Pencarian populer
USER STORY
22 Oktober 2018 18:06 WIB
0
0
Makna Simbol Dua Jari Direktur IMF
Pose satu jari Menteri Sri Mulyani dan Menteri Luhut Pandjaitan saat penutupan acara IMF di Nusa Dua Bali. (Foto: Instagram/@christinelagarde)
Hakikatnya manusia adalah makhluk yang kaya, kreatif, dan mampu dalam menciptakan, menyampaikan, dan menerjemahkan setiap pesan dari komunikasi yang terjadi. Manusia dapat dengan seketika menyampaikan, menerjemahkan, memaknai, dan melakukan tindakan atas pesan komunikasi. Baik pesan verbal (tertulis) maupun nonverbal.
Dalam satu peristiwa komunikasi, manusia dapat sekaligus menjadi penyampai pesan (komunikator) dan penerima pesan (komunikan).
Akhir-akhir ini video di bagian akhir Annual Meetings IMF-World Bank Group 2018 saat sesi pemotretan dalam penutupan acara tersebut di Nusa Dua Bali pada Minggu, 14 Oktober 2018, mendapat perhatian masyarakat. Apalagi video tersebut diberitakan media massa dan viral di jagat maya. Ditambah lagi belakangan video tersebut cukup menghebohkan.
Dalam satu frame, tampak secara berurutan dari kiri ke kanan, yakni Presiden World Bank (Bank Dunia) Jim Yong Kim, Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde, Ketua Panitia Pelaksana Annual Meetings IMF-World Bank Group 2018 sekaligus Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman RI Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Keuangan RI Sri Mulyani, dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo.

Dalam satu peristiwa komunikasi, manusia dapat sekaligus menjadi penyampai pesan (komunikator) dan penerima pesan (komunikan).

