News
·
30 Juli 2021 20:11

Para Pegawai Negeri yang Tidak Menyekolahkan Anaknya di SD Negeri

Konten ini diproduksi oleh Riyan Putra Setiyawan
Setiap tahun ajaran baru, saya sering menemukan pemandangan kontras di SD-SD dekat rumah. Di satu sisi, saya menemukan SD yang kekurangan siswa. Padahal sudah diiming-imingi sekolah gratis, dapat giveaway tas dan seragam sekolah, tapi masih saja sepi peminat. Sementara di sisi lain, ada SD yang uang gedungnya jutaan, SPP bulanannya lumayan, tapi malah overload. Banyak sekali pendaftarnya, bahkan sampai nolak-nolak. SD pertama yang saya maksud adalah SD Negeri, yang kebetulan juga SD tempat saya sekolah dulu. Sementara SD kedua adalah SD swasta (MI lebih tepatnya), yang baru berdiri beberapa tahun lalu.
ADVERTISEMENT
Didorong rasa ingin tahu atas fenomena tersebut, saya kemudian update status di sosmed. Saya ingin menanyakan 2 hal kepada teman-teman di jagad maya. Pertama, apakah fenomena SD Negeri tidak diminati yang terjadi di tempat saya, juga terjadi di tempat mereka? Kedua, kalau mereka diberikan pilihan, kemanakah mereka akan menyekolahkan anaknya? Di SD Negeri atau di SD Swasta?
Di luar dugaan, ternyata banyak yang merespon. Status saya yang biasanya sepi, mendadak ramai. Dan yang meramaikan, rata-rata malah teman saya yang sudah jadi guru dan berstatus PNS. Jawaban mereka beraneka ragam, namun, saya bisa ambil benang merahnya. Pertama, mereka mengamini bahwa banyak SD Negeri yang sepi peminat. Rata-rata SD yang tidak diminati ini, tidak bisa mempertahankan kualitasnya, dan beberapa diantaranya malah sudah ditutup atau dimerger. Sementara, tentang pertanyaan kedua, sebagian besar diantara mereka, teman-teman saya yang sudah jadi PNS ini, sepakat ingin menyekolahkan anaknya di SD luar negeri daripada di SD Negeri. Lho, bukankah ini aneh? Mereka pegawai negeri, jadi guru di SD Negeri, tapi tidak ingin menyekolahkan anaknya di SD Negeri. Kenapa? Berikut argumen-argumennya yang saya rangkum menjadi 4 poin :
ADVERTISEMENT
1.
Para Pegawai Negeri yang Tidak Menyekolahkan Anaknya di SD Negeri (440483)
searchPerbesar
dokumentasi pribadi
Zonasi
Semua orang tua menginginkan yang terbaik bagi anaknya, termasuk pendidikannya. Sayangnya, dengan adanya zonasi, peluang orangtua untuk mendapatkan pendidikan terbaik agaknya sedikit terhambat. Sebab para orangtua, kalau ingin menyekolahkan anaknya di SD Negeri, hanya diperbolehkan mendaftarkan di SD Negeri yang berada di dekat rumah, di satu desa. Padahal, belum tentu SD Negeri di dekat rumah itu adalah SD yang diidam-idamkan. Bisa jadi yang didambakan malah SD di lain desa. Tapi karena terbentur aturan zonasi, akibatnya bila masih mendaftar di luar zona, sang anak bisa-bisa tidak lolos administrasi.
Maka, bila orangtua ingin mendapatkan pendidikan terbaik bagi anak, dan SD Negeri yang ada di satu zona tidak ada yang diminati, jalan alternatifnya ya di sekolah swasta. Kebetulan di sekolah swasta aturan zonasi tidak berlaku. Siswa dari manapun, dengan berbagai latar belakang, boleh saja mendaftar. Para orangtua tinggal menyeleksi, diantara sekian banyak alternatif sekolah swasta, mana yang paling sesuai dengan kebutuhan.
ADVERTISEMENT
2. Muatan Pelajaran
Faktor kedua, kenapa orangtua menyekolahkan anaknya di SD swasta adalah karena muatan pelajarannya. Para orangtua menganggap, muatan pelajaran yang diberikan di SD-SD swasta saat ini, sesuai dengan tantangan zaman. Di era globalisasi, era yang ditandai dengan derasnya arus informasi, para orangtua mengharapkan, selain ilmu pengetahuan, anak-anak juga harus dibekali dengan pendidikan agama dan juga budi pekerti.
Tantangan ini mampu dijawab dengan sangat baik oleh SD swasta, terlebih SD yang berbasis agama. Di SD IT misalnya ada pembiasaan-pembiasaan seperti sholat Dhuha, kegiatan BTA, menghafal doa-doa, dan lain sebagainya. Sementara di SD Negeri, sekalipun sudah ada kegiatan yang sama, yakni pembiasaan dan penanaman karakter, menurut para orangtua, outputnya masih belum terlalu terlihat.
ADVERTISEMENT
3. Sesuai Dengan Jam Kerja
Seperti kita tahu, jam pulang siswa SD di kondisi normal adalah pukul 13.00. Sementara para orangtua, jam pulang kerja mereka bisa sampai pukul 16.00, bahkan lebih. Ini berarti ada selisih 3 jam, selama anak-anak tidak mendapatkan pengawasan dari orangtua di rumah, maupun dari guru di sekolah. Daripada waktu 3 jam itu digunakan anak untuk kegiatan yang tidak jelas juntrungannya, para orangtua biasanya mengikutkan anaknya untuk ikut bimbel, atau dititipkan pada pengasuh anak. Tapi itu berarti mereka harus merogoh kocek lebih dalam.
Maka dari itu, untuk menekan pengeluaran sekaligus anak terpantau aktifitasnya, para orangtua menyekolahkan anaknya di SD swasta. Di SD swasta, banyak yang sudah menerapkan full day school. Berangkat jam 7 pagi, pulangnya jam 4 sore sesuai dengan jam kerja orangtuanya.
ADVERTISEMENT
4. Kebijakan Sekolah
Faktor terakhir kenapa para orangtua menyekolahkan anaknya di SD swasta adalah masalah kebijakan. Di SD negeri, kebijakannya kaku, prosesnya lama, dan kadang berbelit-belit . Seperti misalnya ada guru yang sudah purna tugas, sekolah tidak bisa sesuka hati mencari penggantinya. Yang bisa dilakukan hanyalah meneruskan kekurangan guru ini kepada dinas untuk ditindaklanjuti. Bukan wewenang sekolah merekrut pendidik atau tenaga kependidikan. Selama masa menunggu itu, selama belum ada guru pengganti, guru-guru yang lain harus merangkap tugas. Dan merangkapnya bisa bulanan, bahkan tahunan. Tergantung ada tidaknya rekrutmen pegawai negeri. Kira-kira, bila satu guru merangkap kelas, apakah pembelajarannya maksimal atau tidak?
Sementara, bila hal yang sama terjadi di SD swasta, solusinya bisa diselesaikan dalam waktu relatif singkat. Sekolah bisa segera melakukan perekrutan. Melalui pengumuman lowongan pekerjaan, guru pengganti bisa segera didapatkan.
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-whitesosmed-facebook-whitesosmed-twitter-whitesosmed-line-white