• 0

Timnas Indonesia, Timnas Thailand, dan Jurnal dari Bangkok

Timnas Indonesia, Timnas Thailand, dan Jurnal dari Bangkok



Selebrasi

Pemain Timnas Indonesia melakukan selebrasi seusai pertandingan melawan Thailand di Leg 1 Final Piala AFF 2016 (Foto: )
Hari itu, Kamis, 15 Desember 2016, saya tiba lebih dulu daripada Tim Nasional Indonesia. Empat jam setelah menginjakan kaki untuk pertama kali di Bangkok,  Thailand, saya pun langsung dihadapkan pada sebuah tugas: menunggu rombongan Timnas Indonesia keluar dari dalam Bandara Internasional Suvarnabhumi, Bangkok.
Sial, saya justru menjalankan tugas dan gagal menemui Boaz Solossa dan kawan-kawan.  Mereka dikawal pasukan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Thailand untuk keluar dari bandara megah tersebut, lalu bergegas keluar melalui pintu khusus,  bukan di pintu yang sejak beberapa jam saya awasi.  
Namun, walau sial karena gagal bertemu rombongan 'Skuat Garuda',  saya masih mendapat sedikit keberuntungan.  Di pintu B bandara yang tak pernab lepas dari pandangan saya, rombongan pria dengan setelan jas bergaya sungguh parlente keluar dari pintu itu. Mereka adalah rombongan Tim Nasional Thailand,  sang tuan rumah laga final leg kedua Piala AFF 2016, lawan yang sekali lagi akan dihadapi Indonesia. 
Menariknya,  tak ada pengawalan khusus yang diberikan kepada anak-anak asuh Kiatisuk Senamuang itu.  Karenanya,  tanpa menyia-nyiakan kesempatan,  saya langsung bergegas menghampiri mereka untuk melakukan wawancara barang sebentar.  Orang yang pertama saya tuju dari rombongan itu adalah Teerasil Dangda,  kapten tim sekaligus pencetak gol terbanyak Piala AFF 2016. Tapi, lagi-lagi saya apes. Pria yang sudah membobol gawang Indonesia empat kali dalam gelaran Piala AFF 2016 itu menolak saya wawancarai.

Tim Nasional Indonesia

Tim Nasional Indonesia ketika baru tiba di Bangkok, Thailand. (Foto: kumparan/Bergas Agung)

Tak dapat mewawancarai Dangda, yang akhirnya meluncur pergi dengan rekan-rekannya, saya kemudian mencoba mendekati Tristan Do yang kala itu berjalan di bagian belakang.  Gagal lagi.  Kali ini saya ditolak untuk kedua kali.  Bek sayap keturunan Prancis itu menolak saya dengan lambaian tangan dan alasan sedang ingin menelepon seseorang.  
Ditolak dua kali,  saya belum menyerah.  Saya kembali ke depan pintu dan di sana ada Charyl Chappuis,  gelandang tampan Thailand yang kala itu tertinggal dari rombongan di depannya, berjalan dengan santai.  Namun ketika saya hampiri dan menawarkan diri ingin melakukan wawancara,  Chappuis menolak.  "Saya harus buru-buru,  bus sudah menunggu," ujarnya sembari meladeni beberapa fans wanita yang mengajak berfoto.  Pemain bernomor punggung tujuh itu juga jadi pemain pertama yang saya lihat mau menerima ajakan foto dari para penggemar.  Tak pelak,  saya pun juga hanya mendapatkan fotonya saja. 

Charyl Chappuis

Gelandang Tim Nasional Thailand, Charyl Chappuis. (Foto: kumparan/Bergas Agung)

Ketika tampaknya tugas pertama saya di Negeri Gajah ini hampir sia-sia,  seorang pemain keluar dari pintu yang sungguh tak menguntungkan saya sejak tadi itu.  Berpostur tinggi tegap dengan cukuran rambut cepak, saya dengan cepat mengenalinya. Dia adalah salah satu sosok paling penting di tim Thailand dalam perhelatan Piala AFF 2016 ini,  Kawin Thamsatchanan. Merasa ini adalah kesempatan saya untuk tak pergi dari bandara dengan sia-sia,  saya langsung menghampiri Thamsatchanan untuk meminta wawancara. Tapi, pria 26 tahun itu justru lebih memilih untuk meladeni segelintir fans lebih dulu. 
Melihat aksi tersebut,  saya langsung terpikirkan sebuah hal: cara terbaik untuk mengajak wawancara tampaknya adalah dengan mengalihkan perhatian lebih dulu dengan cara mencoba mengajaknya berfoto.  Dan ternyata,  ide saya berhasil.  Sembari mengajak selfie dan memperkenalkan diri sebagai wartawan, saya langsung memutar video sambil menanyakan beberapa hal. Pertama,  saya mencoba bertanya tentang pertandingan leg pertama final Piala AFF 2016 yang berlangsung malam sebelumnya di Stadion Pakansari,  Bogor,  dimana Thailand takluk 1-2 dari Indonesia. 
"Pertandingan semalam adalah pertandingan yang sulit.  Namun, kami masih punya satu pertandingan lagi di Thailand pada Sabtu (17/12) nanti, kami harus berjuang, " sebut Thamsatchanan. 
Pertanyaan berikutnya yang terlontar dari saya adalah soal dua gol yang tercipta di Pakansari ke gawangnya membuat sepanjang gelaran terakbar di Asia Tenggara ini,  Indonesia telah empat kali menyarangkan bola ke jaring gawangnya.  Tak hanya itu, saya juga sedikit menyinggung dirinya yang kembali kebobolan dari proses sundulan kepala --yang juga gol pertama dari proses sepak pojok yang tak mampu ia halau.
"Indonesia bermain bagus,  mereka pantas mendapatkannya (gol).  Kami harus bekerja lebih keras dan mengatasi problem yang ada di tim kami, " katanya. 

00:00:00/00:00:00

Kawin Thamsatchanan

Setelah jawaban itu,  saya mengakhiri perbincangan saya yang singkat karena Thamsatchanan sudah tertinggal jauh dari rombongan rekan-rekannya yang lain.  Karena memang sang kiperlah yang keluar terakhir kali dari dalam bandara. 
Thamsatchanan sudah berulang kali menyelamatkan gawang Thailand selama perhelatan Piala AFF 2016. Tapi, hari itu, ada penyelamatan lain yang ia lakukan; ia menyelamatkan saya dari kesia-siaan menunggu selama empat jam di bandara.

Sepak BolaTimnas IndonesiaPiala AFF 2016

500

Baca Lainnya