- -

Yang sangat mencuri perhatian adalah tiga sosok: Lagarde, Luhut, dan Sri Mulyani yang karib disapa Ani. Sesaat sesi foto dimulai, masih berdasarkan video itu, Lagarde mengacungkan dua jari --telunjuk dan jari tengah-- membentuk huruf 'V' pada kedua tangannya, sedangkan Luhut dan Ani mengacungkan lima jari kedua tangan masing-masing.
Sebenarnya ada Yong Kim yang juga mengacungkan dua jari tangan kanannya. Kemudian Yong Kim mengubah posisi dua jari yang diarahkan ke bawah.
Sedangkan Luhut mengubah acungan satu jari (telunjuk). Lagarde tetap mengacungkan dua jari. Ani sadar melihat acungan jari Lagarde. Sembari tersenyum dan tertawa, Ani langsung menyampaikan, "Jangan pakai dua. Bilang, not dua, not dua".
Luhut menerima dan menangkap pesan dari Ani. Luhut meneruskannya ke Lagarde, "No, no, no, not dua, not dua," dengan Luhut tetap mengacungkan jari telunjuk pada tangan kanan sembari menghadap ke Lagarde. Lagarde melirik ke jari Luhut. Lagarde lantas memperbaiki dengan mengacungkan jari telunjuk pada masing-masing tangan.
Bersamaan dengan itu, Luhut melirik ke Ani. Ani tertawa mendengar perkataan Luhut. Lima orang dalam frame video tertawa bersamaan.
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Indonesia, Luhut Binsar Pandjaitan saat penutupan Annual Meeting IMF-World Bank Group 2018 di Nusa Dua Bali, Minggu (14/10/2018). (Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan)
Sebelum duduk di bangku masing-masing, Ani dan Lagarde berbicara di antara Luhut. Ani menyampaikan tentang makna satu jari dan dua jari ke Lagarde. Ani dengan terang menegaskan, "Two is for Prabowo, one is for Jokowi". Lagarde terkejut dan menyadari, "Oooh", serta Lagarde bertepuk tangan.
Dari sisi komunikasi, lima orang yang berada dalam satu frame video tersebut khususnya Lagarde, Ani, dan Luhut, melakukan dua komunikasi sekaligus, verbal dan nonverbal atau nonverbal dan verbal. Komunikasi verbal dengan perkataan, nonverbal dengan menggunakan simbol. Simbol yang dipergunakan di antaranya acungan jari, senyum, dan tawa.
Dalam term yang lebih luas, bentuk komunikasi nonverbal yang terjadi dalam video tersebut masuk dalam kategori kinesics atau gerakan tubuh (Muhammad Budyatna dan Leila Mona Ganiem, Teori Komunikasi Antarpibadi, 2012). Secara keseluruhan gerakan tubuh mencakup kontak mata, ekspresi wajah, gerak isyarat, sikap atau gerak badan, dan sentuhan.
Bila melihat situasi komunikasi yang terjadi dalam video itu, sedikitnya ada empat pesan yang tercipta oleh tiga orang. Pesan pertama oleh Lagarde dengan acungan dua jari kedua tangannya. Pesan kedua oleh Ani dengan menyampaikan perkataan berisi larangan dan imbauan.
Pesan ketiga oleh Luhut dengan pernyataan memperbaiki acungan jari Lagarde, yang kemudian dituruti Lagarde. Pesan keempat oleh Ani yang memberikan makna atas 'satu jari' dan 'dua jari'.
Keterpaduan empat pesan ini menciptakan satu pesan baru yang kemudian diterima dan dimaknai atau diterjemahkan oleh publik.
Makna Kontekstual
Ilustrasi saling berbicara. (Foto: rawpixel/pixabay)
Banyak ahli komunikasi meyakini bahwa pemaknaan terhadap pesan komunikasi sangat bergantung pada situasi dan peristiwa komunikasi baik sebelum, saat, maupun setelah komunikasi terjadi. Artinya sebuah pesan termasuk di dalamnya adalah simbol atau lambang atau kode atau tanda, muncul dan dapat dimaknai tidak hanya bergantung pada satu kejadian semata.
Dale G. Leathers, penulis 'Nonverbal Communication Systems' (Jalaluddin Rakhmat, Psikologi Komunikasi, 2015), menilai pesan nonverbal juga sangat penting dalam komunikasi. Leathers menyebutkan, ada enam alasan betapa pentingnya pesan nonverbal.
Di antaranya, pesan nonverbal merupakan sarana sugesti yang paling tepat. Karena ada situasi komunikasi yang menuntut kita untuk mengungkapkan gagasan dan emosi secara tidak langsung. Sugesti tersebut guna menyarankan sesuatu kepada orang lain secara implisit (tersirat).
Menurut Alo Liliweri (Alex Sobur, Semiotika Komunikasi, 2015), ada sedikitnya lima bentuk konteks dalam melihat komunikasi yang terjadi. Masing-masing, yakni fisik (lokasi), waktu, historis (keadaan yang pernah dialami peserta komunikasi), psikologis, dan sosial dan budaya.
Untuk memperjelas perbedaan pemaknaan oleh Luhut dan Ani, khususnya Ani, maka bisa disodorkan sedikitnya empat teori komunikasi. Pertama, teori semiotika komunikasi yang digagas Ferdinand de Saussure (Morissan, Teori Komunikasi: Individu hingga Massa, 2013 dan Alex Sobur, Semiotika Komunikasi).
Kedua, teori interaksi simbolik yang dibangun George Herbert Mead (Morissan, Teori Komunikasi: Individu hingga Massa dan Alex Sobur, Semiotika Komunikasi). Ketiga, teori logika pesan yang dikembangkan Barbara O'Keefe (Morissan, Teori Komunikasi: Individu hingga Massa). Keempat, teori simbol yang diciptakan Susanne Langer (Morissan: Teori Komunikasi: Individu hingga Massa).

Banyak ahli komunikasi meyakini bahwa pemaknaan terhadap pesan komunikasi sangat bergantung pada situasi dan peristiwa komunikasi baik sebelum, saat, maupun setelah komunikasi terjadi.

