kumparan
8 Maret 2019 16:12

Rocky Gerung, Ambulans, dan Teknik Bersiasat

Rocky Gerung didampingi Said Didu di Bandara Banyuwangi
Rocky Gerung (tengah) didampingi Said Didu (kanan) saat menunggu di Bandara Banyuwangi. Foto: Dok. Said Didu
Dalam berbagai kesempatan, saya gunakan teknik bersiasat dalam mencari solusi terhadap permasalahan mendesak. Yang terbaru adalah bersiasat saat mencari solusi untuk menghindari terjadinya persekusi acara seminar atau kuliah umum di Universitas Muhammadiyah Jember (UMJ) bersama Pak Rocky Gerung, tanggal 7 Maret 2019.
ADVERTISEMENT
Pada dasarnya, teknik bersiasat adalah upaya mencari solusi tanpa merepotkan atau mempermalukan pihak lain, namun tidak mengurangi harkat dan martabat yang kita miliki.
Seperti kita ketahui, bahwa sehari sebelum acara, terjadi penolakan secara terbuka dan terkesan sangat arogan terhadap acara tersebut. Setelah ditelusuri, ternyata dilakukan oleh salah satu caleg partai Hanura. Bahkan dari video yang beredar, keluar kata-kata kasar yang mengancam pimpinan UMJ dan pihak lain yang melaksanakan acara tersebut.
Sebelumnya, kami memang merencanakan dialog, seminar, dan talk show di tiga tempat di Jawa Timur, yaitu Banyuwangi, Jember, dan Lumajang. Agar menjadi efektif, kami memilih penerbangan subuh dari Jakarta menuju Banyuwangi. Saat mendarat, kami mendapat informasi bahwa acara di Banyuwangi batal karena tidak ada pihak yang "bersedia" lokasinya jadi tempat acara dengan berbagai “alasan”.
Rocky Gerung (kemeja putih, kedua dari kanan)
Rocky Gerung (kemeja putih, kedua dari kanan) Foto: istimewa
ADVERTISEMENT
Acara kuliah umum di UMJ pada 7 Maret 2019 masih belum pasti karena kondisi di lokasi masih tegang. Laporan dari panitia menyatakan bahwa ratusan aparat dikerahkan di lokasi sejak pagi dan massa sudah berdatangan. Acara yang dinyatakan aman dan kondusif adalah acara di Lumajang.
Kami bertiga sekitar dua jam berada di Bandara Banyuwangi untuk memikirkan solusi agar acara di Jember tetap harus berjalan. Acara di UMJ ini kami anggap penting karena menjadi simbol masih tegaknya demokrasi dan masih dilindunginya hak-hak berpendapat di negeri ini.
Kami memiliki tiga alternatif solusi untuk acara di Jember: pertama, membatalkan acara di Jember; kedua, naik helikopter dari Banyuwangi ke Jember; dan ketiga, menggunakan mobil lewat jalur darat.
ADVERTISEMENT
Alternatif pertama kami tidak pilih atas pertimbangan: 1) demokrasi tidak boleh mati di negeri ini; 2) kebebasan berpendapat harus ditegakkan; 3) ribuan peserta sudah berada di lokasi kampus UMJ.
Alternatif kedua tidak dipilih karena kalau menggunakan helikopter, akan mengundang kerumunan massa dan merepotkan pihak kepolisian jika ada massa yang kontra mengadang di lapangan.
Akhirnya kami memilih alternatif ketiga: menggunakan mobil lewat darat dari Banyuwangi ke Jember.
Karena belum sarapan, setelah mendapat mobil, kami mencari tempat sarapan. Seperti biasa, di tempat sarapan banyak yang meminta untuk foto bersama Pak Rocky Gerung. Saat masih sarapan saya membuka medsos, ternyata keberadaan kami serta kesiapan berangkat ke Jember sudah muncul di medsos, maka buru-buru kami segera bergerak. Sarapan Pak Rocky Gerung tidak selesai. Bahkan teh hangat yang dipesan tidak sempat dihabiskan. Karena beliau dan saya sedang flu, maka saya berbagi obat flu sebelum naik mobil agar bisa tidur di mobil. Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim kami berangkat. Saat di mobil, kami tanya apakah bahan bakar cukup? Dijawab bahwa kalau tidak ada masalah di jalan, insyaallah cukup. Kami berdua tertidur di mobil, sementara teman kami Pak Laode terus berkomunikasi dengan panitia di Jember.
ADVERTISEMENT
Betul juga, kami harus mencari SPBU yang menyediakan solar karena mobil yang kami tumpangi menggunakan bahan bakar solar.
