Antara Menjaga Produktivitas dan Rekan Kerja yang Toksik

ASN Kemenpora yang juga seorang adventurir. Menyukai kegiatan luar ruang, hiking, beladiri dan olahraga, terutama Aikido, jogging dan memanah. Alumnus program pascasarjana UI konsentrasi Kajian Stratejik Pengembangan Kepemimpinan
Konten dari Pengguna
12 Mei 2022 17:28
·
waktu baca 6 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Akbar Mia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi lingkungan kerja toxic. Foto: Getty Images Ju Photographer
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi lingkungan kerja toxic. Foto: Getty Images Ju Photographer
ADVERTISEMENT
"Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang saleh dan orang yang buruk, bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Pemilik minyak wangi tidak akan merugikanmu, engkau bisa membeli (minyak wangi) darinya atau minimal engkau mendapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau mendapat baunya yang tidak sedap.” (Nabi Muhammad, Hadits Riwayat Imam Bukhari)
ADVERTISEMENT
Adalah impian hampir semua pekerja untuk memiliki pekerjaan yang mapan, lingkungan yang nyaman, rekan kerja yang menyenangkan, penghasilan yang memuaskan dan sebagainya. Namun dalam kenyataannya, seringkali yang dialami tidak seindah bayangan yang dimiliki. Acapkali kita menghadapi kondisi realita yang tidak sesuai dengan idealita kita. Baik dari segi lini pekerjaan, lingkungan kerja, rekan kerja, penghasilan atau bahkan gabungan dua atau lebih kondisi tersebut.
Di antara faktor-faktor tersebut di atas, mungkin faktor lingkungan kerja termasuk yang paling memengaruhi secara langsung. Bagi sebagian orang, pekerjaan yang tidak/belum mapan ataupun penghasilan yang kurang mencukupi, kadang kala masih bisa tertutupi dengan lingkungan kerja yang nyaman dan menyenangkan, namun suasana kerja yang tidak nyaman dapat membuat seseorang tidak menyukai pekerjaannya, meskipun penghasilan yang diterima cukup banyak.
ADVERTISEMENT
Suasana kerja yang nyaman dianggap menjadi salah satu kunci menjalani hari-hari kerja yang menyenangkan dan produktif. Dalam situasi kerja sehari-hari, banyak ditemui pekerja yang kehilangan produktifitasnya karena merasakan lingkungan kerja atau rekan kerjanya kurang memberikan kenyamanan. Situasi ini kerap membuat pekerja hanya menjalankan tugasnya tanpa menikmati pekerjaannya, sekadar memenuhi kewajiban, tanpa semangat dalam bekerja. Bagi sebagian yang lain, terutama generasi milenial yang seringkali mencari kenyamanan dalam kerja, situasi atau lingkungan kerja yang tidak nyaman, dapat berakhir pada pengunduran diri dari pekerjaan tersebut.
Suasana yang tidak memberikan rasa nyaman ataupun tidak menyenangkan tersebut, saat ini seringkali disebut sebagai suasana yang toksik, atau suasana kerja yang beracun. Termasuk di dalam suasana kerja ini adalah lingkungan dan teman-teman kerja. Lingkungan atau rekan kerja yang toksik merupakan situasi atau kondisi di mana lingkungan atau rekan kerja yang bukan hanya tidak mendukung dan tidak berkontribusi positif pada hidup kita, bahkan malah dapat membawa pengaruh atau kontribusi negatif.
ADVERTISEMENT
Dalam dunia kerja, suasana yang toksik ini seringkali mendatangkan ketidaknyamanan dan membuat kita kehilangan semangat dalam bekerja. Kehilangan semangat dalam bekerja dapat membuat kita malas, tidak kreatif, enggan berinovasi dan pada gilirannya akan kehilangan produktifitas. Kadang secara tidak disadari, kita sering berinteraksi dengan rekan-rekan kerja yang toksik tersebut.
Diantara ciri-ciri rekan kerja yang toksik yaitu:
1. Sering menjatuhkan orang lain.
2. Suka menyebarkan gosip.
3. Tidak meminta maaf dengan tulus.
4. Sering bersikap drama.
5. Membuat tidak tenang.
6. Egois atau mau menang sendiri.
7. Selalu bersikap negatif.
8. Senang melihat orang susah, dan susah melihat orang senang.
Ciri-ciri di atas hanya sebagian di antara ciri-ciri yang ada. Secara umum, kita dapat merasakan adanya rekan kerja yang toksik dengan munculnya stress yang bertambah, menurunnya kepercayaan diri, merasa sering dimanipulasi atau dimanfaatkan, merasa kesepian atau terisolasi, atau bahkan hanya sekadar rasa lega saat berada jauh dari orang yang toksik tersebut.
ADVERTISEMENT
Misalnya saat kita ingin mengerjakan suatu tugas, lalu ada rekan kerja yang justru mencemooh, atau mengajak untuk mengundurkan waktu pengerjaan tugas tersebut. Atau saat kita ingin menuntaskan suatu buku bacaan, namun justru diejek sebagai orang yang sok pintar atau sok rajin, dan lain-lain. Contoh-contoh diatas merupakan contoh saat menghadapi rekan kerja yang toksik yang dapat membuat kita kehilangan produktifitas dalam bekerja.
