Mengasah Sikap dan Kompetensi Pegawai

ASN Kemenpora yang juga seorang adventurir. Menyukai kegiatan luar ruang, hiking, beladiri dan olahraga, terutama Aikido, jogging dan memanah. Alumnus program pascasarjana UI konsentrasi Kajian Stratejik Pengembangan Kepemimpinan
Konten dari Pengguna
14 Juni 2022 13:40
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Akbar Mia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi pegawai dengan kemampuan multitasking (Gambar: freepik.com)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pegawai dengan kemampuan multitasking (Gambar: freepik.com)
ADVERTISEMENT
Seri Mental Healthiness
Senin, 6 Juni 2022, publik dikejutkan dengan berita pemukulan seorang pegawai kantor pajak oleh atasannya sendiri. Peristiwa yang terjadi di Kantor Pajak Pratama Kota Bekasi tersebut diduga berawal dari perintah pekerjaan dari atasannya, yang kemudian dinyatakan sudah diselesaikan oleh korban namun menurut pelaku korban belum mengerjakan tugas yang diberikan. Permasalahan berkembang pada persoalan tuduhan pelaku bahwa korban tidak dapat dihubungi pada hari Sabtu dan Minggu sebelumnya. Pelaku menuduh korban memberikan nomor palsu pada data kepegawaian. Pelaku yang emosi dan tidak menerima penjelasan korban, kemudian memukul korban.
ADVERTISEMENT
Apapun alasannya, pemukulan tentu tidak dapat dibenarkan. Tindakan pelaku yang tidak dapat mengontrol emosi dan kemudian melakukan pemukulan, adalah suatu tindakan yang salah. Hari sabtu dan minggu merupakan waktu untuk beristirahat dan bercengkerama dengan keluarga, setelah sepekan penuh menghadapi penatnya pekerjaan. Tentunya hal ini harus dihormati siapapun, termasuk atasan. Kecuali untuk alasan yang sangat mendesak atau darurat, selaiknya hari libur yang merupakan hak bagi karyawan, diberikan sepenuhnya. Kalaupun memang keadaan saat itu sangat mendesak, sehingga perlu menghubungi segera pada hari libur, tetap saja bukan merupakan alasan untuk melakukan kekerasan.
Di sisi lain, sebagai karyawan, kita semua tentu terikat dengan aturan-aturan yang ada. Sepatutnya data yang diberikan merupakan data yang sebenarnya. Kalaupun terpaksa menggunakan nomor orang lain sebagai nomor kontak, tentu harus siap dengan kemungkinan nomor tersebut akan dihubungi untuk urusan pekerjaan. Meskipun hari libur memang merupakan saat untuk melepas lelah, namun kita tidak akan pernah tahu sejauh mana kepentingan mendesak sehingga kita dihubungi pada hari libur, kecuali kita menjawab panggilan tersebut. Maka, sebaiknya komunikasi dengan rekan kerja terus dijaga, meskipun pada hari libur. Kalaupun ternyata tidak terlalu mendesak, tentunya dapat dikomunikasikan dengan baik, daripada hanya didiamkan saja.
ADVERTISEMENT
Seorang rekan yang kebetulan saat itu menduduki jabatan setara eselon 1 di suatu instansi pemerintah, pernah mengajak diskusi panjang mengenai etika para karyawan baru di unitnya. Beliau mendapati banyak karyawan baru, yang notabene termasuk generasi milenial dan/atau Z, yang bersikap acuh tak acuh terhadap sesama karyawan lainnya, termasuk pada atasannya sendiri. Pada banyak kesempatan, ketika berjumpa di suatu tempat atau berada dalam lift yang sama, para karyawan muda tersebut hanya berdiam diri, tidak bertegur sapa, dan sibuk sendiri dengan gawai masing-masing. Pernah juga beliau menghadapi karyawan baru yang menolak suatu tugas karena menurutnya bukan merupakan tugasnya, tugas tersebut dianggap tidak sesuai dengan deskripsi tugas saat melamar sebagai PNS dahulu.
Generalis yang Spesialis
ADVERTISEMENT
Sebagai PNS, sejatinya kita semua harus siap bersedia menerima tugas apapun, dan dimanapun. Kita telah menandatangani persetujuan bahwa sebagai PNS kita siap untuk ditugaskan dimanapun, termasuk pada bidang kerja yang kita anggap bukan merupakan kompetensi dasar atau tidak sesuai dengan latar pendidikan kita. Anggaplah penugasan tersebut sebagai suatu kesempatan bagi kita untuk memperlajari berbagai kompetensi atau pengetahuan tambahan yang mungkin akan sangat berguna bagi karir kita nantinya.