- -

Teori yang digagas Saussure menekankan pada sign (tanda), signifier (petanda/pemberi tanda), dan significance/signified (pertanda/maksudnya). Mead menegaskan pada tiga konsep penting, yakni masyarakat, diri, dan pikiran. O'Keefe memiliki kecenderungan tentang logika dalam merancang pesan berdasarkan logika ekspresif, konvensional, dan retorika.
Langer menyebutkan, simbol adalah instrumen pikirkan. Dunia fisik dan sosial kita diarahkan berdasarkan melalui simbol dan maknanya. Langer berpandangan, makna hadir karena hubungan yang kompleks di antara simbol, objek, dan orang.
Tiga logika yang digagas O'Keefe, jika disatukan menjadi komunikasi sebagai cara mengekspresikan diri, untuk menyatakan perasaan dan pikiran, dilakukan menurut aturan dan norma, dan dengan mengubah aturan melalui negosiasi.
Menurut O'Keefe, pada situasi tertentu pesan akan cenderung sama, tapi saat situasi lain maka pesan akan menjadi berbeda. Pesan yang berbeda tersebut disebut O'Keefe sebagai keragaman pesan (message diversity).
Mead melihat masyarakat terdiri atas jaringan interaksi sosial di mana anggota masyarakat memberikan makna terhadap tindakan mereka sendiri dan tindakan orang dengan menggunakan simbol. Bagi Mead, isyarat tubuh yang memiliki makna bersama disebut sebagai simbol signifikan (significant symbol).
Dalam interaksi simbolik, orang mengartikan dan menafsirkan gerak-gerik orang lain dan bertindak sesuai dengan arti dari simbol-simbol yang dipahami dan dimengerti maknanya.
Jika melihat tindakan Lagarde mengacungkan dua jari --telunjuk dan jari tengah-- membentuk huruf 'V' pada kedua tangannya, boleh dibilang sebenarnya terjadi secara spontan dan natural. Tidak ada yang salah dari komunikasi nonverbal yang dilakukan Lagarde.
Sri Mulyani bersama Luhut Pandjaitan (Foto: Antara/M Agung Rajasa)
Hanya saja Ani dengan didukung Luhut memaknai lain atas pesan simbolik Lagarde. Ani dan Luhut memberikan sugesti agar Lagarde membuat pesan nonverbal baru dengan mengacungkan satu jari --jari telunjuk-- mulanya tersirat. Tapi di bagian akhir video Ani menyampaikan pesan verbal atas makna simbol satu dan dua jari, yang menjadi pesan tersurat.
Bila Lagarde secara spontan, maka Ani dan Luhut cenderung dengan sengaja merespons dan menyampaikan pesan komunikasi (pesan kedua, ketiga, dan keempat di atas tadi).
Boleh dibilang, Ani dan Luhut memiliki makna berbeda atas pesan nonverbal Lagarde. Musababnya Ani dan Luhut seolah melihat pesan tersebut dari lensa dan sudut pandang berbeda. Interpretasi Ani dan Luhut, disertai pemaknaan terakhir di bagian akhir, berupa penjelasan Ani menuntun pada konteks yang 'lebih sempit'. Konteks ini yakni kontestasi politik di Indonesia.
Pertanyaannya, mengapa Ani dan Luhut, khususnya Ani, memaknai berbeda simbol dua jari --telunjuk dan jari tengah-- membentuk huruf 'V' yang dilakukan Lagarde? Apa referen atau rujukan yang dipakai Ani?
Saya menilai ada tiga hal pesan-pesan komunikasi yang disampaikan Ani dengan didukung Luhut ke Lagarde. Pertama, Ani menyadari saat ini di Indonesia sedang berlangsung kontestasi politik dalam rangkaian Pemilu Presiden (Pilpres) 2019.
Kedua, Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebelumnya telah menetapkan nomor urut pasangan calon presiden-calon wakil Presiden dalam gelaran Pilpres 2019. Pasangan Jokowi-K.H. Ma'ruf Amin mendapat nomor urut satu, sedangkan pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno memperoleh nomor urut dua.