Kondisi ini muncul karena toksik atau racun yang, disebarkan oleh rekan kerja tersebut, telah mengganggu kesehatan mental kita. Kalimat-kalimat atau sikap-sikap rekan kerja tersebut perlahan masuk kea lam bawah sadar kita, sehingga menjadi afirmasi. Kita menjadi mulai memercayai bahwa kita tidak mampu melakukan sesuatu, atau kita menjadi mulai ikut merasa malas untuk segera mengerjakan suatu tugas, ataupun hal-hal lainnya yang berakibat pada menurunnya kualitas dan produktifitas kerja. Dalam jangka panjang hal ini tentu tidak baik bagi kinerja dalam pekerjaan, sebagaimana juga akan mengganggu kesehatan mental kita.
ADVERTISEMENT
Agar kita dapat tetap menjaga kesehatan mental kita dalam menghadapi rekan kerja yang toksik, sekaligus menjaga produktivitas kerja, ada beberapa hal yang dapat kita lakukan.
1. Senantiasa menanamkan mental positif pada diri sendiri.
Orang-orang dengan aura negatif akan selalu ada dimanapun. Karenanya kita harus senantiasa menanamkan mental positif pada diri sendiri, untuk membentengi diri dari pengaruh negatif atau toksik tersebut. Yakinkan diri bahwa kita bisa dan mampu melakukan hal-hal atau tugas-tugas yang ingin kita lakukan.
2. Beri jarak.
Agar pengaruh negatif dari rekan kerja yang toksik tersebut tidak banyak memengaruhi diri kita, sebaiknya kita memberi jarak dari rekan tersebut. Memberi jarak tentunya bukan berarti menjauhi apalagi memusuhi, namun memberi jarak adalah menjaga jarak aman dengan rekan tersebut. Cukup aman agar dari pengaruh negatifnya, namun tidak terlalu jauh hingga disangka memusuhi. Bagaimanapun juga, ia tetap rekan kerja kita.
ADVERTISEMENT
3. Bersosialisasi dengan teman yang positif.
Sebagaimana hadits Nabi Muhammad, perbanyaklah berteman dengan penjual minyak wangi, sehingga minimal mendapat bagian harumnya. Apabila banyak berteman dengan pandai besi, malah dapat terkena percikan api atau asapnya. Teman dengan aura positif akan dapat menguatkan mental positif yang kita miliki. Teman yang positif dapat menjadikan kita semakin bersemangat menjalani hari-hari, baik di tempat tinggal, maupun di tempat kerja. Teman seperti ini bahkan dapat mendorong proses berpikir kreatif, inovatif dan membawa inspirasi.
4. Tetapkan batasan
Sebisa mungkin kita harus menetapkan batasan dalam berteman dengan rekan kerja yang toksik. Jangan sampai membuka diri terlampau dalam, terutama dalam hal-hal yang bersifat pribadi atau keluarga. Bahkan ada kalanya kita cukup membatasi membuka diri hanya sampai hal-hal yang terkait pekerjaan saja, agar aura negatif dari rekan kerja yang toksik tidak sampai memengaruhi hal-hal pribadi.
ADVERTISEMENT
5. Bersikap tegas bila diperlukan
Ada saatnya kita harus berani berkata tidak pada rekan kerja yang toksik. Berusaha menyenangkan rekan kerja memang baik, namun akan kontra produktif apabila hal tersebut juga membawa pengaruh buruk pada kesehatan mental kita, ataupun menurunkan kinerja kita di tempat kerja. Terkadang kita sulit berkata tidak karena merasa tidak enak tau kasihan, namun dalam jangka panjang hal ini sebetulnya justru dapat menyulitkan diri kita sendiri dan berakibat tidak baik pada rekan kerja yang toksik tersebut.
Dalam kehidupan pergaulan sehari-hari maupun di dunia kerja, berhadapan dengan rekan yang toksik tidaklah terhindarkan. Seringkali aura negatif yang dibawanya dapat membuat kreativitas, inovasi dan produktivitas kerja menurun, bahkan tidak jarang juga memengaruhi kesehatan mental dalam jangka panjang. Karenanya, kita perlu mengambil sikap dan langkah agar kita tetap dapat menjaga kesehatan mental dan produktivitas dalam bekerja.
ADVERTISEMENT
Referensi:
1. https://lifestyle.kompas.com/read/2020/10/29/115512320/waspadai-8-ciri-teman-yang-toksik?page=all, diakses pada tanggal 11 Mei 2022, pukul 10.07
2. Anita Djie, Mengenal Ciri dan Bahaya Teman Toxic untuk Kesehatan Mental, tayang di https://www.sehatq.com/artikel/ciciri-toxic-friend-yang-merusak-hidup-anda, diakses pada tanggal 11 Mei 2022, pukul 10.22
3. https://www.alodokter.com/jangan-dulu-resign-ini-cara-menghadapi-rekan-kerja-yang-toxic, diakses pada tanggal 11 Mei 2022, pukul 11.01
4. Rheza Aditya Gradianto, 8 Cara Menghadapi Rekan Kerja yang Toxic di Kantor, https://www.bola.com/ragam/read/4877710/8-cara-menghadapi-rekan-kerja-yang-toxic-di-kantor, diakses pada tanggal 11 Mei 2022, pukul 11.23
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020