Mendiang Steve Jobs, mantan pendiri Apple.inc, pernah berujar, “Stay Hungry, Stay Foolish”. Sebuah ungkapan sederhana yang dalam maknanya. Tetaplah lapar (stay hungry) akan ilmu pengetahuan, dan tetap bodoh (stay foolish), agar tidak menjadi skeptis dan selalu bersiap menerima pengetahuan baru. Sesungguhnya saat dimana kita merasa sudah banyak pengetahuan, adalah saat dimana kita berhenti bertumbuh dan berkembang. Selaiknya, semakin banyak yang kita ketahui, semakin kita merasa masih banyak yang belum kita ketahui.
ADVERTISEMENT
Menjadi abdi negara berarti kita harus bersiap untuk menerima penugasan yang mungkin kita pikir tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan kita. Namun disaat itulah sebetulnya kita mendapat kesempatan untuk menambah dan mengembangkan potensi kita. Sebagai pelayan masyarakat, kita dituntut untuk memiliki banyak kompetensi sekaligus. Seorang sarjana teknik, tetap memerlukan keahlian berkomunikasi ketika berhadapan dengan masyarakat, keterampilan administrasi sebagai penunjang pertanggungjawaban pelayanannya, dan lain sebagainya. Seorang sarjana ilmu politik juga tetap memerlukan keterampilan administrasi, pengetahuan dasar tentang keuangan dan seterusnya. Keinginan untuk terus belajar dan berkembang (eagerness to learn) perlu terus dipupuk.
Menjadi PNS merupakan kesempatan untuk belajar banyak kompetensi baru yang mungkin sebelumnya tidak terbayangkan. Tuhan telah memberikan kita 100 miliar sel otak, yang memungkinkan kita utk menyerap banyak ilmu. Sejarah membuktikan banyak ilmuwan yang menguasai banyak ilmu sekaligus, ahli kedokteran yang sekaligus menguasai ilmu fiqih, filsafat, musik dan puisi, seperti Al Farabi, penemu prinsip kesatuan udara dan daya gravitasi, sekaligus pakar pengobatan mata seperti Ibnu Haitsam, dan sejarawan, ahli ekonomi dan politik seperti Ibnu Khaldun, serta tidak lupa Bapak Pengobatan Modern, Ibnu Sina, yang juga seorang filsuf.
ADVERTISEMENT
Mempelajari berbagai kompetensi dapat menjadikan PNS sebagai sosok generalis, yang menguasai banyak keterampilan sekaligus. Pada gilirannya, pengetahuan-pengetahuan dan kompetensi-kompetensi ini akan sangat berguna bagi karir dan kehidupannya. Hal ini sejalan dengan core values baru ASN yang belum ini diluncurkan oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, yaitu ASN BerAKHLAK, Berorientasi Pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif dan Kolaboratif.
Pada saat yang bersamaan, menjadi generalis juga bukan berarti PNS tidak bisa menjadi spesialis. Tentunya core competence yang berasal dari latar pendidikan asalnya, harus terus diasah. Pada saatnya, pengetahuan dari pendidikan asal juga akan diperlukan, terutama bagi rekan PNS yang berstatus sebagai fungsional.
Sikap Merupakan Jendela Jiwa
Sebagai frontliners pemerintah dalam melayani masyarakat, sepatutnya setiap PNS memiliki sikap mental yang baik. Mengasah rasa peduli, empati, harmoni dan kemampuan komunikasi, merupakan hal-hal yang dapat menunjang sikap mental tersebut. Betapa banyaknya masalah yang tercipta hanya karena masalah atau kesenjangan dalam berkomunikasi, baik komunikasi verbal maupun nonverbal. Sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang terkenal dengan keramahtamahannya, terlebih sebagai PNS, sepatutnya kita senantiasa meningkatkan kemampuan dan pola komunikasi kita. Tegur sapa ringan, atau sekedar saling senyum, kadangkala dapat mengurangi syak wasangka yang mungkin timbul, dan mengeratkan pertemanan.
ADVERTISEMENT
Demikian pula dengan senyum yang tulus, yang datang dari hati, yang seringkali mampu menenteramkan hati yang gundah gulana. Sebagai pelayan masyarakat, PNS diharapkan mampu tampil merepresentasikan pemerintah yang hadir dan peduli terhadap masyarakat. Hal ini merupakan bagian dari sikap mental pelayanan publik yang melekat pada diri PNS.
Selain sebagai fungsi pelayanan publik, ternyata menghadirkan hati dan menunjukkan sikap peduli, empati dan harmoni, juga memiliki dampak yang baik bagi kesehatan mental pribadi yang mempraktekkannya. Senyum yang tulus, melayani dengan hati yang riang, bekerja dengan sepenuh hati, akan membawa ketenangan dan kenyamanan. Kondisi ini akan menjaga kesehatan mental tetap baik, jauh dari rasa tertekan, tidak nyaman, terancam dan lain sebagainya. Tentunya dapat bekerja dengan rasa tenang, nyaman, dan aman merupakan impian kita semua, dan hal itu sebenarnya bermula dari diri kita sendiri. Kitalah yang menentukan, apakah kita ingin menciptakan rasa tenang dan nyaman itu bagi diri kita.
ADVERTISEMENT
Allahu a’lam bish shawab
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020