Ketiga, kemungkinan bisa saja menyadari dan berjaga-jaga jika foto dengan simbol dari Lagarde beredar, maka setelah itu akan ada meme menggunakan foto tersebut. Misalnya, simbol dua jari Lagarde dibuat meme sebagai bentuk dukungan Lagarde terhadap pasangan nomor urut dua.
Artinya, pemaknaan secara 'sempit' atas simbol 'satu jari' dan 'dua jari' oleh Ani jelas sekali bermula dari rasa terhadap realitas (sense of reality) yang terjadi di Indonesia.
Langkah Ani menjadikan 'satu jari' dan 'dua jari' sebagai simbol signifikan dengan mendasari pada kejadian dan peristiwa yang telah, sedang, dan akan berlangsung di Indonesia terkait dengan Pilpres 2019, boleh dibilang sebagai kecorobohan yang harusnya tidak perlu ada.
Christine Lagarde. (Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan)
Seandainya Ani menyampaikan pesan saat itu berisi larangan, imbauan, atau ajakan kepada Lagarde dan Luhut --misalnya 'jangan dua, jangan satu, not two, not one, let's five'-- maka mungkin ceritanya akan lain. Apalagi ketika sesi foto dimulai, Ani lebih dulu mengacungkan lima jari kedua tangannya.
Keterkejutan Lagarde dengan menyatakan "Oooh" adalah sebuah bentuk kesadaran akan makna bersama 'dua jari' dan 'satu jari' dengan gelaran Pilpres 2019 di Indonesia. Gerak tubuh berupa senyum, tepuk tangan, dan tawa dari Lagarde pun bisa disebut sebagai bentuk kesadaran itu.
Tapi yang harus digarisbawahi, sejak menyampaikan pesan nonverbal dua jari hingga satu jari, perempuan yang memiliki nama lengkap Christine Madeleine Odette Lagarde ini tentu tidak ada preferensi apapun. Utamanya terhadap kontestasi dan perhelatan politik di Indonesia.
Secara psikologis pesan nonverbal yang disampaikan Lagarde pun pasti tidak ada tujuan mempengaruhi orang-orang atau rakyat Indonesia.
Pemaknaan Politik
Jokowi-Ma'ruf dan Prabowo-Sandi di pengundian dan penetapan nomor urut pasangan calon presiden dan wakil presiden pemilihan umum tahun 2019 di KPU. (Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan)
Dalam sistem komunikasi massa sedikitnya ada tujuh komponen (M. Burhan Bungin, Sosiologi Komunikasi: Teori, Paradigma, dan Diskursus Komunikasi di Masyarakat, 2013). Tiga di antaranya, narasumber sebagai sumber informasi, publik yang mengonsumsi media massa, dan media massa (meliputi organisasinya, sumber daya manusia, kebijakan, ideologi, dan seterusnya).
Dari sisi pemberitaan media massa, maka setiap pesan berbentuk berita yang ditayangkan, disiarkan, dan/atau diterbitkan media massa adalah milik publik. Karenanya publik juga adalah penerima pesan. Ditambah lagi saat ini berita media massa kemudian menjadi viral di jagat maya.
Pada akhirnya publik di dunia nyata maupun masyarakat maya (cyber community) Indonesia ada yang menerjemahkan dan memaknai berbeda setiap pesan dalam setiap berita.
Satu pesan baru yang tercipta dari pesan-pesan yang disampaikan Lagarde, Ani, dan Luhut seperti yang saya sebutkan di atas, kemudian diterjemahkan dan dimaknai dengan pemaknaan politik oleh sejumlah kalangan setelah menyaksikan berita yang ditayangkan media massa.
Dengan kata lain, pesan-pesan yang disampaikan Ani dan Luhut atau di balik Luhut dan Ani, dipandang sebagai pesan politik. Pemaknaan oleh sejumlah pihak itu tentu punya rujukan atau acuan.
Titik pijak pemaknaan politik atau pesan politik tersebut bisa dilihat dari pernyataan berupa penjelasan Ani ke Lagarde, "Two is for Prabowo, one is for Jokowi".