Saat selesai isi bahan bakar, kami tanya ke Pak Laode, beliau menyatakan kondisi lapangan belum kondusif tapi massa sudah ribuan.
Kami putuskan untuk tetap sampai ke lokasi demi menyelamatkan demokrasi dan menegakkan kebebasan berpendapat.
Kami diberikan dua alternatif: Pertama, cukup bertemu pimpinan UMJ dan berfoto bersama, atau tetap orasi di depan massa di Aula UMJ. Keputusan kami, yang penting adalah bagaimana cara tiba di lokasi. Nanti baru kita putuskan di lokasi.
Hal yang kami hindari adalah bertemu dengan aparat dalam perjalanan dan dilarang menuju lokasi dengan alasan demi keamanan. Ini kami waspadai karena pengalaman selama ini di berbagai tempat, justru pembicara yang ingin tegakkan demokrasi yang dilarang datang dan bukan yang menghalangi kebebasan berpendapat yang dilarang mengganggu.
(NOT COVER) Rocky Gerung, Said Didu
Rocky Gerung (kiri) bersama Said Didu di dalam mobil Ambulance. Foto: Dok. Said Didu
Sambil berjalan, dari Google Maps, saya cek jaraknya sekitar 8 kilometer lagi menuju lokasi acara. Dikatakan bahwa ada panitia di sekitar tempat kami berada yang menuju lokasi dengan menggunakan ambulans. Saat itu kami putuskan pindah ke ambulans karena kami perkirakan kalau pake mobil biasa kemungkinan akan diadang dan tidak bisa sampai lokasi serta akan merepotkan aparat keamanan.
ADVERTISEMENT
Kami pindah ke ambulans dalam hitungan detik sampai tangan saya terjepit pintu.
Kami bertukar mobil dengan panitia yang sebelumnya menumpang di ambulans. Mobil kami ditumpangi oleh orang lain yang sebelumnya ada di ambulans lewat jalur normal.
Kami memilih jalan tikus tanpa pernah membunyikan sirene.
Perjalanan sekitar 20 menit kami tiba lewat pintu belakang sementara mobil kami lewat pintu depan dan informasinya mobil kami dikerumuni massa dan tentunya dicek oleh aparat keamanan, tapi kami tidak ada dalam mobil tersebut.
Karena masih memungkinkan kami masuk ruang acara di Aula UMJ. Ternyata massa masih penuh. Demi menjaga agar tidak terjadi sesuatu, pihak UMJ langsung mempersilahkan Pak Rocky Gerung bicara di hadapan massa yang tetap menunggu sejak jam 08.00. Kami tiba sekitar jam 12.00. Pak Rocky Gerung hanya bicara sekitar 15 menit dan saya bicara hanya sekitar 5 menit. Selesai acara kami ke ruangan pimpinan UMJ tempat mereka diancam sehari sebelumnya.
ADVERTISEMENT
Walau sedang lapar kami hanya sempat makan pisang yang disuguhkan oleh panitia dan meminta izin membawa pisang ke mobil untuk kami makan di mobil. Kami langsung menuju ke mobil dan segera keluar dari lokasi kampus UMJ.
Kami sempat melambaikan tangan tanda terima kasih kepada aparat atas keamanan yang diberikan sehingga acara bisa berlangsung walau sangat singkat.
Saya sempat teriak kecil di mobil terima kasih ya Allah atas perlindungannya.
Juga sempat berdoa semoga ini yang terakhir terjadi di negeriku ini, sehingga demokrasi dan kebebasan berpendapat tetap tegak.
Kami menuju Lumajang, perjalanan sekitar sejam. Alhamdulillah kami diterima di rumah dinas Wakil Bupati Lumajang dan disiapkan makan siang.
Kami menyantap soto dan rujak cingur yang sangat enak karena memang sedang lapar. Kami semua kembali bergembira.
ADVERTISEMENT
Acara di Lumajang sangat kondusif dan berlangsung selama 2 jam (jam 15.00-17.00). Setelah itu kami menuju Bandara Juanda kembali ke Jakarta dengan kondisi baik. Pak Rocky Gerung terkapar di pesawat sampai penumpang turun pun belum bangun karena saat mau naik pesawat saya berbagi lagi obat flu.
Artinya siasat yang kami gunakan saat itu, termasuk memilih naik mobil ambulans, adalah untuk mendapatkan solusi agar tujuan tercapai tanpa merepotkan pihak lain, termasuk aparat keamanan.
Jakarta, 8 Maret 2019
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan