Kumplus- cover fiksi Ruwi Meita 12
12 Juni 2021 19:33
ยท
waktu baca 7 menit

Bahasa Bibir (12)

Loga mengingat hujan yang turun di hari yang panas saat berumur empat tahun. Seorang tamu datang ke rumahnya. Namun anehnya ayahnya tidak membiarkan dia masuk. Mereka bercakap-cakap di teras. Bahkan mereka tidak duduk. Ayahnya tampak gusar.
Tamu itu seorang lelaki yang sedikit lebih pendek dari ayahnya namun memiliki postur proporsional. Dia memakai kemeja dan celana hitam seolah baru saja menghadiri pemakaman. Meski begitu senyum di bibirnya selalu merekah, namun Loga tidak menyukai senyum itu. Setiap melihatnya Loga jadi teringat rasanya memasang lego pada pasangan yang tidak pas.
Tamu itu membawa satu kotak besar yang berisi donat. Loga hapal merek donat itu karena mama sering membelikannya. Sebenarnya Loga lebih tertarik dengan donat daripada tamu itu. Itulah sebabnya dia berdiri di jendela sambil memainkan truknya. Dari sana dia bisa melihat kotak donat yang masih dibawa oleh tamu itu. Loga tidak bisa mendengar mereka namun memahami apa yang mereka ucapkan hanya dengan melihat bibir yang bergerak. Tadinya Loga mengira semua orang bisa melakukannya sehingga dia merasa biasa saja sebab ayahnya juga begitu. Ayah bilang itu kemampuan yang sudah diturunkan dalam DNA mereka. Kakek buyutnya juga memiliki bakat yang sama.

Keuntungan berlangganan kumparan+
  • Ratusan konten premium dari pakar dan kreator terbaik Indonesia
  • Bahasan mendalam dengan kemasan memikat
  • Pengetahuan, hiburan, dan panduan yang solutif untuk hidupmu