Titik pijak pemaknaan politik atau pesan politik tersebut bisa dilihat dari pernyataan berupa penjelasan Ani ke Lagarde, 'Two is for Prabowo, one is for Jokowi'.

- -

Menurut saya, ada beberapa rujukan makna pesan politik tersebut bisa hadir.
Pertama, pada Jumat, 21 September 2018, malam Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menetapkan urut pasangan calon presiden-calon wakil Presiden dalam gelaran Pilpres 2019. Pasangan Jokowi-K.H. Ma'ruf Amin mendapat nomor urut satu, sedangkan pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno memperoleh nomor urut dua.
Kedua, Luhut dan Ani adalah dua menteri di era pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi)-M. Jusuf Kalla (JK). Luhut dikenal sebagai pendukung (utama) Jokowi sejak Pemilu Presiden (Pilpres) 2014 dengan membentuk 'Tim Bravo 5', meski kini secara struktural Luhut tidak masuk dalam Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin dalam gelanggang Pilpres 2019.
Ketiga, Ani sempat diusulkan masuk dalam jajaran Dewan Pengarah TKN Jokowi-Ma'ruf Amin saat pendaftaran TKN ke KPU pada Senin, 20 Agustus 2018. Sehari berselang, mantan Direktur Pelaksana World Bank ini mengundurkan diri karena ingin fokus pada tugasnya sebagai Menteri Keuangan.
Meminjam pernyataan Alex Sobur, bahasa apapun tidak terkecuali pembicaraan politik, merupakan saling pengaruh yang kaya di antara lambang signifikasi atau lambang yang mudah dilihat. Baik diskursif (secara logis atau sesuai nalar) maupun nondiskursif.
Setelah video atas bagian akhir Annual Meetings IMF-World Bank Group 2018 saat sesi pemotretan dan situasi komunikasi yang terjadi itu, Luhut kemudian memberikan penjelasan tambahan. Menurut Luhut, simbol 'satu jari' bermakna Indonesia nomor satu.
Sedangkan ketika itu Lagarde menyebutkan, simbol 'dua jari' bermakna victory (kemenangan atau kejayaan).
"Oh, itu kan saya bilang Indonesia nomor satu. Kan dia yang bilang, jadi saya bilang begini (angka satu). Dia bilang victory, different, terus dia jadi (angka satu). Ha-ha-ha-ha, jadi kita ketawa lepas," ungkap Luhut di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman pada Selasa, 16 Oktober 2018.
Advokat Dahlan Pido (kiri) dan M. Taufiqurrahman (kanan) yang bertindak sebagai masyarakat menunjukkan barang bukti saat melapor ke Bawaslu terkait dugaan keberpihakan Luhut Binsar Panjaitan dan Sri Mulyani. (Foto: Jamal Ramadhan/kumparan)
Pemaknaan politik atau pesan politik rupanya ditindaklanjuti dengan pelaporan terhadap Ani dan Luhut ke Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu). Hanya saja makna tersebut dikonstruksikan dan ditambahkan dengan memasukan unsur dugaan atau indikasi 'kampanye terselubung'.
