersebut.
Kala bentrok terakhir dengan Crystal Palace, Costa juga membuktikan kapasitasnya. Pada situasi sebelum gol terjadi terdapat delapan pemain tuan rumah yang menjaga area pertahanan, sementara Chelsea hanya lima pemain. Akan tetapi dengan cerdik Costa berhasil dikonversi umpan dari Cesar Azpilicueta oleh dan menjadi gol kemenangan bagi Chelsea.
Jika melihat dari jumlah gol yang tercipta, Chelsea memang mengalami penurunan. Namun lawan-lawan yang mereka hadapi bermain terlalu bertahan, bahkan menumpuk tujuh hingga sembilan pemain di area sepertiga pertahanannya.
Keputusan Conte yang tanggap akan situasi membuat anak-anak asuhnya mampu lepas dari tekanan. Diturunkannya Fabregas dan Willian di babak kedua terbukti mampu memecah kebuntuan. Kedua pemain itu menjadi opsi alternatif untuk menggantikan Nemanja Matic serta Pedro Rodriguez.
Conte jelas memiliki peran penting di balik kesuksesan Chelsea sejauh ini. Penguasaan taktik, kemampuan membaca permainan dan keberhasilan memaksimalkan skuat yang ada adalah bukti nyata.
Kemenangan 1-0 dalam tiga laga terakhir bukanlah sebuah kemunduran, tapi sebuah pemikiran adaptif disaat lawan bermain sangat defensif. Ingat, setiap tim bisa tumbang kapan saja karena Liga Premier sangatlah dinamis.

SportsSepak BolaLiga InggrisChelseaAntonio Conte

500

Baca Lainnya