Di tempat berbeda, yakni Hotel Ritz Carlton, Kuningan, Jakarta Selatan, pada Sabtu, 20 Oktober 2018, Luhut tetap menyampaikan penjelasan yang hampir sama disertai sedikit tambahan. Menurut Luhut, yang terjadi saat itu bukanlah kampanye. Meski demikian Luhut tidak mempermasalahkan dirinya dan Ani dilaporkan ke Bawaslu.
Untuk tulisan ini, saya tidak mau terlalu jauh menilai apakah pesan-pesan yang disampaikan Luhut dan Ani di atas tadi sebagai 'kampanye terselubung' atau tidak.
Biarlah Bawaslu yang menilai dan memeriksanya. Apalagi acuan tentang kampanye sudah tertuang jelas dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum dan/atau Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) Nomor 23 Tahun 2018 tentang Kampanye Pemilihan Umum.
Makna Sebenarnya
com-selfie (Foto: Thinkstock)
Dua jari --telunjuk dan jari tengah-- yang membentuk huruf 'V' dari Lagarde adalah sign (tanda), Lagarde sebagai signifier (pemberi tanda), dan yang masih kurang adalah significance (pertanda/maksudnya).
Guna mencapai significance maka kiranya perlu melihat dari sosok Lagarde dan peristiwa dalam forum Annual Meetings IMF-World Bank Group 2018 sebelum video tadi terjadi.
Lagarde adalah sosok asal dan kelahiran Prancis. Karenanya significance simbol dua jari ('V') bisa disorot dari sisi psikologis, universal, dan sosial-budaya Lagarde. Lagarde menyadari bahwa baik masyarakat Eropa maupun masyarakat dunia memaknai simbol dua jari membentuk huruf 'V' ada dua. Pertama, peace (perdamaian). Kedua, victory (kemenangan atau kejayaan).
Desmond Moris dan kawan-kawannya di Inggris (1979) menemukan dan mengidentifikasi 20 tanda atau isyarat penting yang dipergunakan di masyarakat Eropa (Alex Sobur, Semiotika Komunikasi). Satu di antaranya jari tangan membentuk huruf 'V'. Menurut Moris dkk, gerakan atau isyarat jari tangan membentuk 'V' tidak asing bagi kita.
Selain itu di sejumlah negara, dalam kondisi perfotoan baik secara sendiri maupun bersama, dua jari ('V') hanyalah isyarat atau simbol ekspresi natural saat berfoto. Karena itulah di berberapa bagian tulisan ini saya menyebut Lagarde hanya spontan dan natural.
Bicara tentang spontanitas ini, tentu punya kemiripan dengan simbol dua jari mahasiswa yang sedang berfoto dengan Jokowi dan diperbaiki anggota Paspampres beberapa waktu lalu, yang videonya juga sempat viral dan mendapat tanggapan beberapa kalangan.
Makna dan maksud simbol dua jari Lagarde juga bisa dilihat dari pidato Lagarde dan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) saat pembukaan Annual Meetings IMF-World Bank Group 2018. Saya ingin mengambil garis besar saja dari pidato dan sambutan Lagarde dan Jokowi.

Di sejumlah negara, dalam kondisi perfotoan baik secara sendiri maupun bersama, dua jari ('V') hanyalah isyarat atau simbol ekspresi natural saat berfoto.

- -

Lagarde menekankan, Forum Annual Meetings IMF-World Bank Group 2018 merupakan sebuah langkah untuk berbagi ide, bekerja bersama, bergandengan tangan, dan saling membantu dalam membangun sistem perdagangan global yang lebih baik serta menciptakan ikatan persatuan dan persahabatan yang kuat antar manusia dan bangsa-bangsa.
Lagarde menegaskan, para anggota IMF-World Bank Group mestinya menjamin kompetisi yang efektif supaya menghindari dominasi pasar yang berlebihan. Karenanya dalam forum ini menyodorkan 'multilateralisme baru'.
Guna mengatasi ketimpangan dan kesenjangan yang terjadi, maka sangat diperlukan kerja sama yang utuh antara negara-negara di seluruh dunia, sektor swasta, donor, lembaga internasional, dan filantropis dalam membangun ekonomi global.
Dalam 'multilateralisme baru', maka harus lebih berorientasi pada orang, mengutamakan kebutuhan manusia, lebih efektif, dan bertanggung jawab guna memberikan hasil dan manfaat untuk semua.
Ravi Menon (Direktur Pelaksana Otoritas Moneter Singapura), Nor Shamsiah Mohd Yunus (Gubernur Bank Negara Malaysia), Perry Warjiyo (Gubernur Bank Indonesia), dan Veerathai Santiprabhob (Gubernur Bank Thailand) dalam diskusi kebijakan moneter di IMF-WBG 2018. (Foto: Helmi Afandi/kumparan)
Presiden Jokowi yang pertama memberikan pidato, menyampaikan banyak poin penting. Dalam pidatonya, Jokowi menyebutkan perekonomian dunia saat ini ibarat serial film Game of Thrones. Di antara yang ditekankan Jokowi, perlunya kebijakan moneter dan fiskal yang mampu menyangga dampak dari perang dagang, disrupsi teknologi, dan ketidakpastian pasar.
Jokowi berharap para pemangku kepentingan dari seluruh dunia yang hadir dalam forum ini dapat memperbaiki kondisi finansial global untuk kebaikan bersama.
Melihat sebagian atau seluruh isi pidato Lagarde dan Jokowi yang diberitakan media massa, maka bisa ditarik kesimpulan bahwa forum Annual Meetings IMF-World Bank Group 2018 dapat memberikan hasil dan manfaat untuk kebaikan dan kepentingan bersama masyarakat dunia, dengan persatuan antara negara-negara.
Hasil dan manfaat itu dalam kata lain adalah 'kejayaan' atau 'kemenangan' bersama dengan tetap memperkokoh persatuan dan persahabatan yang kuat antar-manusia dan bangsa-bangsa.
Karenanya merujuk acuan dua pidato tersebut, maka kiranya dapat disimpulkan significance dari simbol dua jari ('V') Lagarde adalah 'kejayaan' atau 'kemenangan' bersama masyarakat global dan negara-negara di dunia.

Merujuk pidato Jokowi dan Lagarde, maka kiranya dapat disimpulkan 'significance' dari simbol dua jari ('V') Lagarde adalah 'kejayaan' atau 'kemenangan' bersama masyarakat global dan negara-negara di dunia.

- -

Makna 'victory' di atas untuk simbol dua jari ('V') Lagarde tentu akan muncul sedikitnya dua pertanyaan. Apakah ini saya dasarkan juga pada penjelasan tambahan Luhut? Tidak sama sekali. Apakah juga untuk menegaskan pernyataan Luhut bahwa dua jari ('V') Lagarde bermakna 'victory' karena disampaikan Lagarde? Tidak juga.
Musababnya saat sesi foto dengan mikrofon yang masih menyala, Lagarde tidak menyebutkan kata 'victory'. Bahkan gerak bibir Lagarde tidak menunjukkan kata itu.
Untuk mendapatkan penjelasan atas makna sebenarnya dua jari membentuk huruf 'V' pada kedua tangan Lagarde, hakikatnya tidak terlalu sulit. Hal tersebut bisa ditanyakan langsung ke Lagarde. Karena dia adalah penyampai pesannya (komunikator).
Sayangnya saat forum yang terekam dalam video tersebut, Lagarde tidak memberikan penjelasan atas makna simbol dua jari ('V'). Atau, baik Luhut dan maupun Ani pun tidak memberikan kesempatan kepada Lagarde menjelaskannya. Bahkan sesaat setelah acara dan sebelum meninggal lokasi, Lagarde turut tidak menjelaskan makna simbol itu.
Betapapun adanya setiap pesan komunikasi selalu saja menarik untuk dilihat, dimaknai, dan ditafsirkan. Karena setiap komunikasi yang terjadi tidak hadir dalam ruang hampa.

Betapapun adanya setiap pesan komunikasi selalu saja menarik untuk dilihat, dimaknai, dan ditafsirkan. Karena setiap komunikasi yang terjadi tidak hadir dalam ruang hampa.

- -


Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2018 © PT Dynamo Media Network
Version: web: